Wartatrans.com, MEMPAWAH — Di tengah meroketnya pembangunan kota-kota besar dan kemajuan teknologi yang terus digaungkan pemerintah, kisah berbeda justru datang dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Mempawah. Para pelajar di Desa Ansiap, Kecamatan Sadaniang, setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan demi bisa berangkat sekolah akibat jembatan utama di desa mereka rusak parah dan tak lagi dapat digunakan.
Jembatan yang selama ini menjadi satu-satunya akses warga menuju sekolah mengalami kerusakan berat. Kayu penyangga rapuh, sebagian patah, dan permukaan jembatan tampak membusuk. Kondisinya dinilai sangat berbahaya sehingga warga sepakat untuk tidak lagi memanfaatkannya.

Sejak saat itu, perjalanan para pelajar menuju sekolah harus melalui jalur alternatif: menyeberangi sungai. Kondisi sungai pun tidak menentu, terkadang air hanya sedalam lutut, namun bisa mencapai pinggang bahkan berubah menjadi arus deras ketika musim hujan tiba.
Dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial, tampak para pelajar menggulung celana, memegang tas dan buku erat-erat agar tidak basah, sambil menyeberangi sungai yang berarus kecokelatan. Seragam basah kuyup dan sepatu berlumpur menjadi pemandangan sehari-hari.
Salah satu video memperlihatkan seorang pelajar SMA yang berdiri di tengah sungai dengan tas yang telah basah. Dengan suara pelan, ia menjelaskan kondisi akses desa yang rusak dan belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Para pelajar, katanya, hanya berharap agar jembatan bisa segera diperbaiki.
“Kami tidak minta yang mewah, kami cuma ingin jembatan yang layak untuk pergi sekolah,” ujarnya dalam video tersebut.
Kisah ini memunculkan ironi tersendiri di tengah besarnya anggaran pendidikan nasional. Publik mempertanyakan bagaimana fasilitas dasar seperti akses menuju sekolah bisa luput dari perhatian, sementara pemerintah gencar mendorong berbagai program pendidikan modern.
Pengamat pendidikan menilai kasus seperti di Desa Ansiap bukan hal baru, namun kebiasaan masyarakat yang mulai menganggapnya sebagai hal lumrah justru membuat keadaan ini terus berulang.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dapat segera turun tangan memperbaiki jembatan tersebut. Akses pendidikan yang aman merupakan hak setiap warga negara, termasuk anak-anak di pelosok desa.
Hingga kini, warga Desa Ansiap hanya bisa berharap kisah ini tidak berhenti sebagai berita viral yang perlahan menghilang. Mereka menunggu tindakan nyata agar pelajar tidak lagi harus menantang arus sungai demi menuntut ilmu.*** (LonyenkRap)









