Menu ✖

Mode Gelap
PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan Dedit Cahyo Ponadi Terpilih sebagai Spark KAI Services September 2026 Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP KAI Group Layani 394,4 Juta Pelanggan hingga September 2026, Tumbuh 7,06 Persen Kendaraan Roda Tiga, Menakar Peluang dan Tantangan jadi Angkutan Umum Kemenhub Dorong Penguatan Kolaborasi Ekosistem Maritim

Uncategorized

Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia

badge-check


 Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Jika kalian melihat pantauan satelit pada hari ini (13 Juni 2026), ada pemandangan yang sangat mencolok di sebelah selatan khatulistiwa. Sebuah sabuk awan raksasa tampak memanjang dan membentang sangat luas, menghubungkan Samudra Hindia di barat Sumatra, melewati Pulau Jawa, hingga membelah daratan Australia. Fenomena luar biasa ini bukan sekadar pemandangan estetik dari luar angkasa, melainkan sebuah sistem cuaca skala besar yang menjadi biang kerok utama di balik hujan yang diperkirakan akan mengguyur wilayah Sumatra bagian selatan dan Jawa hari ini.

Di dunia meteorologi, sabuk awan raksasa yang memanjang ini sering disebut sebagai Frontal Cloud Band atau pita awan frontal. Kemunculannya menandakan adanya aktivitas cold front (front dingin) yang ikut terseret oleh pusaran angin atau sistem tekanan rendah di samudra bagian selatan. Ketika pusat pusaran tersebut bergerak, ia menarik “ekor” awan yang sangat panjang dan tebal, hingga membentuk jalur konvergensi (zona pertemuan angin) raksasa yang memotong wilayah Indonesia dan Australia sekaligus.

Terbentuknya sabuk awan ini sebenarnya dipicu oleh “tabrakan” dua massa angin yang sifatnya berbeda jauh. Ada massa angin dingin dan kering yang bertiup kuat dari arah kutub selatan bergerak naik ke utara, lalu menabrak massa angin hangat dan super lembap yang ada di wilayah tropis Indonesia. Karena angin dingin sifatnya lebih berat dan padat, ia langsung menyusup ke bawah dan memaksa angin hangat khas tropis kita terangkat secara drastis ke atas atmosfer.

Nah, angin hangat yang membawa banyak uap air tadi langsung membeku dan mendingin secara massal di atas sana. Proses inilah yang menciptakan bentangan awan mendung sepanjang ribuan kilometer dan menyuplai pasokan hujan tanpa henti ke wilayah Sumatra dan Jawa hari ini.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

Trending di RAGAM