Menu

Mode Gelap
Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera OJK: Perusahaan Modal Ventura Berizin Berada dalam Pengawasan Ayo Serbu 390 Ribu Kursi Promo di Garuda Indonesia Travel Festival KAI Kembangkan TOD Manggarai Seluas 129 Hektare, Integrasikan KRL hingga TransJakarta Tak Bisa Berangkat Sesuai Jadwal? KAI Daop 1 Jakarta Sediakan Layanan Batal dan Reschedule Tiket

Uncategorized

Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia

badge-check


 Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Jika kalian melihat pantauan satelit pada hari ini (13 Juni 2026), ada pemandangan yang sangat mencolok di sebelah selatan khatulistiwa. Sebuah sabuk awan raksasa tampak memanjang dan membentang sangat luas, menghubungkan Samudra Hindia di barat Sumatra, melewati Pulau Jawa, hingga membelah daratan Australia. Fenomena luar biasa ini bukan sekadar pemandangan estetik dari luar angkasa, melainkan sebuah sistem cuaca skala besar yang menjadi biang kerok utama di balik hujan yang diperkirakan akan mengguyur wilayah Sumatra bagian selatan dan Jawa hari ini.

Di dunia meteorologi, sabuk awan raksasa yang memanjang ini sering disebut sebagai Frontal Cloud Band atau pita awan frontal. Kemunculannya menandakan adanya aktivitas cold front (front dingin) yang ikut terseret oleh pusaran angin atau sistem tekanan rendah di samudra bagian selatan. Ketika pusat pusaran tersebut bergerak, ia menarik “ekor” awan yang sangat panjang dan tebal, hingga membentuk jalur konvergensi (zona pertemuan angin) raksasa yang memotong wilayah Indonesia dan Australia sekaligus.

Terbentuknya sabuk awan ini sebenarnya dipicu oleh “tabrakan” dua massa angin yang sifatnya berbeda jauh. Ada massa angin dingin dan kering yang bertiup kuat dari arah kutub selatan bergerak naik ke utara, lalu menabrak massa angin hangat dan super lembap yang ada di wilayah tropis Indonesia. Karena angin dingin sifatnya lebih berat dan padat, ia langsung menyusup ke bawah dan memaksa angin hangat khas tropis kita terangkat secara drastis ke atas atmosfer.

Nah, angin hangat yang membawa banyak uap air tadi langsung membeku dan mendingin secara massal di atas sana. Proses inilah yang menciptakan bentangan awan mendung sepanjang ribuan kilometer dan menyuplai pasokan hujan tanpa henti ke wilayah Sumatra dan Jawa hari ini.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM

20 Agustus 2026 - 00:18 WIB

Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera

19 Agustus 2026 - 22:35 WIB

Percepat Respons Darurat Gempa NTT, IDSurvey Group Salurkan 2,4 Ton Bantuan melalui BNPB

19 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Pelindo Raih Apresiasi atas Dukungan Mudik Gratis Sulsel 2026

19 Agustus 2026 - 17:19 WIB

PFN Targetkan Bioskop Sinewara Beroperasi 2027

19 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

KKP Kibarkan Merah Putih di Perairan Teluk Banten

19 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Meriahkan HUT Ke-81 RI, Terminal Teluk Lamong Gelar Beragam Lomba dan Pesta Rakyat

18 Agustus 2026 - 21:53 WIB

IPCC Perkuat Keselamatan Kerja TKBM melalui Pelatihan Basic K3

18 Agustus 2026 - 21:44 WIB

Pesan Rakyat Aceh Kepada Juha Christensen

18 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Trending di RAGAM