Wartatrans.com – TAKENGON, 3/6/ 2026
Di ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut, terbentang hamparan air biru yang menjadi nyawa seluruh masyarakat dataran tinggi Gayo: Danau Lut Tawar. Di bawah permukaan airnya yang dingin dan jernih, alam telah menyimpan sebuah rahasia agung selama ribuan tahun. Sebuah makhluk kecil berwarna perak, lahir dan beradaptasi khusus untuk wilayah ini, yang secara ilmiah dan geografis tidak ditemukan di belahan bumi manapun lagi di seluruh dunia. Namanya adalah IKAN DEPIK (Rasbora tawarensis), harta karun sejati milik Indonesia, warisan dunia yang kini terancam hilang selamanya.
Keistimewaan Depik bukan sekadar cerita rakyat, melainkan fakta sah sejarah alam. Ikan ini hidup dan berkembang biak hanya di perairan yang bersuhu 13 hingga 14 derajat Celcius, kaya mineral, dan murni dari segala polusi. Ia tidak bisa dipindahkan, tidak bisa ditangkarkan di danau lain, dan tidak ada cadangan populasi di negara manapun. Ia ada karena Danau Lut Tawar ada, dan ia akan musnah jika danau ini rusak.
Sejarah mencatat betapa tingginya derajat ikan ini bagi masyarakat Gayo. Pada era tahun 1960 hingga 1970-an, Depik adalah urat nadi ekonomi. Saat itu, muncul istilah budaya yang sangat bernilai: “Penyangkulen” atau “Didisen”, (Tempat penangkapan ikan memakai Jaring) sebutan bagi wilayah-wilayah tertentu di pinggir danau yang merupakan hak milik khusus tempat penangkapan ikan. Siapa saja warga yang memiliki hak atas wilayah itu, dialah orang terpandang, disegani, dan tergolong kaya raya. Pasalnya, di tangan merekalah perputaran uang berjalan deras, berkat melimpahnya hasil tangkapan Depik yang saat itu menjadi komoditas bernilai tinggi yang dicari banyak orang.
Zafaruddin (69 tahun), seorang nelayan tradisional yang seumur hidupnya menggantungkan nasib di danau ini, masih mengingat jelas betapa megahnya masa keemasan itu. Di hadapan wartawan, matanya menerawang jauh ke tengah danau, seolah melihat kembali keramaian yang dulu ada.
”Dahulunya, ikan Depik ini mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan ton tangkapan dalam satu kali musim saja. Air danau ini dulu hidup, berisik, dan penuh gerombolan ikan kecil berwarna perak itu,” kenang Zafaruddin dengan nada haru.
Ia pun menceritakan tradisi unik yang kini mulai pudar. Musim kedatangan Depik selalu ditandai dengan angin kencang dan udara yang menusuk tulang, saat suhu turun drastis di titik terendah. Di masa itu, para pemuda Gayo kerap mempergunakan kain sarung yang dililitkan ke seluruh badan sebagai penahan dingin, rela berdiri dan menunggu berjam-jam di pinggir air, semata-mata demi mendapatkan rezeki alam yang melimpah ruah itu.
Namun, kemegahan masa lalu itu kini tinggal kenangan yang menyakitkan. Kenangan indah dan kekayaan berharga milik dunia ini kini berada di ujung tanduk. Kondisi Danau Lut Tawar semakin memprihatinkan. Air yang dulu bening bak kaca, kini berubah keruh, pekat, dan tertimbun lumpur tebal yang terus mengalir masuk dari kawasan hulu. Kerusakan hutan dan aktivitas liar manusia perlahan namun pasti mematikan rumah bagi satu-satunya ikan istimewa ini.
Perbandingannya sangat jelas dan menyakitkan. Berbeda dengan Kopi Gayo yang harum namanya di dunia, yang masih bisa ditemukan atau dibudidayakan di daerah lain maupun negara penghasil kopi lainnya, Depik sama sekali tidak memiliki tempat pelarian. Ia tidak punya rumah kedua. Ia tidak punya negara lain tujuan pindah.
”Kalau Depik punah di sini, mau dicari ke mana? Tidak ada. Kita sedang membiarkan kekayaan satu-satunya di dunia ini hilang selamanya di depan mata kita,” ungkap Zafaruddin, mewakili keprihatinan ribuan warga Aceh Tengah.
Pandangan senada datang dari Hermnasyah Aman Tona, seorang pemerhati lingkungan dan budaya yang telah lama menilai penting ikan ini bagi alam dan manusia. Menurutnya, kesadaran masyarakat harus ditingkatkan, bukan hanya untuk menyelamatkan ikan, tetapi untuk menyelamatkan aset termahal yang dimiliki bangsa ini.
Hermansyah menegaskan, Depik sejatinya memiliki syarat mutlak yang tidak dimiliki ikan manapun di dunia ini untuk dibanderol harga selangit dan menjadi ikan termahal dunia.
”Lihat fakta dasarnya: Depik itu TUNGGAL. Tidak ada duanya. Ikan mahal lain seperti Tuna Jepang atau Kaviar, masih bisa dicari atau dibudidayakan di tempat lain. Depik? Tidak ada cadangannya. Kalau kita jaga danau ini, hentikan kerusakan, kemas produknya dengan berkelas, dan promosikan ceritanya, harga Depik bisa jauh melampaui harga makanan mewah mana pun. Karena di dunia ini, tidak ada yang lebih mahal dari pada benda yang bertuliskan ‘SATU-SATUNYA’.”
Di akhir penjelasannya, Hermansyah menutup dengan satu kalimat sakti yang harus menjadi pesan abadi bagi siapa saja, baik di Aceh maupun di belahan dunia lain, yang pernah merasakan nikmatnya ikan maka dia pernah memakan ikan langka di dunia.***
(Basaruddin.BSG)



























