Menu

Mode Gelap
Ketua ALA dan ABAS Perkuat Silaturahmi di Jakarta untuk Pemekaran Provinsi di Aceh ALA dan ABAS Perkuat Silaturahmi di Jakarta, Satukan Dukungan Pemekaran untuk Pemerataan Pembangunan KAI Services Perkuat Kompetensi Frontliner untuk Jaga Kualitas Pelayanan 2 Isu Mengemuka Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Apa Saja? KAI Commuter Kembali Operasikan KRL CLI 225 di Lintas Bogor HUT ke-81, KAI Dorong Transformasi Transportasi Berkelanjutan

TEKNOLOGI

24 IKM Dorong Industri Drone RI, Pasar Diproyeksi Rp10 Triliun

badge-check


 24 IKM Dorong Industri Drone RI, Pasar Diproyeksi Rp10 Triliun Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Industri teknologi nirawak nasional menunjukkan pertumbuhan yang semakin pesat. Sedikitnya 24 industri kecil dan menengah (IKM) telah memproduksi drone dalam negeri di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi nirawak untuk sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, logistik, konstruksi, keamanan, hingga penanggulangan bencana. Perkembangan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri manufaktur berbasis teknologi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Teknologi nirawak tidak hanya mencakup pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV), tetapi juga kendaraan darat tanpa awak (unmanned ground vehicle/UGV), kapal permukaan tanpa awak (unmanned surface vehicle/USV), serta kendaraan bawah air seperti remotely operated vehicle (ROV) dan autonomous underwater vehicle (AUV). Pemanfaatannya terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan otomatisasi di berbagai sektor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan, Senin (23/2/2026), Kementerian Perindustrian mencatat sedikitnya 24 IKM telah memproduksi drone dalam negeri. Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menjelaskan pemerintah memperkuat ekosistem industri melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, dan program Startup for Industry guna mempercepat lahirnya produk berdaya saing.

Berdasarkan laporan Indonesia Drone Market Size & Outlook 2026–2033 yang diterbitkan Grand View Research, Inc., nilai pasar pesawat tanpa awak (UAV) Indonesia diperkirakan mencapai US$622,1 juta atau sekitar Rp10 triliun pada 2026, meningkat dari US$523,2 juta pada 2025. Pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 13,3 persen hingga mencapai sekitar US$1,488 miliar pada 2033. Besarnya potensi pasar membuka peluang peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi, serta penguatan industri komponen dalam negeri.

Meski demikian, tantangan masih besar. Kementerian Perindustrian melalui Indonesia Manufacturing Center (IMC) mencatat komponen bernilai tambah tinggi seperti flight control unit, sensor, dan motor masih bergantung pada impor. Hingga 2025, enam perusahaan telah memperoleh sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk tujuh produk drone pertanian dengan nilai TKDN berkisar 15–44 persen, menunjukkan industri nasional mulai membangun kemampuan produksi komponen lokal.

Di tingkat regional, Indonesia merupakan salah satu pasar drone terbesar di Asia Tenggara. Namun, Singapura masih unggul dalam riset dan pengembangan teknologi nirawak, sedangkan Malaysia lebih maju dalam sertifikasi dan penguatan ekosistem industrinya. Karena itu, penguasaan teknologi inti menjadi faktor penentu agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen utama di kawasan.

Penguatan tersebut mulai terlihat pada berbagai implementasi. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Udrekh menjelaskan, Kamis (9/4/2026), teknologi nirawak telah dimanfaatkan untuk mitigasi hingga penanganan bencana. Di sisi lain, pengamat militer dan keamanan Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai penguasaan sensor, sistem navigasi, perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan komponen elektronik akan menjadi kunci daya saing industri nasional. Senada dengan itu, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Wayan Toni Supriyanto menegaskan, dalam kesempatan berbeda pada Rabu (8/7/2026), Indonesia perlu memperkuat riset, sumber daya manusia, dan industri komponen agar mampu menjadi pemain utama industri teknologi nirawak di Asia Tenggara.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Trafik Pelabuhan Regional 2 Meningkat, Pelindo Catat Pertumbuhan Arus Petikemas dan Barang hingga Agustus 2026

23 September 2026 - 17:32 WIB

KSOP Utama Tanjung Perak Pastikan Kesiapan E-RTG Baru di Terminal Petikemas Nilam

22 September 2026 - 22:33 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Dialog Lewat BWL

22 September 2026 - 18:16 WIB

KAI Divre III Palembang Perluas PLTS 40 kWp di Dua Depo

22 September 2026 - 14:21 WIB

ABUPI dan IIEA Jalin Kerja Sama, Dorong Standar dan Tata Kelola Badan Usaha Pelabuhan

18 September 2026 - 09:19 WIB

Kereta Makan M1 Kian Nyaman, KAI Services Perkuat Pengalaman Kuliner Penumpang

18 September 2026 - 06:44 WIB

Semangat Hari Perhubungan Nasional, DAMRI Akan Terus Hadir Menghubungkan Indonesia

17 September 2026 - 22:12 WIB

Pelindo Solusi Digital Memasuki Babak Baru sebagai Penggerak Integrasi Ekosistem Maritim

16 September 2026 - 22:41 WIB

Bansos Digital Jangkau 50 Juta Warga

11 September 2026 - 21:31 WIB

Pasar Tablet Indonesia Tumbuh, TECNO Tambah Varian

10 September 2026 - 17:42 WIB

Trending di EKOBIS