Menu

Mode Gelap
Ikan Depik, Kekayaan Endemik Danau Lut Tawar yang Terancam Punah Jelang Libur Sekolah, KAI Daop 1 Jakarta Ajak Guru dan Orang Tua Cegah Pelemparan Kereta Api: Bukan Kenakalan, Tetapi Tindak Pidana yang Mengancam Nyawa Catatan Halimah Munawir: Hari Jadi Bogor ke-544: Menelusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Sunda Patroli Malam Cipta Kondisi Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jaga Situasi Kamtibmas INACA Dorong Ekosistem Penerbangan Nasional Lebih Kompetitif Metro Jabar Trans, Menjawab Macet dan Hadapi Tantangan Keberlanjutan

Uncategorized

Ikan Depik, Kekayaan Endemik Danau Lut Tawar yang Terancam Punah

badge-check


 Ikan Depik, Kekayaan Endemik Danau Lut Tawar yang Terancam Punah Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON -– Di perairan Danau Lut Tawar, hidup satu spesies ikan endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, yakni ikan depok. Namun keberadaan ikan yang menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya masyarakat Gayo itu kini semakin terancam akibat menurunnya kualitas lingkungan danau.

Danau yang berada di dataran tinggi Gayo pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut tersebut menjadi satu-satunya habitat alami ikan Depik. Spesies ini hidup pada perairan bersuhu rendah dan memiliki karakteristik lingkungan yang sangat spesifik sehingga tidak dapat berkembang di wilayah lain.

Bagi masyarakat Gayo, Depik bukan sekadar ikan konsumsi. Pada era 1960-an hingga 1970-an, ikan ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat sekitar danau.

Saat itu dikenal istilah “Penyangkulen” atau “Didisen”, yakni kawasan tertentu di tepi danau yang menjadi hak khusus untuk menangkap ikan. Kepemilikan wilayah tersebut menjadi simbol status sosial karena hasil tangkapan Depik mampu memberikan pendapatan yang besar bagi pemiliknya.

Nelayan tradisional Danau Lut Tawar, Zafaruddin (69), mengingat masa ketika populasi Depik masih sangat melimpah.

“Dahulu hasil tangkapan bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton dalam satu musim. Danau ini penuh dengan gerombolan ikan Depik,” kata Zafaruddin saat ditemui di Takengon, Selasa (20/5/2026).

Menurut dia, musim kemunculan Depik biasanya ditandai dengan suhu udara yang lebih dingin dan angin kencang. Pada masa itu, masyarakat, khususnya para pemuda, rela menunggu berjam-jam di tepi danau untuk menangkap ikan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun kondisi tersebut kini berubah drastis. Air Danau Lut Tawar yang dahulu dikenal jernih mulai mengalami sedimentasi dan kekeruhan yang semakin meningkat.

Kerusakan kawasan hulu, berkurangnya tutupan hutan, serta berbagai aktivitas manusia dinilai menjadi faktor yang mempercepat penurunan kualitas habitat ikan Depik.

Zafaruddin menilai ancaman terhadap Depik jauh lebih serius dibandingkan komoditas khas Gayo lainnya.

“Kalau kopi masih bisa ditanam di banyak tempat. Tapi Depik hanya ada di Danau Lut Tawar. Kalau punah di sini, maka hilang untuk selamanya,” ujarnya.

Pemerhati lingkungan dan budaya Gayo, Hermansyah Aman Tona, mengatakan bahwa ikan Depik merupakan aset hayati yang memiliki nilai sangat tinggi karena statusnya sebagai spesies endemik.

Menurut dia, kelangkaan dan keunikan tersebut dapat menjadi nilai ekonomi besar apabila dikelola secara berkelanjutan, bersamaan dengan upaya pelestarian ekosistem danau.

“Depik adalah ikan yang tidak memiliki cadangan populasi di tempat lain. Keunikan itu menjadikannya sangat berharga. Namun syarat utamanya adalah habitatnya harus dijaga,” kata Hermansyah.

Ia menegaskan bahwa penyelamatan ikan Depik tidak hanya berkaitan dengan konservasi satu spesies, melainkan juga upaya menjaga warisan alam dan identitas budaya masyarakat Gayo.

Karena itu, berbagai pihak didorong untuk meningkatkan kesadaran dan memperkuat langkah-langkah pelestarian Danau Lut Tawar agar spesies endemik tersebut tetap bertahan bagi generasi mendatang.

“Jika Depik hilang, dunia kehilangan satu spesies yang hanya dimiliki Danau Lut Tawar. Karena itu, menjaga danau berarti menjaga warisan yang tidak tergantikan,” ujar Hermansyah.Catatan redaksi: Dalam gaya Kompas, kalimat-kalimat opini seperti “ikan termahal dunia”, “harta dunia”, atau “harga melampaui makanan mewah mana pun” sebaiknya disajikan sebagai pendapat narasumber, bukan sebagai fakta, kecuali diverifi dan kajian yang dapat diverifikasi.*** (Bassar/BSG/Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Catatan Halimah Munawir: Hari Jadi Bogor ke-544: Menelusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Sunda

3 Juni 2026 - 11:36 WIB

INACA Dorong Ekosistem Penerbangan Nasional Lebih Kompetitif

3 Juni 2026 - 11:05 WIB

Bupati Bener Meriah Ajak Warga Sukseskan Pemilihan Reje Serentak 2026

3 Juni 2026 - 03:26 WIB

DAMRI Raih TOP CSR Awards 2026, Penguatan TJSL Dinilai Selaras dengan Transformasi Transportasi Berkelanjutan

2 Juni 2026 - 23:31 WIB

FIFGROUP Hadirkan FIFestival Street Food 2026 untuk Dorong UMKM Binaan

2 Juni 2026 - 23:15 WIB

The Polonia Rilis Single “Lelah”, Tetap Berkarya dari Medan Setelah 17 Tahun Berkiprah

2 Juni 2026 - 21:58 WIB

Holding Kawasan Industri BUMN Perlu Diperkuat dengan Logistics Park dan Integrasi Multimoda

2 Juni 2026 - 21:15 WIB

ASDP Sukses Layani Mobilitas 804.195 Penumpang di Libur Panjang Idul Adha dan Hari Kesaktian Pancasila

2 Juni 2026 - 19:39 WIB

Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Sambut Positif Rencana Pameran “Ja Kartun” dalam Rangka HUT Jakarta

2 Juni 2026 - 18:25 WIB

Swadaya Warga Pulihkan Jembatan Enang Enang, Akses Jalan Nasional Kembali Terbuka

2 Juni 2026 - 17:19 WIB

Trending di RAGAM