Wartatrans.com, TAKENGON — Harga kopi Gayo mulai kembali normal setelah sempat anjlok akibat longsor dan banjir yang melanda wilayah Takengon dan Kabupaten Bener Meriah pada akhir November 2025. Sejak bencana terjadi pada 27 November lalu, aktivitas jual beli kopi sempat tersendat akibat terputusnya akses jalan dan hujan deras yang berlangsung terus-menerus.
Kondisi tersebut membuat harga green bean kopi Gayo turun tajam hingga berada di kisaran Rp 90 ribu per kilogram di tingkat petani. Banyak petani tidak dapat pergi ke kebun karena jalan rusak, sementara kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) turut memperparah situasi di lapangan.


Kopi Gayo, cita rasa terbaik.
Tak hanya petani, para prosesor kopi Gayo juga menghadapi kendala serius. Curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pascapanen tidak berjalan optimal. Sejumlah kopi dilaporkan rusak, baik di tingkat petani maupun di gudang penyimpanan.
Padahal, sebelum bencana longsor dan banjir terjadi, harga kopi Gayo sempat mencetak rekor tertinggi. Green bean kopi Gayo kala itu menembus harga Rp 160 ribu per kilogram di tingkat petani.
Memasuki awal Januari 2026, harga kopi Gayo mulai menunjukkan tren pemulihan. Pada Jumat, 3 Januari 2026, harga green bean di tingkat petani dilaporkan telah mencapai Rp 140 ribu per kilogram.
Seorang petani sekaligus pelaku pengolahan kopi Gayo memperkirakan harga masih berpotensi naik. Menurut dia, panen kopi saat ini semakin menipis, sementara permintaan terhadap kopi Gayo terus meningkat. “Kemungkinan besar harga akan terus naik,” ujarnya.*** (Kamaruzzaman)

Gerai kopi Gayo di Takengon.









