Wartatrans.com, ACEH — Seniman hikayat Aceh sekaligus pemegang Rekor MURI, Muda Balia, tampil memukau dalam kegiatan Sophie’s Sunset Library 2.0. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menikmati kekayaan tradisi lisan Aceh dalam suasana yang hangat dan penuh nuansa budaya.
Muda Balia dikenal luas sebagai pelestari seni hikayat Aceh. Namanya tercatat dalam Rekor MURI setelah berhasil membawakan hikayat selama 26 jam tanpa henti, sebuah pencapaian yang menegaskan dedikasinya dalam menjaga warisan budaya Aceh tetap hidup.

Dalam penampilannya di Sophie’s Sunset Library 2.0, Muda Balia membawakan hikayat dengan gaya tutur yang khas, penuh penghayatan, dan sarat pesan moral.
Penampilannya mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai seni tutur yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Aceh.
Kegiatan Sophie’s Sunset Library 2.0 menjadi ruang pertemuan antara literasi, seni, dan budaya, sekaligus membuktikan bahwa hikayat Aceh tetap relevan dan mampu memikat masyarakat lintas generasi.

Dalam penampilannya di Sophie’s Sunset Library 2.0, Muda Balia tidak hanya membawakan hikayat sebagai hiburan, tetapi juga menyisipkan berbagai nasihat tentang kehidupan, nilai-nilai agama, adat, dan pentingnya menjaga jati diri budaya Aceh.
Dengan gaya bertutur yang khas, ia menghidupkan kisah-kisah budaya yang dipadukan dengan humor segar. Sesekali, celetukan dan alur cerita yang jenaka mengundang gelak tawa penonton, sehingga suasana pertunjukan terasa akrab dan penuh kehangatan. Di balik kelucuan itu, tersimpan pesan-pesan moral yang mengajak masyarakat untuk merenung,
menghargai tradisi, serta menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Pemilik kafe, Raihan Lubis, mengatakan bahwa literasi perlu terus dihidupkan di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan akses terhadap informasi, tetapi juga ruang untuk mengapresiasi karya, berdiskusi, dan menumbuhkan budaya membaca serta berpikir kritis.
“Melalui pertunjukan seperti ini, teks tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan di atas panggung. Sastra, hikayat, dan cerita budaya menjadi lebih dekat dengan masyarakat karena dapat dinikmati melalui pementasan yang penuh makna,” ujar Raihan Lubis.
Ia berharap kegiatan seperti Sophie’s Sunset Library 2.0 dapat menjadi wadah yang mempertemukan literasi, seni, dan budaya, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai tradisi membaca dan melestarikan warisan budaya Aceh.*** (Kamaruzzaman)





























