Menu

Mode Gelap
Aksi Jujur Petugas Cleaning KAI Services Kembalikan Dompet Penumpang Tuai Pujian Netizen 5,5 Juta Penumpang Kereta Api Pakai Face Recognition pada Semester I 2026, Hemat Kertas Setara 75 Pohon Garuda Indonesia Berhasil Capai Ketepatan Waktu Terbang 94,3% Selama Operasional Haji 2026 10 Hari, Bandara Soekarno-Hatta Sukses Layani 20.335 Jemaah Umrah dari Terminal 2F 6 Maskapai Ajukan Buka Rute ini dari dan ke Bandara Husein Sastranegara Pelindo dan Pemprov Sumsel Dorong Percepatan Pembentukan BUP Tanjung Carat

Uncategorized

Kilasan Sejarah Mahagenta Lewat Lentera Khatulistiwa

badge-check


 Kilasan Sejarah Mahagenta Lewat Lentera Khatulistiwa Perbesar

Wartatrans.com, Jakarta — Hari itu, Sabtu (15/11/2025 Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) dipadati penonton. Di luar hujan baru saja reda, mereka antri masuk dengan raut penasaran, seolah tahu bahwa malam itu Mahagenta akan menggelar konser yang bukan sekadar menggelar konser, tetapi merayakan perjalanan panjang penuh cerita.

Saat lampu ruangan redup, suasana menjadi magis. Denting alat musik tradisional berpadu dengan instrumen modern, membuat penonton larut dalam harmoni rasa.

Di atas panggung, para pengisi acara tampil memesona dengan pakaian tradisional dari berbagai daerah. Ada yang mengenakan busana Jawa, kain Nusantara, hingga kimono Jepang yang ikut mewarnai nuansa multietnis, sejalan dengan karakter musik Mahagenta.

Uyung Mahagenta, sang pendiri, menyebut konser bertajuk Lentera Katulistiwa ini adalah upaya menyalakan kembali cahaya tradisi.

“Kami ingin karya ini menerangi jiwa dan mendekatkan masyarakat pada budayanya,” ujarnya, penuh harap.

Di antara penonton, hadir juga perwakilan Kementerian Kebudayaan, Meta Ambar Pana. Ia mengapresiasi Mahagenta yang konsisten menjaga musik tradisi melalui aransemen penuh eksplorasi.

“Konser ini adalah puncak perjalanan panjang Mahagenta. Selain juga penanda komitmen masa depan yang lebih gemilang,” katanya.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Felencia Hutabarat, ikut memberikan pujian hangat. “Mahagenta menunjukkan tradisi dan inovasi adalah dua kekuatan yang saling melengkapi,” ujarnya.

Malam itu Mahagenta menampilkan 17 karya terbaik dari perjalanan 29 tahun mereka. Dari komposisi lembut hingga komposisi eksplosif, penonton dibuat terpukau berkali-kali.

Di balik panggung, persiapan panjang selama enam bulan terasa terbayar. Ada 40 anggota yang terlibat, terdiri dari musisi, penari, hingga pelajar SMP yang ikut memberi warna.

Konser ini bukan hanya perayaan ulang tahun, tetapi juga kilasan sejarah Mahagenta sejak terbentuk pada 11 November 1996. Kala itu, mereka lahir bersamaan dengan Ethno Music Festival Dewan Kesenian Jakarta, yang kemudian menjadi gerbang awal kolaborasi besar mereka.

Kini, setelah hampir tiga dekade, Mahagenta tetap setia merawat tradisi sambil merangkul modernitas. Musik mereka tetap bercerita, tetap bernapas, dan tetap mengajak siapa saja yang mendengarnya untuk merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Riuh tepuk tangan penonton menjadi bukti bahwa perpaduan generasi itu terasa sangat hidup dan menyegarkan. Dan malam itu, di Taman Ismail Marzuki, cahaya lentera mereka terasa begitu terang.*** (Tyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo dan Pemprov Sumsel Dorong Percepatan Pembentukan BUP Tanjung Carat

13 Juli 2026 - 12:36 WIB

Reuni 40 Tahun Jadi Titik Awal, Alumni SMA Muhammadiyah 6 Slipi Bentuk Pengurus Baru periode 2026-2029 IKA Musix 86

13 Juli 2026 - 12:15 WIB

Kemenhub Fasilitasi Penyerahan Santunan Rp1 Miliar kepada Ahli Waris ABK yang Hilang di Laut

13 Juli 2026 - 11:34 WIB

Sanggar Oloh Guwel Iringi Parade Puisi 14 Negara pada PPN XIV Aceh di Aceh Tengah

13 Juli 2026 - 11:11 WIB

Tari Bines Gayo Lues Memukau Penonton pada PPN XIV Aceh di Temas River Park

12 Juli 2026 - 22:50 WIB

40 Tahun Berpisah, Alumni SMA Muhammadiyah 6 Slipi Angkatan 1986 Perkuat Silaturahmi dan Gagas Aksi Sosial

12 Juli 2026 - 21:57 WIB

Seni Gayo Kepung Jakarta, Pegayon Pentaskan Warisan Leluhur Tanoh Gayo

12 Juli 2026 - 20:02 WIB

Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen, Produksi Udang Siklus ke-8 Diproyeksi Capai 254,5 Ton

12 Juli 2026 - 19:58 WIB

Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari

12 Juli 2026 - 15:12 WIB

Normalisasi Ciliwung Telan Anggaran Rp300 M: 1 RT Pasti Hilang, Banjir Belum Tentu 

12 Juli 2026 - 15:05 WIB

Trending di RAGAM