Menu

Mode Gelap
Pameran Maestro Film Indonesia 2026 Angkat Jejak Asrul Sani Kadisbudpar Jabar Iendra Sofyan Buka Pameran “KDM”, Seni Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Mahalnya Ongkos Logistik Indonesia Calvin Dores Penerus Deddy Dores Rilis ‘Sampai Kapankah’ di HUT RI-81: Merdeka itu Bebas dari Belenggu Kehidupan! Ika Kartika Kembali Ke Musik, Kini Bersama RAL Entertainment FGD Penguatan Kelembagaan di Simeulue Dorong Pengembangan Potensi Alam, Ekonomi, dan Layanan Sosial

EKOBIS

Mahalnya Ongkos Logistik Indonesia

badge-check


 Mahalnya Ongkos Logistik Indonesia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Biaya logistik Indonesia sebesar 14,29% dari PDB. Kedengarannya cuma angka? Coba bayangkan dengan PDB 2022 sekitar Rp19.588 triliun, sehingga biaya logistik pada saat itu setara ±Rp2.800 triliun.

Medhi Cahyono, Warehouse & Inventory Specialist mengatakan, negara maju umumnya sekitar 7,5-8,5% PDB. “Jadi gap efisiensinya masih gede banget. Yang lebih menarik: nggak semua barang kena “pajak logistik” yang sama,” katanya dalam LinkedIn, Senin (17/8/2026).

Misalkan, Jagung: 44%, Beras: 38,7%, Ikan: 37,8%,Minyak sawit: 34,7%, Oli mesin: 39,7%, Pupuk: 25,5%. Sementara: Pakaian: 2,3%, Obat: 0,6%, Cat: 0,7%, Ponsel: 0,1% dan Kayu: 0,04%.

“Data Bappenas menunjukkan perbedaan ini sangat besar antar-komoditas,” katanya.

Menurutnya, masalah logistik Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan satu resep. Barang bernilai rendah tapi berat/bulky dan tersebar-seperti pangan, ikan, pupuk-paling sensitif terhadap ongkos transportasi.

Sebaliknya, barang bernilai tinggi bisa punya rantai distribusi yang sama ribetnya, tapi biaya logistiknya terlihat kecil dibanding harga jual. Dan struktur biaya kita masih berat di transportasi: 8,79% PDB, dibanding pergudangan & inventory 3,19% dan administrasi 2,30%.

Artinya, Indonesia bukan cuma butuh jalan, pelabuhan, tol, dan kapal. Indonesia membutuhkan multimoda yang benar-benar nyambung, konsolidasi muatan & backhaul, cold chain untuk pangan, warehouse dekat consumption center, digitalisasi end-to-end, last-mile yang lebih efisien, distribusi berbasis karakter komoditas, bukan one-size-fits-all.

Pemerintah menargetkan biaya logistik sekitar 12,5% pada 2029 dalam rancangan teknokratik RPJMN dan menuju 8% pada 2045. Bahkan pada 2026, Kemenhub kembali menekankan integrasi multimoda dan digitalisasi sebagai kunci menekan biaya.

Tambahnya, untuk Indonesia, efisiensi logistik bukan sekadar soal “biar perusahaan lebih untung”. Ini soal harga beras, jagung, ikan, pupuk, inflasi pangan, dan disparitas harga Jawa vs Indonesia Timur.

“Kalau ongkos memindahkan barang turun, yang menikmati bukan cuma supply chain manager-tapi konsumen juga,” tutupnya.*** (Septiadi)

Baca Lainnya

BPS: Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbuh 5,65 Persen

18 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Momentum Hari Kemerdekaan Ke-81 RI, PTPN I Perluas Akses Pasar UMKM Binaan

18 Agustus 2026 - 07:34 WIB

Potensi Kerugian Pascagempa Flores masih Dihitung

18 Agustus 2026 - 06:31 WIB

Kementerian Perumahan Bedah 10.300 Rumah di Jakarta

18 Agustus 2026 - 06:21 WIB

ASDP Perkuat Konektivitas, Dorong Percepatan Distribusi Bantuan Gempa NTT

17 Agustus 2026 - 22:41 WIB

PELNI Mulai Angkut Bantuan Pascagempa NTT dengan KM Tidar

17 Agustus 2026 - 22:33 WIB

Citilink Terbangi Rute Bandung ke Medan, Denpasar, Surabaya, Palembang, dan Balikpapan

17 Agustus 2026 - 22:25 WIB

PNM Jadikan Semangat Kemerdekaan sebagai Energi Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro

17 Agustus 2026 - 14:23 WIB

GGRM Suntik Rp200 Miliar, Bandara Dhoho Hadapi Balik Modal 26 Tahun

17 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

16 Agustus 2026 - 18:25 WIB

Trending di ANJUNGAN