Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta.
Lokasi menjadi bagian dari nilai subsidi karena penghuni tinggal di simpul transportasi utama tanpa harus mencari hunian murah jauh dari pusat kegiatan ekonomi.

Groundbreaking tiga tower Blok G dijadwalkan Jumat (21/8/2026).
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan Blok G siap dibangun, sedangkan Blok F masih dalam proses pembersihan lahan.
“Sehingga total kita nanti akan punya 2,2 hektare, itu nanti delapan tower. Semuanya MBR,” ujar Bobby di Manggarai, Selasa (18/8/2026).
Blok G mencakup 6.925 meter persegi dengan tiga tower dan 1.232 unit. Blok F seluas 15.014 meter persegi akan memiliki lima tower dengan sekitar 2.508 unit, sehingga total pengembangan mencapai sekitar 3.740 unit. Unit terdiri atas tipe 28, 36, dan 45, seluruhnya rumah susun milik.
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Sri Haryati menyebutkan, harga jual tertinggi di Jakarta Pusat ditetapkan Rp14,5 juta per meter persegi.
“Jadi kalau KAI ternyata bisa lebih rendah dan sebagainya nanti diserahkan pada pengembang,” ujar Sri.
Dari sisi pembiayaan, Bank Tabungan Negara (BTN) menyiapkan kredit pemilikan rumah bersubsidi. Deputy Subsidized Mortgage Division BTN Umi Hardinajati menyebut simulasi unit Rp500 juta membutuhkan uang muka 1 persen atau Rp5 juta, dengan cicilan sekitar Rp2,9 juta selama 30 tahun pada bunga 6 persen.
“Cukup membayar angsuran per bulannya Rp2,9 juta, fix selama 30 tahun,” kata Umi.
Groundbreaking Manggarai menjadi titik penting untuk memastikan keunggulan lokasi, subsidi dan lahan KAI diikuti kepastian pembangunan hingga serah terima.
Kasus properti LRT City menunjukkan kedekatan transportasi publik tidak menghapus risiko pembiayaan dan tata kelola proyek.
Data Colliers per kuartal I 2026 menunjukkan 29.000 unit apartemen di Jakarta belum terserap dari total 206.000 unit, menandakan lokasi strategis saja belum cukup menjamin permintaan.
Karena itu, Manggarai menjadi model penting: subsidi bukan hanya soal cicilan murah, tetapi juga ongkos transportasi, waktu perjalanan dan kepastian hunian.
“Jika biaya total hidup MBR turun, pemanfaatan aset strategis BUMN di sekitar stasiun dapat menjadi pola baru penyediaan hunian perkotaan,” tutup Umi. (Artha Tidar)
































