Menu ✖

Mode Gelap
Penumpang KA Joglosemarkerto Tembus 1,1 Juta hingga September 2026, Naik 9,73 Persen Tarif TransJakarta Disesuaikan 2027 Industri Pelayaran Kejar Nilai Ekspor, Bukan Sekadar Tambah Kapal BNI Tawarkan Investasi SBN SBR015 via wondr, Imbal Hasil hingga 6,85% APJAPI Nilai Layanan Bagasi Citilink Bertentangan dengan Aturan Yes, BNI Tingkatkan Layanan Keuangan Digital bagi Nasabah Emerald dan Private

SENI BUDAYA

Didong dan Tari Guel Semarakkan Panggung Kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta

badge-check


 Didong dan Tari Guel Semarakkan Panggung Kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Pada Pesta Rakyat memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di Gedung Agung, Yogyakarta, 15 Agustus 2026, mahasiswa Gayo menghadirkan dua warisan budaya dari dataran tinggi Tanoh Gayo: Didong dan Tari Guel.

Di panggung itu, tepukan Didong bertemu syair dan lantunan suara. Tiga ceh—Amri, Najib, dan Hafiz—memimpin pertunjukan didukung sepuluh orang penepok.

Kemudian Tari Guel mengambil ruang. Anhar memerankan Gajah, bersama Miko dan empat penari perempuan. Gerak tubuh, komposisi tari, dan simbol-simbol yang melekat pada Guel membawa jejak sejarah serta kehidupan masyarakat Gayo ke tengah masyarakat Yogyakarta.

Ada sesuatu yang menarik dari panggung ini: anak-anak muda Gayo tidak sedang sekadar mempertontonkan kesenian kampung halaman. Mereka sedang membawa identitas.

Di rantau, identitas tidak cukup disimpan dalam ingatan. Ia perlu dinyanyikan, ditarikan, diperkenalkan, dan dipertemukan dengan identitas-identitas lain. Yogyakarta, dengan lingkungan pendidikan dan masyarakatnya yang multikultural, menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi Nusantara.

Ketua Tim Koordinasi IPEMAH LUTYO, Hanif, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kebudayaan diharapkan menjadi sarana memperkuat identitas budaya sekaligus membangun silaturahmi dengan daerah lain.

“Semoga dengan adanya kita mahasiswa yang terus menampilkan dan menghidupkan budaya Gayo, kita berharap ini bisa menguatkan dan menjadi ajang silaturahmi budaya dengan daerah-daerah lain, termasuk juga pengenalan budaya dengan masyarakat yang belum familiar dengan budaya Gayo,” ujar Hanif.

Begitulah kebudayaan bekerja.

Ia tidak mengenal batas kabupaten. Tidak berhenti di kaki Bur Gayo. Tidak pula selesai ketika seorang anak muda meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu.

Didong ikut merantau. Guel ikut berjalan.

Keduanya menemukan panggung baru di Yogyakarta, bertemu dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, lalu pulang kembali ke tanah asalnya dalam bentuk cerita: bahwa tradisi masih hidup ketika anak mudanya mau menghidupkan.

Pesta Rakyat HUT ke-81 RI akhirnya bukan sekadar perayaan kemerdekaan. Ia menjadi ruang kecil tempat Indonesia melihat dirinya sendiri—beragam, berwarna, dan saling mengisi.*** (Fikar W Eda)

Baca Lainnya

Kekeringan Hampir Empat Bulan, Bupati Fakfak Kerahkan Seluruh OPD Bantu Salurkan Air Bersih

6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Almujaini Abdul Karim Kembali Pimpin Musara Gayo Jabodetabek

6 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Kabut Asap Selimuti Karas, Polisi Sektor Karas Bagikan Masker kepada Warga Malakuli.

6 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Becak Listrik Prabowo: Ketika Teknologi Datang ke Jalanan Rakyat

6 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Putra Aceh Dipercaya Duduki Kursi BPK RI, Khaidir Abdurrahman Siap Emban Amanah

6 Oktober 2026 - 06:21 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Pelindo Regional 4 Raih Dua Penghargaan P-TEC 2026

6 Oktober 2026 - 05:25 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Sepuluh Tahun Menanti, Masjid Giok Jadi Saksi Perjalanan Luhay Ahmad Memeluk Islam

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Komunitas Ruang Baca Rayakan HUT ke-9 Lewat Galeri Esai di Warung Kopi

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Trending di RAGAM