Wartatrans.com, SIMEULUE — Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kelembagaan yang digelar di Kabupaten Simeulue berlangsung lancar dan mendapat antusiasme luar biasa dari para peserta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Simeulue Lestari di bawah koordinasi Yustil Yunus tersebut menjadi ruang bersama untuk menggali berbagai persoalan sekaligus merumuskan potensi dan langkah strategis pembangunan daerah, Senin (17/08/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Mutia Sari, ST, MSM, utusan dari UIN Sultanah Nahrasiyah, hadir sebagai narasumber. FGD juga diikuti berbagai unsur, di antaranya anggota DPRK, Kodim Simeulue, Lanal Simeulue, Dinas Kesehatan, Tagana, Basarnas, PMI, SAR, RAPI, lembaga lingkungan hidup, Baitul Mal, serta sejumlah unsur masyarakat lainnya.

Kegiatan FGD dilaksanakan setelah memperoleh izin dari pemerintah setempat dan mendapat dukungan dari Bupati, Wakil Bupati, serta Sekretaris Daerah Simeulue.
Menurut Mutia Sari, kegiatan tersebut tidak hanya berhenti pada diskusi di dalam ruangan. Selama beberapa hari, para peserta juga melakukan diskusi dan turun langsung melihat berbagai potensi alam serta persoalan yang ada di sejumlah wilayah Simeulue.
“Kesimpulan saya pribadi, Simeulue menyimpan pesona alam yang luar biasa. Potensi ini harus terus dikembangkan sehingga kunjungan wisatawan tidak hanya ramai pada bulan-bulan tertentu,” ujar Mutia.
Ia menilai, salah satu cara meningkatkan kunjungan wisatawan adalah dengan memperbanyak kegiatan atau event yang dikemas secara menarik dan berkelanjutan. Event tersebut diharapkan mampu menarik wisatawan lokal, luar daerah, hingga wisatawan mancanegara.
Selain sektor pariwisata, Mutia juga menyoroti potensi ekonomi masyarakat yang dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan.
Potensi Garam hingga Perikanan
Simeulue memiliki potensi garam dengan kandungan yang disebut cukup tinggi. Namun, menurut Mutia, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh keberadaan UMKM pengolahan garam dalam skala yang memadai.
Ke depan, UMKM pengolahan garam dinilai dapat dibentuk, dibina dan dikembangkan menjadi sentra produksi. Pemerintah juga diharapkan dapat membantu proses perizinan, pemasaran dan distribusi produk agar mampu menembus pasar di luar Simeulue, termasuk supermarket dan pusat perbelanjaan.
Potensi lainnya adalah sektor perikanan. Hasil perikanan Simeulue yang melimpah dinilai dapat menjadi bahan baku berbagai industri rumah tangga dan UMKM, seperti pengolahan ikan kayu maupun tepung ikan.
“Kalau dikelola dengan baik, hasil perikanan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi bisa memberikan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,” katanya.
Kelapa dan Produk Turunan
Komoditas kelapa juga menjadi salah satu potensi besar Simeulue. Mutia mengapresiasi telah berdirinya pabrik Virgin Coconut Oil (VCO) di daerah tersebut.
Namun, menurutnya, masih banyak peluang industri turunan kelapa yang dapat dikembangkan, antara lain produksi nata de coco dan kerajinan berbahan batok kelapa.
Dengan pengembangan industri turunan tersebut, masyarakat tidak hanya menjual kelapa sebagai komoditas mentah, tetapi dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Potensi terumbu karang di kawasan pesisir juga mendapat perhatian. Keberadaan terumbu karang yang cukup banyak dinilai dapat dikembangkan secara bijak menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan kerajinan masyarakat, dengan tetap memperhatikan aspek konservasi dan kelestarian lingkungan.
Penguatan PMI dan Layanan Kesehatan
Dalam FGD tersebut juga muncul perhatian terhadap keberadaan PMI di Simeulue yang selama ini banyak bergerak dengan semangat kerelawanan.
Mutia menyebut, PMI di Simeulue masih menghadapi keterbatasan dalam hal operasional serta belum memiliki Unit Transfusi Darah (UTD) dan bank darah yang memadai.
Karena itu, persoalan tersebut diharapkan dapat dibicarakan lebih lanjut bersama pemerintah daerah dan dinas terkait agar pelayanan kemanusiaan dan kebutuhan darah masyarakat dapat semakin kuat.
Persoalan lain yang turut disoroti adalah belum optimalnya keberadaan rumah singgah bagi masyarakat Simeulue yang harus mendapatkan rujukan layanan kesehatan, baik di Simeulue maupun di Banda Aceh.
Pertanian, Sampah, dan Infrastruktur Digital
Di sektor pertanian, Mutia melihat peluang pengembangan industri pengolahan padi. Produksi padi yang melimpah perlu didukung dengan fasilitas penggilingan dan pengolahan yang mampu menghasilkan beras siap kemas sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.
Sementara dalam pengelolaan lingkungan, potensi pengolahan sampah menjadi pupuk juga dinilai menjanjikan. Namun, keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala. Jika dukungan peralatan dapat diberikan, pengolahan sampah berpotensi menjadi kegiatan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
Persoalan konektivitas internet juga menjadi perhatian. Sejumlah objek wisata masih memiliki akses internet yang belum lancar. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat promosi destinasi wisata Simeulue ke dunia luar.
“Potensi wisata yang bagus harus didukung dengan akses informasi yang bagus. Kalau jaringan internet tersedia di kawasan wisata, masyarakat dan pelaku wisata akan lebih mudah mempromosikan potensi Simeulue melalui berbagai platform digital,” jelasnya.
Penguatan Organisasi dan Dana Sosial
Selain menggali potensi ekonomi dan lingkungan, FGD juga membahas penguatan kelembagaan masyarakat, khususnya dalam menangani persoalan sosial.
Mutia memberikan arahan mengenai sejumlah alternatif sumber pembiayaan kegiatan sosial, mulai dari penggalangan donasi, dana CSR, dana hibah hingga pembentukan komunitas sosial berbasis masyarakat.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pembentukan grup komunikasi seperti “Komunitas Sedekah Umat” yang dapat menjadi wadah penghimpunan dan penyaluran bantuan untuk masyarakat fakir miskin dan anak-anak yatim di Simeulue.
Menurutnya, organisasi tersebut perlu melibatkan berbagai elemen agar dapat menjadi pusat informasi sosial. Dengan sistem komunikasi yang terintegrasi, setiap informasi mengenai masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat segera diteruskan dan ditindaklanjuti oleh unsur terkait.
Menuju Simeulue yang Lebih Mandiri
Tujuan utama FGD Penguatan Kelembagaan ini adalah menyamakan persepsi, menggali persoalan dan potensi, serta merumuskan langkah strategis bersama untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, keterampilan dan kinerja individu maupun organisasi.
Mutia berharap hasil diskusi tidak berhenti sebagai catatan kegiatan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi dan komunitas.
“Semoga hasil FGD ini dapat menjadi bahan untuk pembahasan dan kerja bersama selanjutnya. Simeulue memiliki banyak potensi. Yang dibutuhkan adalah kelembagaan yang kuat, kolaborasi dan keberlanjutan agar potensi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Mutia.
Kegiatan FGD Simeulue Lestari tersebut telah selesai dilaksanakan dengan lancar. Para peserta berharap berbagai gagasan yang muncul dapat diteruskan dalam program nyata demi penguatan ekonomi, sosial, lingkungan, kesehatan, pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Simeulue.*** (Jasa)


























