Wartatrans.com, JAKARTA – Industri teknologi nirawak nasional menunjukkan pertumbuhan yang semakin pesat. Sedikitnya 24 industri kecil dan menengah (IKM) telah memproduksi drone dalam negeri di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi nirawak untuk sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, logistik, konstruksi, keamanan, hingga penanggulangan bencana. Perkembangan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri manufaktur berbasis teknologi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Teknologi nirawak tidak hanya mencakup pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV), tetapi juga kendaraan darat tanpa awak (unmanned ground vehicle/UGV), kapal permukaan tanpa awak (unmanned surface vehicle/USV), serta kendaraan bawah air seperti remotely operated vehicle (ROV) dan autonomous underwater vehicle (AUV). Pemanfaatannya terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan otomatisasi di berbagai sektor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan, Senin (23/2/2026), Kementerian Perindustrian mencatat sedikitnya 24 IKM telah memproduksi drone dalam negeri. Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menjelaskan pemerintah memperkuat ekosistem industri melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, dan program Startup for Industry guna mempercepat lahirnya produk berdaya saing.
Berdasarkan laporan Indonesia Drone Market Size & Outlook 2026–2033 yang diterbitkan Grand View Research, Inc., nilai pasar pesawat tanpa awak (UAV) Indonesia diperkirakan mencapai US$622,1 juta atau sekitar Rp10 triliun pada 2026, meningkat dari US$523,2 juta pada 2025. Pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 13,3 persen hingga mencapai sekitar US$1,488 miliar pada 2033. Besarnya potensi pasar membuka peluang peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi, serta penguatan industri komponen dalam negeri.
Meski demikian, tantangan masih besar. Kementerian Perindustrian melalui Indonesia Manufacturing Center (IMC) mencatat komponen bernilai tambah tinggi seperti flight control unit, sensor, dan motor masih bergantung pada impor. Hingga 2025, enam perusahaan telah memperoleh sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk tujuh produk drone pertanian dengan nilai TKDN berkisar 15–44 persen, menunjukkan industri nasional mulai membangun kemampuan produksi komponen lokal.
Di tingkat regional, Indonesia merupakan salah satu pasar drone terbesar di Asia Tenggara. Namun, Singapura masih unggul dalam riset dan pengembangan teknologi nirawak, sedangkan Malaysia lebih maju dalam sertifikasi dan penguatan ekosistem industrinya. Karena itu, penguasaan teknologi inti menjadi faktor penentu agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen utama di kawasan.
Penguatan tersebut mulai terlihat pada berbagai implementasi. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr. Ir. Udrekh, S.E., M.Sc. menjelaskan, Kamis (9/4/2026), teknologi nirawak telah dimanfaatkan untuk mitigasi hingga penanganan bencana. Di sisi lain, pengamat militer dan keamanan Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai penguasaan sensor, sistem navigasi, perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan komponen elektronik akan menjadi kunci daya saing industri nasional. Senada dengan itu, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Wayan Toni Supriyanto menegaskan, dalam kesempatan berbeda pada Rabu (8/7/2026), Indonesia perlu memperkuat riset, sumber daya manusia, dan industri komponen agar mampu menjadi pemain utama industri teknologi nirawak di Asia Tenggara.*** (Artha Tidar)






























