Menu ✖

Mode Gelap
INACA Dorong Percepatan Pembebasan Pajak Suku Cadang Pesawat AHY Menanggapi Penghentian Pembangunan Pusat Data AI oleh Gubernur Jabar KDM Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

RAGAM

Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo

badge-check


 Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON —Pengibaran bendera Alam Pedang, berwarna merah dengan simbol bulan bintang dan pedang, mulai terlihat di sejumlah sudut Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Fenomena ini dinilai menjadi momentum untuk kembali merawat identitas historis, adat istiadat, dan warisan peradaban masyarakat Gayo.

Founder Linge Antara Institute, Zam Zam Mubarak, menyebut pengibaran Alam Pedang bukan sekadar simbol, melainkan pengingat terhadap perjalanan sejarah Aceh dan hubungan historisnya dengan masyarakat Gayo.

Menurut Zam Zam, Selasa (13/10/2026), Alam Pedang memiliki makna penting dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.

“Dalam sejarahnya, Alam Pedang adalah bendera resmi Kesultanan Aceh Darussalam. Bendera ini telah menjadi identitas historis yang mempersatukan wilayah Aceh, dari pesisir hingga pedalaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, simbol bulan sabit, bintang, pedang, dan warna merah merepresentasikan nilai-nilai peradaban Islam, keberanian, serta semangat menjaga hukum dan adat istiadat.

“Bendera Alam Pedang punya makna peradaban sekaligus spirit kebangkitan Aceh. Ketika ia berkibar di Gayo, itu artinya masyarakat Gayo sedang mengingat kembali jati dirinya,” kata Zam Zam.

Kerajaan Linge dan Sejarah Aceh

Zam Zam juga menyoroti hubungan historis antara Kerajaan Linge dan Kesultanan Aceh Darussalam. Menurutnya, sejarah Gayo tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pembentukan peradaban Aceh.

Ia menempatkan Kerajaan Linge sebagai salah satu pusat sejarah penting masyarakat Gayo yang perlu terus diteliti, dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi muda.

“Dalam perjalanan panjang Kesultanan Aceh, kita tidak bisa melepaskan peran dan silsilah Kerajaan Linge. Linge adalah cikal bakal, Linge adalah hulu. Para sultan Aceh banyak yang memiliki garis keturunan dan legitimasi dari Linge,” ungkapnya.

Zam Zam memandang pengibaran Alam Pedang di Tanah Gayo sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan hubungan budaya antara wilayah pedalaman dengan pusat Kesultanan Aceh Darussalam.

“Ketika Alam Pedang berkibar di Gayo, itu adalah pertemuan kembali antara hulu dan hilir, antara Linge dan Darussalam,” tambahnya.

Namun, penelusuran mengenai hubungan genealogis antara Kerajaan Linge dan para sultan Aceh tetap memerlukan dukungan sumber sejarah yang dapat diverifikasi agar warisan tersebut dapat dipahami secara utuh.

Qanun Adat Gayo Jadi Payung Hukum

Selain melalui simbol sejarah, Zam Zam menilai penguatan identitas masyarakat Gayo perlu didukung kebijakan dan regulasi yang memberikan perlindungan terhadap adat istiadat serta warisan budaya.

Ia menyambut proses pembahasan Qanun Adat Gayo yang disebut telah masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) 2026 di DPRK Aceh Tengah.

Menurutnya, keberadaan qanun tersebut diharapkan menjadi landasan hukum untuk melindungi dan mengembangkan adat istiadat, hukum adat, bahasa, serta kekayaan budaya Gayo.

Warisan budaya seperti Kerawang Gayo, kesenian Didong, dan sistem kelembagaan adat Sarak Opat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Gayo yang perlu dijaga keberlanjutannya.

“Qanun Adat Gayo akan menjadi payung hukum untuk melindungi, merawat, dan menguatkan adat istiadat, hukum adat, bahasa, serta warisan budaya Gayo,” jelasnya.

Ia berharap proses legislasi tersebut dapat berjalan dengan melibatkan tokoh adat, masyarakat, budayawan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan agar aturan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Kebangkitan Identitas yang Damai dan Bermartabat

Zam Zam menegaskan, kebangkitan identitas historis Gayo seharusnya diwujudkan melalui pelestarian budaya, penguatan adat, pendidikan sejarah, dan pembangunan masyarakat yang bermartabat.

Baginya, simbol sejarah dan regulasi adat merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan untuk menjaga keberlanjutan identitas masyarakat Gayo di tengah perubahan zaman.

“Kebangkitan masyarakat adat Gayo hari ini adalah kebangkitan yang damai, bermartabat, dan berakar pada sejarah. Alam Pedang sebagai warisan budaya, dan Qanun Adat sebagai payung hukumnya,” tuturnya.

Pengibaran Alam Pedang di Takengon pun menjadi perhatian masyarakat. Berdasarkan keterangan dalam laporan tersebut, pemasangan bendera berlangsung tertib dan damai.

Fenomena ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mendalami kembali sejarah Kerajaan Linge, perjalanan Kesultanan Aceh Darussalam, serta pentingnya perlindungan adat dan kebudayaan Gayo.

Bagi masyarakat Gayo, merawat sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjaga identitas dan mewariskan nilai-nilai peradaban kepada generasi mendatang.*** (Jasa)

Baca Lainnya

Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik

13 Oktober 2026 - 15:27 WIB

H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan

13 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

13 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Kabut Asap Kepung Fakfak, Warga Bertahan di Rumah, Kualitas Udara Mengancam Kesehatan

13 Oktober 2026 - 12:30 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

CELIOS Merilis Menteri Terburuk dan Terbaik 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Siapa Saja?

12 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

Trending di RAGAM