Wartatrans.com, TAKENGON — Jalur dan jembatan Enang Enang di perbatasan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah kembali menjadi perhatian masyarakat. Infrastruktur peninggalan kolonial Belanda yang selama puluhan tahun menjadi penghubung vital dua kabupaten di Dataran Tinggi Gayo itu kini mengalami kerusakan dan dikhawatirkan semakin parah apabila tidak segera ditangani pemerintah.
Bagi masyarakat setempat, Enang Enang bukan sekadar jalan penghubung. Jalur tersebut menyimpan banyak kenangan dan nilai historis yang melekat kuat dalam kehidupan warga Gayo. Tidak sedikit warga yang mengenang kawasan itu sebagai tempat persinggahan untuk melepas lelah sambil menikmati dinginnya air Enang Enang saat melakukan perjalanan jauh.

Namun, kondisi jalan nasional tersebut kini mulai memprihatinkan. Kerusakan akibat longsor dan timbunan material tanah serta batu mulai mengganggu akses masyarakat.
Warga Desa Taman Firdaus, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Qadri (40 tahun), mengatakan kerusakan di jalur Enang Enang sebenarnya masih tergolong ringan dan masih memungkinkan untuk segera diperbaiki.
“Jalan itu sangat layak diperbaiki sekarang juga. Sebenarnya tidak terlalu parah longsornya. Yang terjadi hanya jalan tertimbun tanah dan batu. Kalau ada bagian jalan yang putus, jalurnya tinggal dipindahkan sedikit saja,” kata Qadri, Selasa (26/5/2026).
Menurut dia, penanganan pada bagian jembatan juga tidak memerlukan pekerjaan besar. Pemerintah, kata dia, dapat membuat jalur sementara agar kendaraan tetap bisa melintas.
“Jalannya bisa diturunkan sedikit atau dibuat jembatan sementara dulu. Saya melihat kerusakan di Enang Enang ini masih jauh lebih ringan dibanding jalan Tenge Besi dulu, tetapi Tenge Besi bisa diperbaiki. Jadi Enang Enang juga pasti bisa,” ujarnya.
Qadri menilai perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan tidak semakin meluas seperti yang terjadi pada jalur alternatif menuju Simpang Lancang. Menurut dia, kondisi jalan di kawasan itu kini rusak berat hingga menyebabkan antrean panjang kendaraan dan membahayakan pengguna jalan.
“Kalau dibiarkan terlalu lama, masyarakat yang paling dirugikan. Jangan sampai akses Enang Enang putus total dan warga tidak lagi memiliki jalan alternatif,” katanya.
Selain menjadi akses penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pengangkutan hasil bumi seperti kopi dan sayuran, Enang Enang juga dianggap sebagai bagian dari warisan sejarah yang perlu dijaga keberadaannya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalur tersebut agar tetap dapat digunakan masyarakat sekaligus mempertahankan nilai sejarah yang telah melekat selama puluhan tahun di kawasan Dataran Tinggi Gayo.*** (Basar/BSG)


























