Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiapkan penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung guna mengakomodasi pertumbuhan jumlah pengguna Commuter Line yang terus meningkat.
Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta dan sekitarnya.

Data KAI menunjukkan jumlah pengguna Commuter Line Rangkasbitung terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pelanggan tercatat sebanyak 43,31 juta orang. Angka tersebut naik menjadi 62,08 juta pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69,99 juta pelanggan pada 2024 dan meningkat lagi menjadi 77,55 juta pelanggan pada 2025. Sementara pada periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33,39 juta orang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan peningkatan jumlah pelanggan berdampak pada tingginya tingkat kepadatan perjalanan, khususnya pada jam sibuk.
“Permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung terus meningkat. Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujar Bobby.
Saat ini, tingkat okupansi puncak Commuter Line Rangkasbitung mencapai sekitar 161 persen, tertinggi dibandingkan lintas Commuter Line lainnya. Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor berada di kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen.
Menurut Bobby, tingginya kepadatan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sarana dan infrastruktur yang tersedia di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.
Untuk meningkatkan kapasitas layanan, KAI dan DJKA akan memperkuat sistem Listrik Aliran Atas (LAA). Saat ini daya listrik pada lintas tersebut masih berada pada level 3.000 volt, lebih rendah dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang telah menggunakan daya 4.000 volt.
Kondisi tersebut membuat rangkaian KRL dengan formasi 12 kereta belum dapat dioperasikan secara optimal sehingga kapasitas angkut masih mengandalkan rangkaian 8 dan 10 kereta.
Sebagai bagian dari penguatan sistem kelistrikan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di sepanjang lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penambahan ini diharapkan dapat mendukung operasional rangkaian 12 kereta dan meningkatkan kapasitas angkut penumpang pada setiap perjalanan.
Selain penguatan pasokan listrik, KAI bersama DJKA juga akan melakukan modernisasi sistem persinyalan. Saat ini sebagian lintas Rangkasbitung masih menggunakan sistem blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi.
Akibatnya, jarak waktu antarperjalanan atau headway kereta masih berada pada kisaran 10 menit. Sementara itu, lintas Bogor dan Bekasi telah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar 3 hingga 4 menit.
Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas diharapkan meningkat sehingga frekuensi perjalanan dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat.
“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik,” kata Bobby.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang.
“Kolaborasi antara KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung. Melalui penguatan infrastruktur dan sistem operasi yang dilakukan secara bertahap, kapasitas layanan dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat memperoleh perjalanan yang semakin nyaman, aman, dan andal di masa mendatang,” ujar Anne.
KAI menilai penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung akan menjadi investasi jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan kawasan serta meningkatkan kualitas layanan transportasi massal bagi masyarakat di wilayah barat Jabodetabek.(fahmi)































