Menu

Mode Gelap
Angkutan Lebaran 2026 KAI Cetak Rekor Tertinggi, Okupansi Harian Tembus Lebih 140% Satgas Antinarkoba Dibentuk, Pemkab Bogor Perluas Jangkauan hingga Desa Perang Timur Tengah Ganggu Ekspor RI, Biaya Logistik Melonjak hingga Tiga Kali Lipat Tiga Titik Tanggul Sungai Tuntang di Demak Jebol Sekaligus, Empat Kecamatan Terendam Air Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z Penumpang Angkutan Laut Lebaran Naik 9,86%, Tembus 2,02 Juta

SENI BUDAYA

Ampas

badge-check


 Ampas Perbesar

Oleh: Nourman Hidayat

______

Wartatrans.com, CERPEN — Aku menghempaskan gelas kopi terakhir ke meja warung. Ampasnya bergetar, menyisakan lingkar hitam di dasar kaca—seperti sesuatu yang telah diminum habis tapi tak pernah benar-benar hilang. Di kepalaku, bayangan buruk berjejal. Mimpi yang tak pernah sempat kuucapkan pada Abua Muih, penyair pesisir kota Sigli, pemilik puisi yang lebih jujur daripada kebanyakan manusia.

Yang merisaukanku bukan listrik yang hobi mati menjelang Ramadhan. Bukan pula suara genset yang meraung seperti doa tercekik. Yang mengusik justru teman-temanku sendiri—mereka yang dulu keras kepala, belajar gerakan revolusi, membedah Madilog Tan Malaka sampai subuh, berteriak tentang rakyat dan keadilan, tapi kini malas bicara. Atau lebih tepatnya, memilih diam.

Mereka saling menyapa di Facebook dengan ucapan manis: “Salam Interaksi.”

Status-status mereka seperti orang baru menenggak combatrin—obat cacing yang viral lintas abad—ngantuk, limbung, tak tahu apa yang hidup di perut mereka sendiri.

“Kau dulu suka meraung dan mencaci maki di depan tamu kampus,” kataku padanya, mengingatkan masa sebelum reformasi.

Ia diam. Matanya menatap meja, seolah di sana tertulis sesuatu yang ingin ia lupakan.

“Kalian hampir mati waktu menyeberangi Sungai Pante Pirak. Demo Habibie,” lanjutku.

Ia menghela napas panjang. Berat. Seperti menyeret karung berisi penyesalan.

Aku tahu, saat itu aku sedang menghakiminya. Dan aku tak merasa bersalah. Aku paling muak melihat aktivis yang kehilangan tulang punggung. Bagi mereka, siapa pun yang dekat dengan rezim—brengsek, koruptor, atau perampok berjubah—selalu bisa disulap jadi sumber harapan.

“Ya,” katanya akhirnya. “Aku terlanjur jadi kacung pemerintah. Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana lagi.”
Ia meludah ke kiri. Ludahnya jatuh kering, tak bermakna.

“Waktu itu, menteri maling pun sempat bikin aku bangga,” tambahnya lirih. Seperti pengakuan dosa yang tak berharap ampun.

Tiba-tiba ia menegakkan badan. Matanya menyala—bukan oleh kesadaran, tapi oleh sesuatu yang lebih licik.

“Tapi… aku masih berharap diajak jadi tim sukses,” katanya.

Dadaku berdesir muak. Uang haram memang bekerja lebih kejam daripada senjata. Ia mengubah idealisme menjadi kelakar, mengerdilkan nurani jadi proposal.

Laki-laki ini terlalu banyak cincong. Rasanya ingin kutampar, agar ia melihat kiri dan kanan. Agar ia tahu kerusakan yang ia dukung selama ini bukan sekadar angka di laporan, tapi banjir yang merendam rumah orang lain, longsor yang mengubur nama-nama tanpa jabatan.

Saat banjir datang, ia senyap. Saat longsor menelan kampung, ia menghilang. Entah bersembunyi di mana—mungkin di balik baliho, mungkin di balik senyum penguasa.

Aku berdiri. Membayar kopi yang sudah dingin.

Sebelum pergi, kulihat lagi gelas di meja. Ampasnya mengendap di dasar. Tak pernah naik, tak pernah tumpah. Hanya menunggu dibuang. Dan untuk pertama kalinya aku sadar: bukan kopi yang pahit hari itu—melainkan manusia yang memilih menjadi ampas.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Badai Siap Poles Peserta Band Academy Jadi Musisi Profesional

3 April 2026 - 12:27 WIB

Komunitas Seni Kuflet Gelar Tur Literasi Sumatera di Jambi, Sasar Kampus hingga Komunitas

3 April 2026 - 05:36 WIB

INDOSIAR Luncurkan “Band Academy”, Upaya Hidupkan Kembali Era Musik Band Indonesia

3 April 2026 - 05:26 WIB

Di Galery Ruang Darmin, Yahya TS Tegaskan Identitas Betawi Lewat Pameran “Betawie Punye Yahye”

2 April 2026 - 09:20 WIB

Dukun Visual di Grup Komik

1 April 2026 - 15:24 WIB

Penyair Taufiq Ismail Terima Buku “Sultanah Safiatudin” dari L K Ara

31 Maret 2026 - 10:44 WIB

Jalin Keakraban, Obor Sastra Gelar Halal Bihalal Penyair dan Sastrawan

30 Maret 2026 - 19:38 WIB

Ahmadun: Buku Mesir Love Story di Bawah Langit Para Nabi Karya Halimah Munawir Menginspirasi

30 Maret 2026 - 18:58 WIB

Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata dengan Jepang, Dukung Strategi Penguatan Pasar Asia Timur

30 Maret 2026 - 08:49 WIB

Peluncuran Buku Karya L K Ara di PDS HB Jassin Berlangsung Khidmat dan Penuh Energi Sastra

28 Maret 2026 - 21:53 WIB

Trending di SENI BUDAYA