Wartatrans.com, JAKARTA – Uji pendaratan dan lepas landas pesawat tempur di Tol Pasuruan–Probolinggo (Paspro), Jawa Timur, pada Kamis (22/10/2026) menjadi pengujian pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif pesawat TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Pengujian serupa lebih dahulu pernah dilakukan di Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka), Lampung, pada medio Februari 2026.
Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menjelaskan, uji di Paspro bertujuan mengukur kesiapan operasional sekaligus kemampuan memanfaatkan infrastruktur jalan sebagai landasan alternatif.
“Uji coba ini merupakan bagian dari upaya TNI AU untuk menguji kesiapan operasional serta kemampuan kami memanfaatkan infrastruktur daerah, terutama jalan tol sebagai landasan alternatif dalam mendukung operasi udara,” kata Tonny di Probolinggo, Kamis (22/10/2026).
Dalam pengujian tersebut, TNI AU mengerahkan dua pesawat EMB-314 Super Tucano dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, serta dua F-16 Fighting Falcon dari Lanud Iswahjudi, Madiun.
Pesawat melakukan pendaratan dan lepas landas pada segmen Tol Paspro dari kilometer 834 hingga kilometer 837+500, dengan lebar ruas sekitar 24 meter.
Tonny menegaskan, penggunaan jalan tol sebagai landasan alternatif bersifat terbatas dan situasional.
“Misalnya kami sudah tidak bisa menggunakan lagi landasan atau bandara atau pangkalan udara untuk digunakan kepentingan operasi penerbangan, maka kami dapat memanfaatkan jalan tol atau infrastruktur daerah lainnya sebagai landasan alternatif atau alternate runway bagi operasi penerbangan,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan pada Jumat (24/7/2026) bahwa pemerintah menyiapkan empat ruas tol untuk fungsi landasan darurat, yakni Banda Aceh–Sigli, Jakarta–Cikampek II Selatan, Terpeka, dan Probolinggo–Banyuwangi.
“Pemanfaatan ruas tol sebagai landasan darurat ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun Kementerian PU memiliki fungsi ganda, tidak hanya untuk mobilitas masyarakat dan logistik, tetapi juga untuk mendukung kesiapsiagaan nasional,” kata Dody.
“Banda Aceh–Sigli juga sedang kita siapkan. Dalam kondisi normal ruas tersebut tetap digunakan sebagai jalan tol. Namun dalam kondisi darurat dapat dibuka dan dimanfaatkan untuk pendaratan maupun lepas landas pesawat tempur TNI AU.”
Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana menyebut pada Selasa (11/8/2026) bahwa Tol Probolinggo–Banyuwangi masih dalam kajian untuk kemungkinan penggunaan sebagai landasan alternatif.
“Itu jadi salah satu rencana, tapi hingga saat ini masih ditinjau,” kata Nyoman.
Ia menjelaskan, pembahasan teknis juga mencakup persiapan yang cermat dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan pada setiap tahap kegiatan.
Meski sama-sama digunakan untuk pengujian pendaratan dan lepas landas, Paspro dan Terpeka belum dapat dibandingkan secara menyeluruh hanya berdasarkan keberhasilan kegiatan.
Panjang segmen yang digunakan bukan otomatis panjang landasan efektif; karakteristik pesawat, kondisi permukaan, konfigurasi jalan, ruang bebas hambatan, serta prosedur pengamanan turut menentukan kelayakan operasional.
Karena itu, hasil evaluasi teknis TNI AU dan Kementerian PU menjadi penting untuk mengukur kesiapan setiap ruas secara objektif. Informasi mengenai batasan operasional, kebutuhan penyesuaian infrastruktur, serta biaya pemeliharaan juga diperlukan agar fungsi pertahanan tidak mengurangi keselamatan pengguna jalan dan kelancaran distribusi logistik.
Pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif dapat memperluas pilihan dukungan operasi udara tanpa harus membangun pangkalan baru di setiap wilayah.
Namun, manfaat strategis tersebut perlu ditopang standar teknis yang terukur, koordinasi lintas lembaga, dan transparansi evaluasi agar investasi infrastruktur tetap memberi nilai bagi pertahanan sekaligus perekonomian.(Artha Tidar)


























