Menu ✖

Mode Gelap
Dedit Cahyo Ponadi Terpilih sebagai Spark KAI Services September 2026 Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP KAI Group Layani 394,4 Juta Pelanggan hingga September 2026, Tumbuh 7,06 Persen Kendaraan Roda Tiga, Menakar Peluang dan Tantangan jadi Angkutan Umum Kemenhub Dorong Penguatan Kolaborasi Ekosistem Maritim Kemenhub Dorong Layanan Penumpang Lebih Mudah dan Terintegrasi saat di Bandara

EKOBIS

Mahalnya Ongkos Logistik Indonesia

badge-check


 Mahalnya Ongkos Logistik Indonesia Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Biaya logistik Indonesia sebesar 14,29% dari PDB. Kedengarannya cuma angka? Coba bayangkan dengan PDB 2022 sekitar Rp19.588 triliun, sehingga biaya logistik pada saat itu setara ±Rp2.800 triliun.

Medhi Cahyono, Warehouse & Inventory Specialist mengatakan, negara maju umumnya sekitar 7,5-8,5% PDB. “Jadi gap efisiensinya masih gede banget. Yang lebih menarik: nggak semua barang kena “pajak logistik” yang sama,” katanya dalam LinkedIn, Senin (17/8/2026).

Misalkan, Jagung: 44%, Beras: 38,7%, Ikan: 37,8%,Minyak sawit: 34,7%, Oli mesin: 39,7%, Pupuk: 25,5%. Sementara: Pakaian: 2,3%, Obat: 0,6%, Cat: 0,7%, Ponsel: 0,1% dan Kayu: 0,04%.

“Data Bappenas menunjukkan perbedaan ini sangat besar antar-komoditas,” katanya.

Menurutnya, masalah logistik Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan satu resep. Barang bernilai rendah tapi berat/bulky dan tersebar-seperti pangan, ikan, pupuk-paling sensitif terhadap ongkos transportasi.

Sebaliknya, barang bernilai tinggi bisa punya rantai distribusi yang sama ribetnya, tapi biaya logistiknya terlihat kecil dibanding harga jual. Dan struktur biaya kita masih berat di transportasi: 8,79% PDB, dibanding pergudangan & inventory 3,19% dan administrasi 2,30%.

Artinya, Indonesia bukan cuma butuh jalan, pelabuhan, tol, dan kapal. Indonesia membutuhkan multimoda yang benar-benar nyambung, konsolidasi muatan & backhaul, cold chain untuk pangan, warehouse dekat consumption center, digitalisasi end-to-end, last-mile yang lebih efisien, distribusi berbasis karakter komoditas, bukan one-size-fits-all.

Pemerintah menargetkan biaya logistik sekitar 12,5% pada 2029 dalam rancangan teknokratik RPJMN dan menuju 8% pada 2045. Bahkan pada 2026, Kemenhub kembali menekankan integrasi multimoda dan digitalisasi sebagai kunci menekan biaya.

Tambahnya, untuk Indonesia, efisiensi logistik bukan sekadar soal “biar perusahaan lebih untung”. Ini soal harga beras, jagung, ikan, pupuk, inflasi pangan, dan disparitas harga Jawa vs Indonesia Timur.

“Kalau ongkos memindahkan barang turun, yang menikmati bukan cuma supply chain manager-tapi konsumen juga,” tutupnya.*** (Septiadi)

Baca Lainnya

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Industri Pelayaran Kejar Nilai Ekspor, Bukan Sekadar Tambah Kapal

6 Oktober 2026 - 17:04 WIB

BNI Tawarkan Investasi SBN SBR015 via wondr, Imbal Hasil hingga 6,85%

6 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Yes, BNI Tingkatkan Layanan Keuangan Digital bagi Nasabah Emerald dan Private

6 Oktober 2026 - 14:35 WIB

Joumpa Masuk di Layanan wondr, BNI Perluas Ekosistem Perjalanan

6 Oktober 2026 - 04:54 WIB

Hajatan FIFGROUP Pondok Gede Hadirkan Beragam Promo, Hiburan, dan Kegiatan Sosial untuk Masyarakat

4 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Apresiasi Pencapaian Prestasi Bank Jakarta oleh Kamaksi

4 Oktober 2026 - 21:15 WIB

Kolaborasi Diperkuat, Terminal Teluk Lamong dan KSOP Utama Tanjung Perak Tingkatkan Pelayanan Kapal

3 Oktober 2026 - 06:19 WIB

Trending di ANJUNGAN