Menu ✖

Mode Gelap
Tiket KA Keberangkatan 1 Desember 2026 Mulai Dijual 1 November, KAI Terapkan GAPEKA Baru Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina BRSN DPP PKS Kunjungi Tiga Provinsi di Pulau Jawa, Perkuat Konsolidasi dan Program Join PKS Denny Sambangi PKS, Putusan MK dan MA Jadi Sorotan Baru dalam Desakan Pemakzulan Gibran KM Dorolonda Singgah Perdana di Pelabuhan Donggala Sulteng

RAGAM

Film Horor Korea Dinilai Unggul dalam Story Telling dan Ekosistem, Produser Indonesia Dorong Kolaborasi dan Kualitas Lokal

badge-check


 Film Horor Korea Dinilai Unggul dalam Story Telling dan Ekosistem, Produser Indonesia Dorong Kolaborasi dan Kualitas Lokal Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Film horor Korea Selatan semakin mendapat tempat di hati penonton Indonesia. Tidak hanya karena popularitas aktor dan aktrisnya, tetapi juga karena kekuatan cerita, kualitas produksi, serta dukungan ekosistem industri yang matang. Hal ini terungkap dalam diskusi perfilman yang menghadirkan produser, penulis, dan pengamat film yang membahas perkembangan film horor Asia, khususnya Korea dan Indonesia.

Salah satu sutradara film horor Indonesia yang telah berkarya sejak awal 2000-an menjelaskan, film horor Korea mampu memaksimalkan keterbatasan produksi menjadi kekuatan visual dan cerita. Bahkan, dengan lokasi terbatas seperti apartemen dan waktu syuting yang relatif singkat, film horor Korea tetap mampu menghadirkan kualitas yang kuat.

“Kadang setting-nya sederhana, misalnya hanya di satu apartemen, tetapi kekuatan cerita dan penggarapan visual membuat film itu tetap terasa mahal dan berkualitas. Mereka mampu mengemas produksi secara efektif,” ujar Nanang Istiabudi sutradara film Terowongan Casablanca ini

Menurutnya, film horor Korea tidak hanya mengandalkan unsur supranatural, tetapi juga menggali sisi psikologis dan urban legend yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Cerita tentang arwah yang belum menyelesaikan persoalan hidup menjadi tema yang sering diangkat dan dinilai relevan dengan budaya Asia, termasuk Indonesia.

“Konsep arwah yang masih memiliki urusan yang belum selesai itu sangat dekat dengan budaya kita. Itu yang membuat film Korea terasa relatable bagi penonton Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, popularitas budaya Korea atau Korean Wave juga memperkuat penetrasi film Korea di Indonesia. Banyak aktor Korea memiliki basis penggemar yang besar, sehingga film yang mereka bintangi lebih mudah menarik perhatian penonton.

Herty Purba, Produser Heart Pictures juga menyoroti dukungan ekosistem perfilman Korea yang sangat kuat, mulai dari kemudahan akses lokasi syuting hingga dukungan lembaga yang membantu proses produksi. Beberapa lokasi seperti kampus, rumah sakit, dan area publik dapat digunakan sebagai tempat syuting dengan dukungan institusi terkait.

“Ekosistem mereka sangat mendukung. Ada lembaga yang membantu produksi, mempermudah akses lokasi, bahkan mendukung kolaborasi internasional. Ini sangat membantu produser dalam mewujudkan visi kreatif,” katanya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara Indonesia dan Korea menjadi peluang besar untuk meningkatkan kualitas film nasional. Dalam beberapa proyek, tim produksi mencoba menggabungkan unsur budaya Indonesia dengan pendekatan produksi Korea, termasuk menghadirkan karakter dan elemen budaya Indonesia dalam cerita.

“Kita mencoba memasukkan unsur Indonesia, baik dari karakter, budaya, maupun pendekatan cerita, agar tetap memiliki identitas lokal,” ujar Produser Tolong Saya ini

Meski demikian, ia mengakui industri film horor Indonesia memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga kualitas di tengah tingginya jumlah produksi. Dari ratusan film horor yang diproduksi setiap tahun, hanya sebagian kecil yang mampu mencapai jumlah penonton signifikan.

“Produksi film horor sangat banyak, tetapi yang benar-benar berhasil secara kualitas dan jumlah penonton tidak banyak. Karena itu, penting untuk lebih selektif dalam memilih cerita dan meningkatkan kualitas produksi,” Ujar Toto Hoedy sutradara film Gerbang Setan ini.

Ia menegaskan bahwa kekuatan utama film horor tetap terletak pada cerita. Tanpa story telling yang kuat, film horor hanya menjadi tontonan sesaat tanpa dampak yang mendalam bagi penonton.

“Cerita adalah fondasi utama. Visual dan efek penting, tetapi tanpa cerita yang kuat, film tidak akan bertahan lama di ingatan penonton,” ujarnya.

Para pelaku industri berharap ke depan film horor Indonesia tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga mampu bersaing secara kualitas di tingkat internasional. Dengan kekayaan budaya dan mitologi lokal, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan baru dalam industri film horor global.

“Indonesia punya kekayaan cerita yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan kualitas produksi dan storytelling yang kuat agar bisa bersaing di pasar dunia,” tutup Toto Hoedy.*** (Buyil)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

FIFGROUP Raih 2 Penghargaan dalam Ajang Indonesia Corporate Sustainability Initiatives 2026

31 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Perayaan Ulang Tahun Panglima Langit Bareng Anak Yatim-piatu serta Perayaan Maulid Nabi Muhammad 

31 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

PSM Peduli Gandeng PMI Jakarta Utara, Perkuat Kepedulian Sosial dan Kebermanfaatan BUMN Berkelanjutan

30 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Management Walkthrough Dorong Optimalisasi Pengawasan dan Perluasan Area Kerja di Surabaya

30 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Dorong Green Port, Terminal Teluk Lamong Datangkan Alat Bongkar Muat Bertenaga Listrik

30 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA