Menu

Mode Gelap
Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai Pedang, Amanah, dan Marwah Linge Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur  Manusia Di Antara Dua Setan 

SENI BUDAYA

Ampas

badge-check


 Ampas Perbesar

Oleh: Nourman Hidayat

______

Wartatrans.com, CERPEN — Aku menghempaskan gelas kopi terakhir ke meja warung. Ampasnya bergetar, menyisakan lingkar hitam di dasar kaca—seperti sesuatu yang telah diminum habis tapi tak pernah benar-benar hilang. Di kepalaku, bayangan buruk berjejal. Mimpi yang tak pernah sempat kuucapkan pada Abua Muih, penyair pesisir kota Sigli, pemilik puisi yang lebih jujur daripada kebanyakan manusia.

Yang merisaukanku bukan listrik yang hobi mati menjelang Ramadhan. Bukan pula suara genset yang meraung seperti doa tercekik. Yang mengusik justru teman-temanku sendiri—mereka yang dulu keras kepala, belajar gerakan revolusi, membedah Madilog Tan Malaka sampai subuh, berteriak tentang rakyat dan keadilan, tapi kini malas bicara. Atau lebih tepatnya, memilih diam.

Mereka saling menyapa di Facebook dengan ucapan manis: “Salam Interaksi.”

Status-status mereka seperti orang baru menenggak combatrin—obat cacing yang viral lintas abad—ngantuk, limbung, tak tahu apa yang hidup di perut mereka sendiri.

“Kau dulu suka meraung dan mencaci maki di depan tamu kampus,” kataku padanya, mengingatkan masa sebelum reformasi.

Ia diam. Matanya menatap meja, seolah di sana tertulis sesuatu yang ingin ia lupakan.

“Kalian hampir mati waktu menyeberangi Sungai Pante Pirak. Demo Habibie,” lanjutku.

Ia menghela napas panjang. Berat. Seperti menyeret karung berisi penyesalan.

Aku tahu, saat itu aku sedang menghakiminya. Dan aku tak merasa bersalah. Aku paling muak melihat aktivis yang kehilangan tulang punggung. Bagi mereka, siapa pun yang dekat dengan rezim—brengsek, koruptor, atau perampok berjubah—selalu bisa disulap jadi sumber harapan.

“Ya,” katanya akhirnya. “Aku terlanjur jadi kacung pemerintah. Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana lagi.”
Ia meludah ke kiri. Ludahnya jatuh kering, tak bermakna.

“Waktu itu, menteri maling pun sempat bikin aku bangga,” tambahnya lirih. Seperti pengakuan dosa yang tak berharap ampun.

Tiba-tiba ia menegakkan badan. Matanya menyala—bukan oleh kesadaran, tapi oleh sesuatu yang lebih licik.

“Tapi… aku masih berharap diajak jadi tim sukses,” katanya.

Dadaku berdesir muak. Uang haram memang bekerja lebih kejam daripada senjata. Ia mengubah idealisme menjadi kelakar, mengerdilkan nurani jadi proposal.

Laki-laki ini terlalu banyak cincong. Rasanya ingin kutampar, agar ia melihat kiri dan kanan. Agar ia tahu kerusakan yang ia dukung selama ini bukan sekadar angka di laporan, tapi banjir yang merendam rumah orang lain, longsor yang mengubur nama-nama tanpa jabatan.

Saat banjir datang, ia senyap. Saat longsor menelan kampung, ia menghilang. Entah bersembunyi di mana—mungkin di balik baliho, mungkin di balik senyum penguasa.

Aku berdiri. Membayar kopi yang sudah dingin.

Sebelum pergi, kulihat lagi gelas di meja. Ampasnya mengendap di dasar. Tak pernah naik, tak pernah tumpah. Hanya menunggu dibuang. Dan untuk pertama kalinya aku sadar: bukan kopi yang pahit hari itu—melainkan manusia yang memilih menjadi ampas.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

30 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur 

30 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan

29 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Trending di SENI BUDAYA