Wartatrans.com, ACEH — Tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjalanan Ratoh Duek Aceh yang dibawakan oleh anak-anak Australia dari Gondwana Choir Australia ke panggung dunia. Berawal dari visi seorang perempuan luar biasa, Lyn Williams AM.
Lyn adalah pendiri sekaligus Artistic Director Gondwana Choir Australia. Selama lebih dari 35 tahun, ia telah membangun salah satu organisasi paduan suara anak dan remaja paling dihormati di dunia. Di bawah kepemimpinannya, Gondwana telah tampil di panggung-panggung internasional bergengsi, berkolaborasi dengan orkestra dan konduktor kelas dunia, serta memesan lebih dari 250 karya musik baru dari para komposer Australia maupun mancanegara.

Dedikasinya diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Member of the Order of Australia (AM). Ia merupakan salah satu dari 100 perempuan paling berpengaruh di Australia karena kontribusinya terhadap musik, pendidikan, dan kehidupan budaya.
Namun, yang paling saya kagumi dari Lyn bukanlah penghargaan-penghargaan itu. Yang saya kagumi adalah rasa hormatnya terhadap budaya.
Pada tahun 2014, Lyn menyaksikan sebuah pertunjukan paduan suara di Amerika Serikat. Di sanalah untuk pertama kalinya ia menyaksikan Ratoh Duek Aceh dibawakan oleh sebuah kelompok paduan suara. Ia langsung jatuh hati.

Usai pertunjukan, Lyn menemui kelompok tersebut dan mengatakan bahwa ia ingin anak-anak Gondwana Choir di Australia mempelajari Ratoh Duek dan apakah merka bisa mengajarkan anak-anak Gondwana. Kelompok tersebut mengatakan, bila Gondwana ingin mempelajari Ratoh Duek Aceh, mereka harus mendatangkan artistic director beserta enam anggota tim mereka ke Australia untuk mengajarkannya.
Bagi Lyn hal tersebut terlalu sulit diwujudkan, mengahdirkan 7 orang dari luar Australia dan itu akan mengeluarkan biaya yang tidak memungkinkan.
Sekembalinya ke Sydney, Lyn masih terus memikirkan Ratoh Duek. Rasa penasarannya belum hilang. Iseng-iseng, ia mencoba mencari di internet dan berpikir, “Siapa tahu ada orang yang mengajarkan Ratoh Duek di Australia.” Ia pun mengetik pencarian sederhana “Acehnese dance groups in Australia”.
Tak disangka, yang muncul adalah Suara Dance, Gruop tari Indonesia yang berbasis di Sydney. Lyn sangat terkejut. Ketika melihat alamat studionya, ternyata Suara Dance hanya berjarak sekitar lima menit dari rumahnya.
Hari itu juga ia menghubungi kontak yang ada di sana dan keesokan harinya ia berjalan kaki menuju studio kami. Di sanalah pertama kali Lyn bertemu saya dan bukboss Alfira O’Sullivan.
Lyn menceritakan mimpinya agar anak-anak Gondwana dapat mempelajari Ratoh Duek Aceh secara langsung dari orang Aceh.
Dari pertemuan itu, Kami menbuat rencana kerja dan mencari metode pengajaran Ratoh Duek bersama.
Setelah memilih lagu dan gerakan yang akan diajarkan, Lyn mulai mengerjakan bagian yang menjadi keahliannya. Ia menuliskan notasi musik dari lagu-lagu Ratoh Duek sehingga melodi, ritme, dan harmoni dapat dipelajari dengan lebih mudah oleh anak-anak Gondwana.
Sementara itu, saya dan bukboss Alfira bertanggung jawab mengajarkan gerakan, ekspresi, serta pengucapan bahasa Aceh agar terdengar seautentik mungkin. Kami sepakat, Ratoh Duek bukan hanya tentang gerak yang seragam atau nada yang tepat, tetapi juga tentang rasa, logat, dan jiwa budaya Aceh yang hidup di dalam setiap syairnya.
