Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah mempercepat program bedah rumah di Jakarta dengan target 10.300 unit pada 2026.
Lonjakan program ini membawa persoalan yang tidak berhenti pada perbaikan bangunan, tetapi juga kepastian legalitas lahan dan efektivitas bantuan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait meninjau Cakung Timur, Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026).
Di wilayah tersebut terdapat 356 rumah tidak layak huni yang ditargetkan selesai paling lambat 26 Desember 2026.
“Pekerjaan 356 rumah itu dijadwalkan berlangsung 18 September hingga 1 November 2026, sedangkan seluruh penanganannya ditargetkan tuntas paling lambat 26 Desember,” ujar Mauarar.
Penanganan di Cakung juga mencakup 1.050 rumah di tujuh kelurahan yang dilakukan secara bertahap.
Jakarta Timur mendapat alokasi 2.000 unit. Sebanyak 1.087 rumah telah melalui inventarisasi dan verifikasi yang tersebar di 10 kecamatan dan 37 kelurahan, menunjukkan kebutuhan penanganan jauh lebih luas daripada 356 rumah di Cakung Timur.
Maruarar menegaskan, bedah rumah tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik.
Pemerintah juga mendorong kepastian legalitas hunian dan akses pembiayaan agar penerima memperoleh manfaat yang lebih berkelanjutan.
“Program Bedah Rumah ini bukan sekadar memperbaiki rumah. Kita juga ingin memastikan masyarakat memiliki kepastian legalitas dan mendapatkan akses pembiayaan untuk meningkatkan kualitas ekonominya,” bebernya.
Di Cakung, pemerintah juga menerapkan Pemilihan Toko Terbuka untuk pengadaan material. Mekanisme itu menghasilkan efisiensi 17,44 persen atau Rp30,536 juta dari pagu Rp175 juta.
Dengan target 10.300 unit, keberhasilan program tidak cukup dihitung dari jumlah rumah yang selesai direnovasi.
Legalitas lahan, ketepatan penerima, kemampuan swadaya, kualitas bangunan dan efisiensi anggaran menjadi ukuran apakah program benar-benar menyelesaikan persoalan hunian warga. (Artha Tidar)




























