Wartatrans.com, BANDA ACEH — Di tengah musibah banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, muncul sebuah fenomena unik sekaligus menyentuh batin publik. Sebuah surat tulisan tangan beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp (WAG), ditulis dengan tinta hitam di atas kertas putih bergaris, ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia dan para menterinya.
Surat tersebut mengatasnamakan Malem Diwa, tokoh legendaris dalam cerita rakyat Aceh yang sangat dikenal, khususnya di wilayah Gayo, Takengon. Kemunculan nama Malem Diwa di tengah bencana ini segera memantik beragam tafsir dan diskusi di ruang publik.

Dalam khazanah folklor Aceh, Malem Diwa merupakan tokoh utama dalam cerita rakyat tentang seorang pemuda yang menikahi bidadari dari kahyangan. Kisah ini kerap disejajarkan dengan legenda Jaka Tarub, menggambarkan cinta terlarang antara manusia dan makhluk halus, serta sarat pesan moral dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Salah satu komentar yang beredar di WAG menyebutkan, “Turunnya Malem Diwa di bencana melalui surat tertulisnya adalah sebuah isyarat tertentu yang perlu disikapi secara serius oleh petinggi negeri.” Komentar tersebut menggambarkan kegelisahan masyarakat Aceh atas situasi bencana yang mereka alami, namun belum juga ditetapkan sebagai bencana nasional oleh pemerintah pusat.
Sejumlah pihak menilai, penggunaan nama Malem Diwa dalam surat tersebut hanyalah bentuk keusilan atau ekspresi simbolik dari seseorang yang ingin menyuarakan kekecewaan. Namun di sisi lain, fenomena ini juga dipandang sebagai pengingat kolektif bagi masyarakat Aceh untuk kembali merenungi pesan-pesan leluhur.
“Terlepas dari siapa penulisnya, secara alam raya kita diingatkan agar tidak sepenuhnya bergantung pada pusat. Jika Malem Diwa hanyalah dongeng, maka pesan dan amanah moyang kita tentang kemandirian dan martabat negeri para syuhada patut kembali direnungi,” ujar seorang warga.
Bagi sebagian masyarakat Aceh, kisah Malem Diwa bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan simbol perlawanan batin, keteguhan, dan kearifan lokal. Kemunculannya di tengah bencana menjadi cermin keresahan rakyat sekaligus kritik kultural yang dibungkus dalam bahasa tradisi.
Fenomena ini menegaskan bahwa di Aceh, suara rakyat tak selalu hadir dalam bentuk demonstrasi atau pernyataan resmi, melainkan juga melalui simbol, legenda, dan narasi yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.*** (PG)
























