Wartatrans.com, SASTRA — Pergantian tahun merupakan momen tersendiri bagi banyak orang. Tak terkecuali seorang penyair. Berikut sajak-sajak tutup tahun 2025 oleh Herman Syahara;
_____

AGAR KATA TAK SIA SIA
Bagaimana akan kutulis sajak seriang gerimis
bila yang tumpah menderas kayu bah
Bagamana akan kutulis sajak hijau hutan
bila maut sawit yang kau tanam
Bagaimana akan kutulis sajak kenangan
bila yang hilang kampung halaman
Atau kutulis saja sajak air mata
agar kata tak sia-sia
Desember 2025
_________
SEBUAH NAMA
Telah kita lepas sebuah nama,
selembar bulan penghabisan,
yang tiba-tiba terasa usang
pada almanak di dinding putIh rumah kita
Mungkin nama selembar bulan itu telah gosong
dalam pesta barbequi
sampai hampir fajar,
sampai terasa aroma awal hari yang kita duga baru
Tapi namanya tak akan pernah benar-benar berganti
menjadi nama lain seperti yang kita inginkan
: nama itu telah menjadi cuaca yang tak terekam mesin prediksi
menjadi pidato kemenangan siasat
di panggung-panggung politik
menjadi keluh kesah di lorong pasar-pasar becek
menjadi gumam di pabrik pabrik
menjadi dengung di kamar-kamar petak kontrakan
menjadi gelombang penolakan di jalan-jalan
Menjadi banjir bandang air mata kehilangan dalam peperangan
menjadi dentang rantang di tenda pengungsian
menjadi barisan nisan bayi-bayi dan kaum perempuan
menjadi kota yang sedang dihapus
dari peta dengan genosida
Namanya tak akan pernah benar-benar berganti
menjadi nama lain seperti yang kita siapkan
walau kita nyalakan sumbu semua hutan
menjadi kembang api di malam pergantian
Januari 2025
*dipetik dari halaman 141 Antologi Puisi PPN XIII “Layang Layang Tak. Memilih Tangan”, September 2025
______________
DI BANDAR ITU
/y
Di bandar itu
kapal-kapal telah angkat jangkar
meninggalkan riak ombak
dan bekas jari kita di besi tambat
aroma muara yang asing
dan angin bergaram
mengekalkannya dengan karat
Di bandar itu
kapal datang, kapal pergi
seperti Desember ini
Ada sesuatu harus kita catat
mungkin sebuah puisi
Desember 2024





























