Wartatrans.com, JAKARTA — Sosok Maryoko Aiko Atmodiningrat dikenal luas di dua dunia yang berbeda namun saling berkelindan: literasi dan industri kreatif. Semasa remaja, ia akrab disapa Mayoko Aiko, sementara di ranah periklanan ia mendapat julukan “Pangeran Aiko”.
Lahir di Kadipaten Wonogirenan pada Senin Kliwon, 16 Juni—yang diperkirakan bertepatan dengan periode 1388–1389 Hijriah berdasarkan perhitungan rukyatul hilal global—Aiko menapaki jalan kreatifnya sejak usia muda. Prinsip hidup “fastabiqul khairat” menjadi landasan dalam memanfaatkan waktu untuk berkarya.

Minatnya pada dunia tulis-menulis mulai terasah saat mengasuh majalah dinding di SMP Negeri 1 Manyaran. Dari sana, kemampuannya berkembang hingga menembus berbagai majalah remaja populer pada masanya, seperti HAI, GADIS, ANITA Cemerlang, ANEKA, dan STORY.
Tak hanya menulis, Aiko juga aktif membangun ruang belajar. Ia turut mendirikan sekolah gratis daring “Kelas Cendol” bersama Putra Gara dan Donatus A. Nugroho. Kelas ini ditujukan untuk melatih calon penulis muda, termasuk peserta yang tersebar hingga Singapura, Hong Kong, dan Australia.
Di bidang kepenulisan, sejumlah karyanya telah terbit, antara lain Rendezvous in Kiyomizu, Gaun-Gaun Kesunyian, 19 Jurus Mabul Penulis Sukstress, serta SUKER. Ia juga menulis buku kolaborasi Cinta di Antara Dua Pria bersama Putra Gara dan Reni Erina. Sementara itu, buku teknisnya yang diterbitkan Gramedia, Rahasia Penulis Hebat: Menciptakan Karakter Tokoh, menjadi salah satu rujukan bagi penulis pemula.
Kariernya di dunia periklanan dimulai sejak 1996. Dalam rentang waktu tersebut, Aiko terlibat dalam pengembangan berbagai merek, seperti Nusapage, Telkomnet Instan, Metropolitan Land, Bank Danamon, Sakatonik ABC, Promag, Kunyit Asam Sido Muncul, Bank BTN, Shimizu, Rinai, Bayer Cropscience, Susu Jahe Sido Muncul, Tolak Linu, hingga Tolak Angin.
Di ranah jurnalistik, ia ikut mendirikan Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) bersama Herry Budiman, Putra Gara, Sang Alang, dan Anwar Lamser. Organisasi ini menjadi wadah kolaborasi bagi para jurnalis dari berbagai latar belakang.
Kegemarannya bepergian turut memberi warna pada karya-karyanya. Antara 2012 hingga 2017, Aiko menjelajahi sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat. Pengalaman tersebut menjadi latar bagi novel thriller bertajuk Putri Duta Besar, yang mengangkat tema petualangan, cinta, mafia perdagangan manusia, dan dunia intelijen. Sebagian cerita ditulis saat ia berada di Praha, Ceko, kawasan yang dikenal dengan sebutan Bohemia.
Melalui lintasan panjang di dunia tulis-menulis, periklanan, dan jurnalistik, Maryoko Aiko Atmodiningrat menunjukkan konsistensinya sebagai pekerja kreatif yang terus bergerak di berbagai medium.*** (Daus)




























