Wartatrans.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menargetkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) masuk dalam jajaran 10 bandara terbaik dunia pada 2029. Target tersebut dinilai memungkinkan seiring tren peningkatan peringkat Soetta dalam pemeringkatan bandara dunia versi Skytrax.
Pernyataan itu disampaikan AHY saat memimpin Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan di Kantor Kemenko IPK, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut AHY, Soetta menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari peringkat 51 dunia pada 2022, bandara terbesar di Indonesia itu naik ke posisi 25 pada 2025 dan kembali meningkat ke peringkat 22 pada 2026.
“Proyeksi kita di 2027, 2028, 2029, kenapa tidak kita punya ambisi untuk masuk ke 10 besar. Saya pikir ini feasible, bukan sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan kita,” ujar AHY.
Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, serta sejumlah pejabat terkait. Pemerintah membahas tiga agenda utama, yakni penyusunan landasan hukum, penyusunan rencana aksi khusus untuk Soetta, serta mekanisme monitoring dan evaluasi bandara internasional.
Tantangan Bukan Lagi Infrastruktur
Meski optimistis, berbagai tantangan masih membayangi ambisi tersebut. Data operasional menunjukkan Soetta sempat melayani 63 juta penumpang pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, pendapatan non-aeronautika seperti retail, parkir, dan penyewaan ruang menyumbang sekitar 58 persen dari total pendapatan Angkasa Pura II.
Namun pandemi membuat jumlah penumpang turun drastis hingga sekitar 21 juta pada 2020–2021. Memasuki masa pemulihan, Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mencatat jumlah penumpang pada 2024 mencapai 53 juta orang atau sekitar 84 persen dari level sebelum pandemi.
Meski demikian, struktur pasar berubah. Penerbangan domestik kini mendominasi hingga 78 persen, sementara trafik internasional yang memiliki margin lebih tinggi belum sepenuhnya pulih dan masih berada sekitar 65 persen dibandingkan capaian 2019.
Kondisi tersebut membuat pendapatan per penumpang (revenue per passenger) belum kembali ke level pra-pandemi. Di sisi lain, pertumbuhan pasar domestik juga mulai melambat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan penumpang domestik hanya 4,1 persen secara tahunan, turun dibandingkan 11,3 persen pada 2023.
Koordinasi Lintas Instansi Jadi Sorotan
Persoalan utama yang dihadapi Soetta saat ini dinilai bukan lagi kapasitas terminal, melainkan tingginya biaya transaksi dan waktu proses layanan. Audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 2025 menemukan sejumlah inefisiensi yang berasal dari tumpang tindih layanan lintas instansi.
AHY mengakui bahwa kelemahan utama terletak pada aspek tata kelola dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
“Permasalahan utama adalah belum optimalnya tata kelola kolaborasi lintas pemangku kepentingan,” katanya.
Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Taufik Mulyono, menilai peningkatan peringkat dari posisi 22 ke 10 dunia membutuhkan perbaikan yang lebih mendasar pada kualitas layanan.
“Naik dari peringkat 22 ke 10 bukan soal menambah terminal. Itu soal waktu proses, keterintegrasian data, dan keandalan Kereta Bandara. Saat ini penumpang masih terjebak di tiga titik, yakni antrean imigrasi, inkonsistensi ground handling, dan konektivitas Damri maupun Kereta Bandara yang belum real time,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa pembenahan pada aspek tersebut, posisi Soetta berpotensi stagnan di kisaran 15 hingga 20 besar dunia.
Fokus pada Integrasi dan Digitalisasi
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah berencana memperkuat konektivitas antarmoda transportasi menuju bandara, meningkatkan integrasi layanan, serta mempercepat transformasi digital, termasuk sistem pelaporan dan deklarasi penumpang.
Target pemerintah cukup ambisius, yakni meningkatkan posisi Soetta sebanyak 12 peringkat dalam tiga tahun ke depan agar mampu bersaing dengan bandara-bandara papan atas dunia seperti bandara di Doha, Hong Kong, dan Seoul.
Meski target telah ditetapkan, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah membangun koordinasi lintas kementerian dan lembaga serta menghadirkan layanan yang lebih cepat, terintegrasi, dan efisien bagi pengguna jasa bandara.***
(Artha Tidar)






























