Menu ✖

Mode Gelap
Dedit Cahyo Ponadi Terpilih sebagai Spark KAI Services September 2026 Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP KAI Group Layani 394,4 Juta Pelanggan hingga September 2026, Tumbuh 7,06 Persen Kendaraan Roda Tiga, Menakar Peluang dan Tantangan jadi Angkutan Umum Kemenhub Dorong Penguatan Kolaborasi Ekosistem Maritim Kemenhub Dorong Layanan Penumpang Lebih Mudah dan Terintegrasi saat di Bandara

Uncategorized

Jurnalis Muslim Diminta Kuasai AI, Prof Sami: Teknologi Cepat, Kendali Tetap di Tangan Manusia

badge-check


 Jurnalis Muslim Diminta Kuasai AI, Prof Sami: Teknologi Cepat, Kendali Tetap di Tangan Manusia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang melaju cepat dinilai menjadi tantangan bagi dunia jurnalistik, termasuk di negara-negara dengan tradisi media yang kuat seperti Mesir. Banyak jurnalis masih mengalami kesulitan beradaptasi dengan teknologi tersebut karena laju inovasinya jauh lebih cepat dibanding kemampuan manusia untuk menguasainya.

Pandangan itu disampaikan mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, dalam diskusi bertajuk Brainstorming dan Pembentukan Serikat Jurnalis Islam di UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 14 Juni 2026.

“Bukan hanya di Mesir, tetapi juga di banyak negara lain, termasuk negara-negara maju, para jurnalis menghadapi tantangan yang sama dalam mengadopsi teknologi AI,” kata Sami yang juga Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) serta Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab.

Menurut dia, kemampuan AI dalam mengolah data dan menghasilkan berita memang berkembang sangat pesat. Namun, keputusan akhir mengenai kelayakan sebuah informasi untuk dipublikasikan tetap berada di tangan jurnalis.

“AI bisa menghasilkan informasi yang benar, akurat, dan sesuai fakta. Tetapi jurnalis memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak dari pemberitaan tersebut,” ujarnya.

Bagi jurnalis Muslim, kata Sami, pertimbangan utama bukan sekadar akurasi informasi, melainkan juga kemanfaatannya bagi masyarakat. “Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah apakah informasi ini membawa manfaat bagi umat atau tidak,” katanya.

Dalam paparannya, Sami menegaskan bahwa perkembangan AI tidak mungkin dihentikan. Teknologi itu akan terus berkembang dan memunculkan berbagai gagasan baru, termasuk yang menimbulkan perdebatan.

Ia mencontohkan sebuah artikel di media Mesir yang pernah mengangkat gagasan pelaksanaan ibadah haji secara virtual. Dalam skenario tersebut, jamaah tidak perlu datang langsung ke Makkah, Arafah, Mina, maupun Madinah, melainkan cukup mengikuti rangkaian ibadah dari rumah melalui teknologi digital.

Gagasan tersebut, kata dia, memicu polemik karena secara syariah dinilai tidak sah. Namun, kemunculan ide itu menunjukkan bagaimana AI dapat menghadirkan berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

“Di sinilah tanggung jawab jurnalis diuji. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menilai apakah isu yang diangkat memberikan manfaat atau justru menimbulkan mudarat bagi masyarakat,” ujarnya.

Diskusi yang dipandu oleh Ustaz Bachtiar Nasir itu berlangsung dinamis. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait pemanfaatan AI dalam dunia jurnalistik, etika media, hingga tantangan dakwah di era digital.

Pada kesempatan tersebut, Sami juga menawarkan peluang kerja sama antara jurnalis Muslim Indonesia dan berbagai institusi media di negara-negara Timur Tengah. Kerja sama itu mencakup pelatihan, pertukaran pengetahuan, serta kunjungan profesional untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam bidang teknologi informasi berbasis AI.

Sebelumnya, forum yang sama menghadirkan pakar teknologi informasi sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, yang membahas pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam ekosistem media.

Di penghujung acara, peserta forum secara aklamasi mengusulkan pembentukan Serikat Jurnalis Islam (SAJID) dan meminta kesediaan Bachtiar Nasir untuk memimpin organisasi tersebut. Usulan itu didasarkan pada pengalaman, jejaring internasional, serta kiprah Bachtiar dalam berbagai forum dunia Islam.

Menurut peserta, kehadiran SAJID diharapkan menjadi wadah bagi jurnalis Muslim untuk memperkuat kompetensi profesional, memperluas jaringan, dan merespons tantangan era digital yang semakin kompleks.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Trending di RAGAM