Wartatrans.com, JATENG — Dalam sebulan, lebih dari seribu murid dan puluhan guru di daerah Lasem, Rembang Jawa Tengah mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Terkini pada Kamis (03/09/2926), terjadi di SMAN 1 Lasem Jateng. Sejumlah 777 murid dan 25 guru mengalami diare, mual, hingga muntah. Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menjelaskan kronologinya. “Hari Kamis sekitar pukul 07.30, ratusan murid mendadak berhamburan ke toilet karena diare. Mereka bergantian masuk toilet dan 40 toilet yang ada tidak mampu menampung semuanya. Padahal malamnya sudah diare tapi baru lapor hari ini,” kata Juhartutik.

Dugaan sementara diare dikarenakan menyantap MBG di hari Rabu (02/09/2026). Menu yang disajikan dari SPPG Desa Soditan adalah berupa nasi, ayam bakar, sambal teri, tempe goreng dan lalapan.
Atas kejadian ini, banyak korban mengajukan rujukan medis ke sejumlah rumah sakit dan sebagian menjalani rawat inap. Rinciannya adalah 4 siswa dirawat di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, 1 siswa di RS Bhina Bhakti Husada, dan 1 orang guru harus dirawat Puskesmas Sulang.
Pada bagian lain, Dinas Kesehatan Rembang mengambil langkah darurat dengan menerjunkan tim medis ke sekolah terdampak. Satu per satu murid diperiksa untuk memastikan kondisi kesehatannya. Kalau ada gejala atau keluhan, langsung diberi obat sesuai diagnosanya.

Kasus keracunan MBG ini bukan yang pertama terjadi di Rembang dalam sebulan. Pada 4 Agustus 2026 lalu, dugaan keracunan MBG juga terjadi. 306 pelajar dan guru dari beberapa sekolah terdampak menu MBG yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mondoteko. Rincian jumlah korban adalah 260 pelajar SMPN 5 Rembang, 30 siswa SD Islam Nawawiyah Tasikagung, dan 16 anak dari SMP Islam Nawawiyah.
Menanggapi kejadian ini, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakannya sebagai peristiwa keracunan luar biasa yang tidak terjadi setiap hari. “Artinya terjadi kelalaian dan akan ada evaluasi. Bagi siswa penerima MBG, pemprov bakal terus mendampingi dan memberikan edukasi,” ujar Gus Yasin.
Yasin yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program MBG Jateng menegaskan bahwa program Presiden Prabowo ini merupakan bagian niat dan giat pemerintah untuk memberikan kebutuhan gizi. Dari sejak program ini jalan, sejumlah sekolah menerima program tanpa penolakan.

Ketika ditanya kemungkinan MBG dihentikan, Yasin menjawabnya dengan meminta jangan ada pemikiran seperti itu. “Setiap program pasti ada oknumnya, termasuk MBG. Terus, kalau bilang seperti itu maka nantinya semua ditutup. Ibarat lainnya, kalau ada yang korupsi berarti pemerintahnya harus ditutup kan ya enggak gitu,” jelasnya.*** (Aditiya Widodo Putra)


























