Menu ✖

Mode Gelap
FORWAN dan Kementerian Kebudayaan RI Dorong Musik Dangdut Diakui UNESCO Kemenhub Terus Awasi Operasional Penerbangan di Tengah Dampak Karhutla Kemenhub Pantau Dampak Insiden di Riyadh, Penerbangan Langsung Indonesia-Arab Saudi Beroperasi Normal Pembiayaan Elektrifikasi Transjakarta Rp5,07 Triliun KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal

PERISTIWA

Ketika Warna Menjadi Suara: Inklusivitas Mengalir di Pameran “Art Spectrum 20’20”

badge-check


 Ketika Warna Menjadi Suara: Inklusivitas Mengalir di Pameran “Art Spectrum 20’20” Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Minggu sore itu, 75 Gallery di Mampang Prapatan tampak berbeda. Cahaya lampu galeri memantul pada kanvas-kanvas penuh warna, sementara langkah-langkah kecil dan tawa ringan mengisi ruangan yang hangat. Di dinding, goresan lembut dan tekstur berani seolah bercerita tentang perjalanan hidup, ketekunan, dan keberanian. Di sanalah, pameran “Art Spectrum 20’20 – Goresan Ekspresi dan Warna Inklusif” resmi dibuka oleh Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha.

Pameran ini lahir sebagai bentuk perayaan atas Hari Disabilitas Internasional—sebuah momen yang sejak 1992 diperingati setiap 3 Desember untuk mengingatkan dunia bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan kerja bersama. Dan di ruangan itu, kesetaraan tampak hidup melalui karya, senyum, dan semangat para penyandang disabilitas.

Suasana pembukaan.

Di antara kerumunan, Yuli Riban, koordinator pelaksana pameran, tampak sibuk namun selalu tersenyum. Baginya, seni adalah jalan untuk membuka mata banyak orang. Hadir juga dalam acara tersebut Chintya Riza, istri Wamen, Fotografer handal Darwis Triadi, juga Sendy Wijaya.

“Melalui pameran ini, kami ingin masyarakat lebih mengerti perjuangan para penyandang disabilitas,” katanya pelan namun tegas. “Mereka punya martabat, hak, dan kemampuan yang sama untuk berkarya, hanya kadang ruangnya yang kurang diberikan.”

Pameran ini kolaborasi 2 Galeri yaitu 75 Gallery dan Darmin Kopi Galeri, sudah pernah diakukan tahun lalu, saat itu yang membuka pameran adalah Cagub DKI Pramono Anung.

Sementara vitu Owner 75 Gallery Fendy mendukung kegiatan ini sebagai kontribusi dan kepedulian pada pengembangan seni dan inklusivitas.

Ketika Giring naik ke panggung kecil di tengah galeri, ia memulai sambutan dengan nada emosional. Ia menyebut pesan Presiden Prabowo yang pernah ia dengar langsung: bahwa kebudayaan adalah identitas bangsa, sebuah jati diri yang harus dirawat agar tidak hilang diterpa zaman.

“Saya bangga melihat karya-karya ini,” ucapnya sambil menatap dinding-dinding penuh warna. “Bukan sekadar indah, tetapi juga penuh keberanian.”

Lalu ruangan mendadak hening ketika dua anak istimewa melangkah maju, menari tarian kreasi Betawi dengan kostum warna cerah. Mereka adalah Hamdan dan Aulia, siswa siswi SLB 2 Jakarta. Gerakan mereka penuh percaya diri, mengundang tepuk tangan meriah para tamu. Tak lama, seorang penyanyi disabilitas naik ke panggung, suaranya bening dan jujur. Dia adalah Moreno, siswa SLB Pembina Lebak Bulus – Jakarta. Dan tanpa diduga, Giring—yang memang seorang musisi—turun ikut bernyanyi. Lagu “Laskar Pelangi” menggema, menciptakan momen yang membuat banyak orang terdiam haru.

Giring nyanyi bersama “Laskar Pelangi” yang pernah ia populerkan.

Di ruang pamer, karya-karya yang dipajang bukan sekadar lukisan. Mereka adalah hasil kolaborasi antara pelukis disabilitas dan seniman-seniman kawakan seperti Jan Praba, Ireng Halimun, dan Syakieb Sungkar. Setiap kolaborasi adalah jembatan kecil yang mempertemukan dunia—mereka yang bertahun-tahun dikenal sebagai maestro, dan mereka yang baru mendapat panggung.

“Ini bentuk penghargaan untuk para pelukis disabilitas,” jelas Yuli. “Bahwa mereka juga mampu berkarya, mampu menciptakan bahasa visual mereka sendiri.”

Yuli sendiri adalah sosok yang telah bertahun-tahun mengajar anak-anak disabilitas melukis, baik di sekolah maupun secara privat. Dari halaman-halaman kecil buku sketsa hingga kanvas besar, ia menyaksikan bagaimana warna menjadi bahasa, bagaimana garis menjadi ruang kebebasan.

Ia berharap, pameran ini bukan perhentian, melainkan langkah awal.

“Jika kegiatan seperti ini terus ada, mereka bukan hanya belajar melukis,” ujarnya. “Mereka tumbuh sebagai pelukis yang diakui secara profesional.”

Sore semakin merayap. Namun di 75 Gallery, warna-warna seolah terus hidup. Goresan-goresan itu seperti berbicara: bahwa semua orang, dengan cara mereka sendiri, berhak didengar—dan dilihat. Pameran “Art Spectrum 20’20” bukan hanya tentang seni, tetapi tentang keberanian untuk memberi ruang. Tentang percaya bahwa bakat tidak pernah mengenal batas.

Dan mungkin, tentang kita yang perlahan belajar melihat dunia dengan lebih manusiawi.*** (Fahmi)

Yuli Riban, panitia pelaksana.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

FORWAN dan Kementerian Kebudayaan RI Dorong Musik Dangdut Diakui UNESCO

13 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam

12 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

CELIOS Merilis Menteri Terburuk dan Terbaik 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Siapa Saja?

12 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Sambut Lima Abad Jakarta, Buku Kumpulan Cerpen Lebaran di Jakarta Hadirkan Jejak Budaya Betawi

12 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Trending di RAGAM