Kolaborasi itulah yang kemudian menjadikan Ratoh Duek tidak sekadar dipentaskan oleh Gondwana Choir, tetapi benar-benar dipelajari, dipahami, dan dihormati.
Pada tahun 2015, kami mulai mengajarkan Ratoh Duek kepada anak-anak Gondwana Choir. Di tahun yang sama saya mendapat kesempatan mendampingi tur internasional pertama Gondwana yang menampilkan Ratoh Duek Aceh ke Estonia, Latvia, Lithuania, dan Islandia. Tur tersebut sangat berkesan hingga hari ini.
Sejak saat itu, hubungan kami terus berlanjut, tidak hanya patner dalam kolaborasi tapi telah menjelma menjadi hubungan persaudaraan yang kuat.
Bersama bukboss Alfira dan Suara Dance, saya telah mengajarkan berbebera kesenian Aceh kepada anak-anak Gondwana, mulai dari Rapa’i Geleng, Tari Pukat dan Ratoh Bantai. Namun di antara semuanya, Ratoh Duek tetap menjadi favorit dan terus hidup dalam repertoar mereka.
Lyn bahkan pernah mengusulkan pada pemerintah Australia, agar Ratoh Duek Aceh ditampilkan pada perayaan Australia Day di hadapan Perdana Menteri Australia. Meskipun kesempatan itu belum terwujud, hal tersebut menunjukkan betapa besar keyakinannya bahwa budaya Aceh layak menjadi bagian dari wajah multikultural Australia.
Yang membuat saya semakin menghormati Lyn adalah prinsip yang selalu ia pegang.
Menurutnya, setiap budaya harus diajarkan langsung oleh pemilik budayanya. Jika Gondwana mempelajari lagu masyarakat Aborigin, maka masyarakat Aboriginlah yang harus menjadi gurunya. Jika mereka mempelajari budaya Aceh, maka orang Acehlah yang harus mengajarkannya.
Bagi saya, inilah bentuk penghormatan yang sesungguhnya terhadap sebuah budaya.
Tahun ini, ketika Gondwana Choir melakukan tur ke Malaysia dan Singapura, sebenarnya saya tidak termasuk dalam rencana awal. Namun saya merasa perjalanan ini begitu penting sehingga saya berusaha mencari dukungan agar dapat mendampingi mereka.
Saya mengajukan proposal kepada berbagai lembaga terkait Indonesia. Dari perwakilan Indonesia di Australia, Kementerian terkait di Jakarta, pemerintah Aceh dan dinas terkait di Aceh. Alhamdulillah, dukungan tersebut direspon oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni. Berkat dukungan tersebut, saya dapat mendampingi Gondwana menghadirkan Ratoh Duek Aceh dalam perjalanan ini.
Di Singapura, Gondwana Choir akan tampil di ajang bergengsi di Voices of the World International Choir Festival 2026, diikuti oleh paduan suara dari tujuh negara: Sri Lanka, Thailand, Kanada, Malaysia, Selandia Baru, Australia, serta Singapura sebagai tuan rumah.
Momen ini sangat istimewa. Sebuah kesenian yang lahir dari tanah Aceh kini kembali bergema di panggung internasional, dibawakan dengan penuh kebanggaan oleh anak-anak Australia di hadapan penonton dari berbagai negara.
Dan bagi saya, ini bukan hanya tentang sebuah kesenian. Ini adalah kisah tentang rasa hormat, persahabatan, dan kepercayaan. Tentang bagaimana sebuah budaya dapat melintasi batas negara ketika dipelajari dengan tulus, dijaga dengan penuh penghormatan, dan dibagikan dengan hati yang terbuka.
Terima kasih, Lyn dan Gondwana Choir. Terima kasih telah mempercayai kesenian Aceh, menghadirkannya dengan penuh rasa hormat, dan membuktikan bahwa seni mampu menjadi jembatan yang menghubungkan manusia, budaya, dan bangsa. SemangArt. *** (Kamaruzzaman)






























