Wartatrans.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan mengerahkan dua rumah sakit lapangan (rumkitlap) di Ruteng, Manggarai, dan Aeramo, Nagekeo, untuk menjaga layanan medis setelah gempa M7,7.
Rumkitlap Ruteng dirancang mencapai 100 tempat tidur dan dilengkapi ruang operasi, sementara keduanya sudah melayani pasien, termasuk tindakan operasi trauma.

Kebutuhan fasilitas bergerak itu muncul ketika rumah sakit permanen terdampak dan aktivitas seismik belum mereda. BNPB mencatat 3.752 gempa susulan hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WITA, sedangkan BMKG memperkirakan proses peluruhan gempa susulan masih berlangsung tiga hingga empat minggu.
Konfigurasi rumkitlap Ruteng menunjukkan fasilitas ini tidak sekadar menjadi tempat memindahkan pasien keluar gedung.
Kemenkes menyiapkan tiga tenda rawat inap dengan kapasitas awal 60 tempat tidur, kemudian menambah kapasitas hingga minimal 100 tempat tidur, serta ruang operasi untuk menangani kebutuhan bedah.
Ketua Satgas Bencana Kemenkes Sumarjaya pada Rabu (19/8/2026) mengatakan, “Di Rumah Sakit Ruteng karena cukup parah dan hari ini telah melakukan operasi di tenda, termasuk juga di Rumah Sakit Aeramo Nagekeo, kita operasikan hari ini, sudah berjalan.”
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, kedua rumkitlap sudah melakukan operasi, terutama untuk patah tulang yang banyak dialami penyintas.
Sekitar 40 keluarga disebut telah mendapatkan pelayanan dari dua rumah sakit lapangan tersebut.
Kebutuhan operasi trauma membuat konfigurasi rumkitlap harus dibaca sebagai satu sistem. Bukan hanya kamar operasi dan tempat tidur, tetapi juga anestesi, tenaga IGD, sterilisasi, pasokan obat, listrik, air, komunikasi, serta jalur rujukan harus tetap berfungsi ketika gempa kembali mengguncang.
Di Flores, tantangan rumkitlap karena itu bukan hanya kapasitas 100 tempat tidur.
Fasilitas tersebut harus mampu mempertahankan operasi ketika akses antardaerah terganggu, rumah sakit permanen belum sepenuhnya pulih, dan ribuan gempa susulan masih mengancam.
Kapasitas medis harus berjalan bersama ketahanan logistik, energi, air, komunikasi, dan evakuasi.
Bila sistem pendukungnya stabil, rumah sakit lapangan dapat menjadi jembatan layanan sampai fasilitas permanen kembali aman dan beroperasi. (Artha Tidar)




























