Wartatrans.com, JAKARTA — Biaya logistik Indonesia sebesar 14,29% dari PDB. Kedengarannya cuma angka? Coba bayangkan dengan PDB 2022 sekitar Rp19.588 triliun, sehingga biaya logistik pada saat itu setara ±Rp2.800 triliun.
Medhi Cahyono, Warehouse & Inventory Specialist mengatakan, negara maju umumnya sekitar 7,5-8,5% PDB. “Jadi gap efisiensinya masih gede banget. Yang lebih menarik: nggak semua barang kena “pajak logistik” yang sama,” katanya dalam LinkedIn, Senin (17/8/2026).

Misalkan, Jagung: 44%, Beras: 38,7%, Ikan: 37,8%,Minyak sawit: 34,7%, Oli mesin: 39,7%, Pupuk: 25,5%. Sementara: Pakaian: 2,3%, Obat: 0,6%, Cat: 0,7%, Ponsel: 0,1% dan Kayu: 0,04%.
“Data Bappenas menunjukkan perbedaan ini sangat besar antar-komoditas,” katanya.
Menurutnya, masalah logistik Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan satu resep. Barang bernilai rendah tapi berat/bulky dan tersebar-seperti pangan, ikan, pupuk-paling sensitif terhadap ongkos transportasi.
Sebaliknya, barang bernilai tinggi bisa punya rantai distribusi yang sama ribetnya, tapi biaya logistiknya terlihat kecil dibanding harga jual. Dan struktur biaya kita masih berat di transportasi: 8,79% PDB, dibanding pergudangan & inventory 3,19% dan administrasi 2,30%.
Artinya, Indonesia bukan cuma butuh jalan, pelabuhan, tol, dan kapal. Indonesia membutuhkan multimoda yang benar-benar nyambung, konsolidasi muatan & backhaul, cold chain untuk pangan, warehouse dekat consumption center, digitalisasi end-to-end, last-mile yang lebih efisien, distribusi berbasis karakter komoditas, bukan one-size-fits-all.
Pemerintah menargetkan biaya logistik sekitar 12,5% pada 2029 dalam rancangan teknokratik RPJMN dan menuju 8% pada 2045. Bahkan pada 2026, Kemenhub kembali menekankan integrasi multimoda dan digitalisasi sebagai kunci menekan biaya.
Tambahnya, untuk Indonesia, efisiensi logistik bukan sekadar soal “biar perusahaan lebih untung”. Ini soal harga beras, jagung, ikan, pupuk, inflasi pangan, dan disparitas harga Jawa vs Indonesia Timur.
“Kalau ongkos memindahkan barang turun, yang menikmati bukan cuma supply chain manager-tapi konsumen juga,” tutupnya.*** (Septiadi)





























