Wartatrans.com, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang melaju cepat dinilai menjadi tantangan bagi dunia jurnalistik, termasuk di negara-negara dengan tradisi media yang kuat seperti Mesir. Banyak jurnalis masih mengalami kesulitan beradaptasi dengan teknologi tersebut karena laju inovasinya jauh lebih cepat dibanding kemampuan manusia untuk menguasainya.
Pandangan itu disampaikan mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, dalam diskusi bertajuk Brainstorming dan Pembentukan Serikat Jurnalis Islam di UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 14 Juni 2026.

“Bukan hanya di Mesir, tetapi juga di banyak negara lain, termasuk negara-negara maju, para jurnalis menghadapi tantangan yang sama dalam mengadopsi teknologi AI,” kata Sami yang juga Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) serta Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab.
Menurut dia, kemampuan AI dalam mengolah data dan menghasilkan berita memang berkembang sangat pesat. Namun, keputusan akhir mengenai kelayakan sebuah informasi untuk dipublikasikan tetap berada di tangan jurnalis.
“AI bisa menghasilkan informasi yang benar, akurat, dan sesuai fakta. Tetapi jurnalis memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak dari pemberitaan tersebut,” ujarnya.
Bagi jurnalis Muslim, kata Sami, pertimbangan utama bukan sekadar akurasi informasi, melainkan juga kemanfaatannya bagi masyarakat. “Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah apakah informasi ini membawa manfaat bagi umat atau tidak,” katanya.
Dalam paparannya, Sami menegaskan bahwa perkembangan AI tidak mungkin dihentikan. Teknologi itu akan terus berkembang dan memunculkan berbagai gagasan baru, termasuk yang menimbulkan perdebatan.
Ia mencontohkan sebuah artikel di media Mesir yang pernah mengangkat gagasan pelaksanaan ibadah haji secara virtual. Dalam skenario tersebut, jamaah tidak perlu datang langsung ke Makkah, Arafah, Mina, maupun Madinah, melainkan cukup mengikuti rangkaian ibadah dari rumah melalui teknologi digital.
Gagasan tersebut, kata dia, memicu polemik karena secara syariah dinilai tidak sah. Namun, kemunculan ide itu menunjukkan bagaimana AI dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
“Di sinilah tanggung jawab jurnalis diuji. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menilai apakah isu yang diangkat memberikan manfaat atau justru menimbulkan mudarat bagi masyarakat,” ujarnya.
Diskusi yang dipandu oleh Ustaz Bachtiar Nasir itu berlangsung dinamis. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait pemanfaatan AI dalam dunia jurnalistik, etika media, hingga tantangan dakwah di era digital.
Pada kesempatan tersebut, Sami juga menawarkan peluang kerja sama antara jurnalis Muslim Indonesia dan berbagai institusi media di negara-negara Timur Tengah. Kerja sama itu mencakup pelatihan, pertukaran pengetahuan, serta kunjungan profesional untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam bidang teknologi informasi berbasis AI.
Sebelumnya, forum yang sama menghadirkan pakar teknologi informasi sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, yang membahas pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam ekosistem media.
Di penghujung acara, peserta forum secara aklamasi mengusulkan pembentukan Serikat Jurnalis Islam (SAJID) dan meminta kesediaan Bachtiar Nasir untuk memimpin organisasi tersebut. Usulan itu didasarkan pada pengalaman, jejaring internasional, serta kiprah Bachtiar dalam berbagai forum dunia Islam.
Menurut peserta, kehadiran SAJID diharapkan menjadi wadah bagi jurnalis Muslim untuk memperkuat kompetensi profesional, memperluas jaringan, dan merespons tantangan era digital yang semakin kompleks.*** (Dulloh)























