Wartatrans.com, PALU — Dampak gempa bumi yang menimpa sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah membawa konsekwensi yang tidak ringan. Selain menimbulkan kerugian fisik dan materi, gempa juga meninggalkan dampak psikologis bagi masyarakat, terutama anak-anak.
Sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada masyaraka, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesi (PSI) Sulawesi Tengah (Sulteng) menurunkan tim guna memberikan pendampingan trauma healing kepada anak – anak yang terdampak gempa bumi di Desa Lembantongoa Kabupaten Sigi, pada Sabtu 20 Juni dan Minggu 21 Juni 2026.

Kegiatan ini sebagai bentuk tanggap profesional terhadap kondisi phisikososial anak yang mengalami tekanan emosional setelah gempa berkekuatan 6,7 magnitudo menerjang desa mereka.
“Kami hadir untuk memberikan moral dan phisikologis kepada anak-anak agar tetap semangat belajar dengan rasa aman dan penuh harapan” kata Wakil Ketua DPW PSI Sulteng Verawaty Pangkey.
Menurut Vey sapaan arabnya, trauma healing ini melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif. Tujuannya agar anak-anak merasa aman dan nyaman.
“Kami mengajak anak-anak bermain bersama melalui permainan ringan dan interaktif untuk mencairkan suasana serta mengalihkan perhatian mereka dari pengalaman traumatis akibat bencana,” ungkapnya.
Selain bermain, Ia dan beberapa relawan lainnya ternasuk Ketua Departemen Komunitas DPW PSI Sulteng, Amir Sidik Lamporo, mengadakan sesi tanya jawab sederhana untuk mendorong anak-anak bercerita mengekspresikan perasaan serta membangun komunikasi dengan hangat. Pendekatan ini akan membatu anak- anak karena mereka merasa di dengar dan di perhatikan.
Alhamdulillah antusias anak-anak, sangat tinggi. Merea terlihat aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan, bersemangat saat bermain, serta berani menjawab maupun mengajukan pertanyaan.
“Anak-anak tampak ceria dan menikmati kebersamaan dengan para relawan,” tandasnya.
Amir Sidik berharap melalui kegiatan ini anak-anak dapat kembali bersemangat, merasa lebih bahagia, serta perlahan pulih dari kesedihan dan trauma yang dialami.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri anak- anak serta menumbuhkan kembali keceriaan dan semangat belajar mereka,” pungkasnya.*** (RBP)

























