Wartatrans.com, JAKARTA – Potensi kerugian akibat gempa M7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) mencapai sekitar Rp100 miliar, tetapi masih diverifikasi.
Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Timur (NTT) Hansel Liyanto mengatakan, pendataan belum selesai.

“Karena kejadiannya masih sangat baru, kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa besar potensi penurunan pendapatan atau perputaran ekonomi industri hotel,” kata Hansel, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, dampak dapat meluas jika kondisi pascagempa berlangsung lama.
“Yang menjadi perhatian kami, apabila kondisi pascagempa berlangsung cukup lama, tentu dapat berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan, perjalanan dinas, kegiatan MICE, maupun tingkat hunian hotel,” ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan wisatawan nusantara ke NTT pada Desember 2025 mencapai 960.708 perjalanan, naik 15,56 persen secara tahunan.
Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 31.480, tumbuh 54,91 persen, sedangkan tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai 45,76 persen.
Sebagai komparasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana banjir Jabodetabek pada Maret 2025, menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomi, hampir Rp1,7 triliun.
Di NTT, nilai kerusakan gempa 15 Agustus belum final. Pemerintah masih melakukan verifikasi korban dan asesmen kerusakan.
Bagi asuransi, potensi kerugian Rp100 miliar tidak otomatis menjadi klaim Rp100 miliar. Klaim bergantung pada keberadaan polis, jenis jaminan, tingkat kerusakan dan nilai pertanggungan.
Sektor asuransi NTT belum memiliki angka publik yang cukup untuk menunjukkan total premi, jumlah polis, nilai pertanggungan maupun klaim di tingkat provinsi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyediakan statistik perasuransian, tetapi data terbuka belum memberikan gambaran agregat khusus NTT.
Meski demikiam, respons industri mulai terlihat. Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) M. Fankar Umran mengatakan perusahaan akan mendampingi pemulihan masyarakat terdampak.
“Kami berkomitmen terus mendampingi proses pemulihan hingga masyarakat Pulau Flores dapat bangkit kembali dengan semangat kemerdekaan yang tangguh,” kata Fankar, Senin (17/8/2026).
Askrindo juga memberikan perlindungan Property All Risk yang mencakup risiko gempa untuk aset The Golo Mori milik Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) di Labuan Bajo.
Sejatinya, gempa kali ini datang di wilayah, yang risikonya sudah dikenali sektor keuangan. Dalam Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS) yang dirilis pada Maret 2024, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memasukkan Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Flores Timur, dalam basis data risiko bencana.
Namun, CRMS merupakan kerangka analisis risiko sektor perbankan, bukan basis data industri asuransi. Hingga kini, belum ada data publik yang merinci jumlah polis, nilai pertanggungan, akumulasi risiko dan total klaim akibat gempa Flores.
Persoalannya bukan hanya berapa besar kerusakan, tetapi berapa bagian kerugian yang terlindungi asuransi.
“Besarnya celah perlindungan, akan menentukan beban pemulihan yang harus ditanggung pelaku usaha dan pemerintah,” tutup Fankar. (Artha Tidar)






























