Wartatrans.com, TAKENGON — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) mendorong penguatan ekosistem perfilman daerah melalui program Sinema Rakyat Aceh Tengah yang digelar di Takengon, Jumat (18/9/2026).
Program yang dilaksanakan melalui Deputi Bidang Kreativitas Media tersebut tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga workshop dan bazar kreatif. Rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat perfilman daerah dari sisi pengembangan cerita, peningkatan kapasitas talenta, akses dan distribusi karya, pembentukan penonton, hingga aktivitas ekonomi kreatif di tingkat lokal.
Workshop Sinema Rakyat yang berlangsung di Museum Aceh Gayo diikuti sekitar 70 peserta. Mereka berasal dari komunitas film, pegiat literasi dan budaya, pelajar, mahasiswa, serta kreator lokal.
Materi workshop berfokus pada dua hal penting, yakni bagaimana menggali cerita lokal menjadi gagasan film serta memahami ekosistem dan strategi distribusi agar karya yang diproduksi dapat menemukan penontonnya.
Perwakilan Badan Perfilman Indonesia (BPI), Arfan Sabran, membahas pengembangan karya lokal menuju layar lebar. Ia menekankan pentingnya memikirkan strategi distribusi sejak tahap awal produksi.
Sementara itu, sutradara sekaligus founder Wanavisual, Anggi Kurniawan, mengajak peserta menggali cerita dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Pengalaman lokal, menurut materi workshop, dapat dikembangkan menjadi gagasan film dengan menentukan sudut pandang cerita yang kuat.
Selain workshop, masyarakat Aceh Tengah juga memperoleh akses terhadap beragam film melalui program Layar Alternatif. Pemutaran film berlangsung sejak pagi hingga malam dan dihadiri sekitar 250 penonton.
Sejumlah film yang diputar antara lain Nussa yang disutradarai Bony Wirasmono, Keluarga Cemara 1 karya Yandy Laurens, serta dua film lokal, Depik Terakhir karya Fachri Zikrillah dan Adli Ridha, dan Tree in White karya Jamaluddin Phonna.
Rangkaian pemutaran kemudian ditutup dengan film Seni Merayu Tuhan yang disutradarai Cesa David Luckmansyah.
Kehadiran film lokal menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Karya sineas daerah dipertemukan langsung dengan masyarakat sebagai penonton, sekaligus membuka ruang bagi publik untuk mengenal karya yang lahir dari lingkungan dan pengalaman mereka sendiri.
Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Doni Setiawan, mengatakan pembangunan ekosistem film tidak semata-mata berkaitan dengan produksi karya, tetapi juga menyangkut akses dan budaya menonton.

“Membangun ekosistem film juga berarti memperluas akses dan membangun budaya menonton. Kita ingin anak-anak mengenal film sejak dini, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan tontonan, dan pada saat yang sama karya-karya sineas lokal mendapatkan ruang untuk diapresiasi di daerahnya sendiri,” ujar Doni.
Bazar Kreatif Libatkan Pelaku Usaha Lokal
Rangkaian Sinema Rakyat Aceh Tengah juga dilengkapi Bazar Kreatif yang melibatkan 25 pelaku usaha. Mereka menghadirkan berbagai produk kreatif lokal, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk kreatif lainnya.
Bazar tersebut menjadi ruang interaksi antara pelaku usaha dengan masyarakat sekaligus memberikan kesempatan bagi produk lokal untuk lebih dikenal dan memperluas dampak ekonomi dari penyelenggaraan kegiatan kreatif di daerah.
Sinema Rakyat Aceh Tengah merupakan bagian dari program EKRAF Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya, yang masuk dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.
Melalui program tersebut, Kemenekraf/Bekraf tidak hanya diarahkan untuk mendukung pemulihan masyarakat, tetapi juga membuka ruang bagi aktivitas kreatif dan penguatan ekonomi lokal.
Aceh Tengah sendiri memiliki kekayaan cerita yang bersumber dari budaya, tradisi lisan, sejarah, serta dinamika kehidupan masyarakat. Kekayaan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi karya audio-visual dengan perspektif lokal sekaligus menjangkau penonton yang lebih luas.
Melalui Sinema Rakyat, pengembangan ekosistem perfilman daerah diupayakan berjalan secara lebih utuh: memperkuat talenta dan narasi lokal, mempertemukan karya dengan penonton, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi pelaku kreatif.
Dengan pendekatan tersebut, ekosistem perfilman di daerah diharapkan tidak berhenti pada satu kali kegiatan, tetapi berkembang menjadi kapasitas dan kesempatan yang lebih berkelanjutan bagi para pegiat ekonomi kreatif Aceh Tengah.*** (Jasa)


























