Oleh: Nourman Hidayat
______

Wartatrans.com, CERPEN — Aku menghempaskan gelas kopi terakhir ke meja warung. Ampasnya bergetar, menyisakan lingkar hitam di dasar kaca—seperti sesuatu yang telah diminum habis tapi tak pernah benar-benar hilang. Di kepalaku, bayangan buruk berjejal. Mimpi yang tak pernah sempat kuucapkan pada Abua Muih, penyair pesisir kota Sigli, pemilik puisi yang lebih jujur daripada kebanyakan manusia.
Yang merisaukanku bukan listrik yang hobi mati menjelang Ramadhan. Bukan pula suara genset yang meraung seperti doa tercekik. Yang mengusik justru teman-temanku sendiri—mereka yang dulu keras kepala, belajar gerakan revolusi, membedah Madilog Tan Malaka sampai subuh, berteriak tentang rakyat dan keadilan, tapi kini malas bicara. Atau lebih tepatnya, memilih diam.
Mereka saling menyapa di Facebook dengan ucapan manis: “Salam Interaksi.”
Status-status mereka seperti orang baru menenggak combatrin—obat cacing yang viral lintas abad—ngantuk, limbung, tak tahu apa yang hidup di perut mereka sendiri.
“Kau dulu suka meraung dan mencaci maki di depan tamu kampus,” kataku padanya, mengingatkan masa sebelum reformasi.
Ia diam. Matanya menatap meja, seolah di sana tertulis sesuatu yang ingin ia lupakan.
“Kalian hampir mati waktu menyeberangi Sungai Pante Pirak. Demo Habibie,” lanjutku.
Ia menghela napas panjang. Berat. Seperti menyeret karung berisi penyesalan.
Aku tahu, saat itu aku sedang menghakiminya. Dan aku tak merasa bersalah. Aku paling muak melihat aktivis yang kehilangan tulang punggung. Bagi mereka, siapa pun yang dekat dengan rezim—brengsek, koruptor, atau perampok berjubah—selalu bisa disulap jadi sumber harapan.
“Ya,” katanya akhirnya. “Aku terlanjur jadi kacung pemerintah. Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana lagi.”
Ia meludah ke kiri. Ludahnya jatuh kering, tak bermakna.
“Waktu itu, menteri maling pun sempat bikin aku bangga,” tambahnya lirih. Seperti pengakuan dosa yang tak berharap ampun.
Tiba-tiba ia menegakkan badan. Matanya menyala—bukan oleh kesadaran, tapi oleh sesuatu yang lebih licik.
“Tapi… aku masih berharap diajak jadi tim sukses,” katanya.
Dadaku berdesir muak. Uang haram memang bekerja lebih kejam daripada senjata. Ia mengubah idealisme menjadi kelakar, mengerdilkan nurani jadi proposal.
Laki-laki ini terlalu banyak cincong. Rasanya ingin kutampar, agar ia melihat kiri dan kanan. Agar ia tahu kerusakan yang ia dukung selama ini bukan sekadar angka di laporan, tapi banjir yang merendam rumah orang lain, longsor yang mengubur nama-nama tanpa jabatan.
Saat banjir datang, ia senyap. Saat longsor menelan kampung, ia menghilang. Entah bersembunyi di mana—mungkin di balik baliho, mungkin di balik senyum penguasa.
Aku berdiri. Membayar kopi yang sudah dingin.
Sebelum pergi, kulihat lagi gelas di meja. Ampasnya mengendap di dasar. Tak pernah naik, tak pernah tumpah. Hanya menunggu dibuang. Dan untuk pertama kalinya aku sadar: bukan kopi yang pahit hari itu—melainkan manusia yang memilih menjadi ampas.***





























