Wartatrans.com, BENER MERIAH — Warga Kampung Ronga-Ronga, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, saat ini mengalami kesulitan mendapatkan sumber air minum bersih. Hal tersebut terjadi setelah sumber air utama warga rusak akibat longsor dan banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu.
Petue Kampung Ronga-Ronga, Zaini Arifin, mengatakan bahwa hingga kini sumber air tersebut belum dapat digunakan kembali karena memerlukan perbaikan dengan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi ekonomi masyarakat pascabencana masih sangat sulit.

“Sumber air yang ada selama ini sudah rusak akibat longsor dan banjir bandang. Perlu diperbaiki, tentu membutuhkan biaya. Sementara kondisi ekonomi warga saat ini sangat sulit,” ujar Zaini Arifin melalui pesan WhatsApp, Minggu siang (28/12/2025).
Dalam upaya mengatasi persoalan tersebut, Zaini Arifin kemudian berkomunikasi dengan Yusradi Usman al-Gayoni, Diaspora Indonesia di Inggris sekaligus inisiator World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia), yang sejak terjadinya bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, aktif menggalang donasi dari luar negeri.

Petue Kampung Ronga-Ronga, Zaini Arifin.
“Kebetulan Bang Yusradi adalah abang sepupu saya. Alhamdulillah, beliau langsung mengirimkan bantuan sebesar satu juta rupiah. Dengan dana ini, kami akan segera bergotong royong dan membeli peralatan untuk memperbaiki sumber air warga Kampung Ronga-Ronga,” ungkap Zaini.
Secara terpisah, dari London, Inggris, Yusradi Usman al-Gayoni membenarkan penyaluran bantuan tersebut. Ia mengatakan bahwa dana yang disalurkan merupakan titipan dari sejumlah donatur yang mempercayakan penyalurannya kepada dirinya.
“Alhamdulillah, donasi yang masuk dari para donatur sudah kami salurkan, termasuk ke Kampung Ronga-Ronga di Kabupaten Bener Meriah. Hari ini juga ada bantuan yang ditransfer untuk pembelian tangki air, karpet, serta pengeras suara masjid atau menasah di sejumlah kampung terdampak longsor dan banjir di Kabupaten Aceh Tengah,” jelas Yusradi melalui pesan WhatsApp.
Ia menambahkan, dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir, donasi yang dihimpun juga telah disalurkan ke berbagai wilayah di Tanah Gayo, antara lain untuk pengadaan air mineral bagi warga yang harus menempuh jalur sulit guna membeli beras dan BBM, serta bantuan sembako bagi mahasiswa asal Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Pidie Jaya yang sedang menempuh pendidikan di Lhokseumawe dan Banda Aceh.
Selain bantuan yang disalurkan secara pribadi, Yusradi yang juga pernah menjadi Anggota Tim Pengembangan Kawasan Gayo-Alas Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (2018–2024) menyebutkan bahwa terdapat pula donasi yang digerakkan melalui berbagai organisasi dan jaringan diaspora Indonesia di luar negeri.
“Ada donasi yang langsung disalurkan melalui organisasi, sebagian sudah tersalurkan termasuk ke wilayah pesisir Aceh, dan sebagian lainnya masih dalam proses. Ada juga rekan-rekan di luar Aceh yang berkoordinasi untuk menyalurkan bantuan berupa uang, sembako, hingga perangkat Starlink, langsung ke lapangan, khususnya ke daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh bantuan,” tuturnya.
Penerjemah NGO asal Prancis Handicap International (2007) dan mantan staf Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Sumut (2008) itu menegaskan bahwa seluruh donasi yang diterimanya telah dipertanggungjawabkan secara transparan kepada para donatur.
“Laporan pertanggungjawaban selalu kami sampaikan kepada para donatur, disertai bukti transfer, foto, dan video tanda terima langsung dari lapangan. Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan donasinya untuk membantu masyarakat korban dan terdampak longsor serta banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” kata Yusradi mengakhiri.*** (Jasa)
























