Menu

Mode Gelap
Mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Wafat di Usia 86 Tahun Bahas Peluang Kemitraan UMKM, KAI Services Hadir di Talkshow Program Campuspreneur Pengembangan Wirausaha Muda di IPB Terima Penghargaan JMSI, Mahlizar Safdi ketua Posko Rakyat Dedikasikan Piala untuk Istri, Ratusan Relawan Posko Rakyat, dan Sinergi Lintas Sektor PACE: Stigma Politik Hambat Partisipasi Masyarakat Papua dalam Pembangunan Pelanggan KA Lokal Jawa Barat Tumbuh 67,95 Persen dalam Tiga Tahun KAI Services Resmikan Mess Responsibility di Surabaya, Tingkatkan Kenyamanan Frontliner

Uncategorized

Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia

badge-check


 Sabuk Awan Raksasa Membentang dari Sumatra sampai Australia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Jika kalian melihat pantauan satelit pada hari ini (13 Juni 2026), ada pemandangan yang sangat mencolok di sebelah selatan khatulistiwa. Sebuah sabuk awan raksasa tampak memanjang dan membentang sangat luas, menghubungkan Samudra Hindia di barat Sumatra, melewati Pulau Jawa, hingga membelah daratan Australia. Fenomena luar biasa ini bukan sekadar pemandangan estetik dari luar angkasa, melainkan sebuah sistem cuaca skala besar yang menjadi biang kerok utama di balik hujan yang diperkirakan akan mengguyur wilayah Sumatra bagian selatan dan Jawa hari ini.

Di dunia meteorologi, sabuk awan raksasa yang memanjang ini sering disebut sebagai Frontal Cloud Band atau pita awan frontal. Kemunculannya menandakan adanya aktivitas cold front (front dingin) yang ikut terseret oleh pusaran angin atau sistem tekanan rendah di samudra bagian selatan. Ketika pusat pusaran tersebut bergerak, ia menarik “ekor” awan yang sangat panjang dan tebal, hingga membentuk jalur konvergensi (zona pertemuan angin) raksasa yang memotong wilayah Indonesia dan Australia sekaligus.

Terbentuknya sabuk awan ini sebenarnya dipicu oleh “tabrakan” dua massa angin yang sifatnya berbeda jauh. Ada massa angin dingin dan kering yang bertiup kuat dari arah kutub selatan bergerak naik ke utara, lalu menabrak massa angin hangat dan super lembap yang ada di wilayah tropis Indonesia. Karena angin dingin sifatnya lebih berat dan padat, ia langsung menyusup ke bawah dan memaksa angin hangat khas tropis kita terangkat secara drastis ke atas atmosfer.

Nah, angin hangat yang membawa banyak uap air tadi langsung membeku dan mendingin secara massal di atas sana. Proses inilah yang menciptakan bentangan awan mendung sepanjang ribuan kilometer dan menyuplai pasokan hujan tanpa henti ke wilayah Sumatra dan Jawa hari ini.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mantan Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah Wafat di Usia 86 Tahun

13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Terima Penghargaan JMSI, Mahlizar Safdi ketua Posko Rakyat Dedikasikan Piala untuk Istri, Ratusan Relawan Posko Rakyat, dan Sinergi Lintas Sektor

13 Juni 2026 - 13:26 WIB

PACE: Stigma Politik Hambat Partisipasi Masyarakat Papua dalam Pembangunan

13 Juni 2026 - 12:50 WIB

Dukung ESG dan SDGs, IPC TPK Manfaatkan Kembali 209 Kilogram Seragam Bekas

13 Juni 2026 - 09:51 WIB

Kanada Ditahan Bosnia 1-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

13 Juni 2026 - 09:25 WIB

Mahasiswa Demo di Bundaran HI,  Aparat TNI dan Polisi Menghadang

13 Juni 2026 - 09:18 WIB

Film Disclosure Day: Benarkah Manusia Hidup Di Bumi Sendiri? 

13 Juni 2026 - 09:02 WIB

Juara Pilah Sampah Dapat Potongan Pajak: Strategi Baru DKI Tekan 40% Sampah dari Hotel, Restoran, Kafe

12 Juni 2026 - 20:48 WIB

Percikan Mutia: Menjadi Perekat, Bukan Pemecah

12 Juni 2026 - 16:38 WIB

Catatan Halimah Munawir: Belajar dari Iran, Berbenah untuk Indonesia

12 Juni 2026 - 16:21 WIB

Trending di RAGAM