Menu ✖

Mode Gelap
Festival Sastra Jakarta 2026, Perkuat Komunitas dan Regenerasi Sastrawan Naik Kereta Saat Hamil Ada Aturannya, KAI Wajibkan Surat Kesehatan dan Pendamping Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas

SENI BUDAYA

Ampas

badge-check


 Ampas Perbesar

Oleh: Nourman Hidayat

______

Wartatrans.com, CERPEN — Aku menghempaskan gelas kopi terakhir ke meja warung. Ampasnya bergetar, menyisakan lingkar hitam di dasar kaca—seperti sesuatu yang telah diminum habis tapi tak pernah benar-benar hilang. Di kepalaku, bayangan buruk berjejal. Mimpi yang tak pernah sempat kuucapkan pada Abua Muih, penyair pesisir kota Sigli, pemilik puisi yang lebih jujur daripada kebanyakan manusia.

Yang merisaukanku bukan listrik yang hobi mati menjelang Ramadhan. Bukan pula suara genset yang meraung seperti doa tercekik. Yang mengusik justru teman-temanku sendiri—mereka yang dulu keras kepala, belajar gerakan revolusi, membedah Madilog Tan Malaka sampai subuh, berteriak tentang rakyat dan keadilan, tapi kini malas bicara. Atau lebih tepatnya, memilih diam.

Mereka saling menyapa di Facebook dengan ucapan manis: “Salam Interaksi.”

Status-status mereka seperti orang baru menenggak combatrin—obat cacing yang viral lintas abad—ngantuk, limbung, tak tahu apa yang hidup di perut mereka sendiri.

“Kau dulu suka meraung dan mencaci maki di depan tamu kampus,” kataku padanya, mengingatkan masa sebelum reformasi.

Ia diam. Matanya menatap meja, seolah di sana tertulis sesuatu yang ingin ia lupakan.

“Kalian hampir mati waktu menyeberangi Sungai Pante Pirak. Demo Habibie,” lanjutku.

Ia menghela napas panjang. Berat. Seperti menyeret karung berisi penyesalan.

Aku tahu, saat itu aku sedang menghakiminya. Dan aku tak merasa bersalah. Aku paling muak melihat aktivis yang kehilangan tulang punggung. Bagi mereka, siapa pun yang dekat dengan rezim—brengsek, koruptor, atau perampok berjubah—selalu bisa disulap jadi sumber harapan.

“Ya,” katanya akhirnya. “Aku terlanjur jadi kacung pemerintah. Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana lagi.”
Ia meludah ke kiri. Ludahnya jatuh kering, tak bermakna.

“Waktu itu, menteri maling pun sempat bikin aku bangga,” tambahnya lirih. Seperti pengakuan dosa yang tak berharap ampun.

Tiba-tiba ia menegakkan badan. Matanya menyala—bukan oleh kesadaran, tapi oleh sesuatu yang lebih licik.

“Tapi… aku masih berharap diajak jadi tim sukses,” katanya.

Dadaku berdesir muak. Uang haram memang bekerja lebih kejam daripada senjata. Ia mengubah idealisme menjadi kelakar, mengerdilkan nurani jadi proposal.

Laki-laki ini terlalu banyak cincong. Rasanya ingin kutampar, agar ia melihat kiri dan kanan. Agar ia tahu kerusakan yang ia dukung selama ini bukan sekadar angka di laporan, tapi banjir yang merendam rumah orang lain, longsor yang mengubur nama-nama tanpa jabatan.

Saat banjir datang, ia senyap. Saat longsor menelan kampung, ia menghilang. Entah bersembunyi di mana—mungkin di balik baliho, mungkin di balik senyum penguasa.

Aku berdiri. Membayar kopi yang sudah dingin.

Sebelum pergi, kulihat lagi gelas di meja. Ampasnya mengendap di dasar. Tak pernah naik, tak pernah tumpah. Hanya menunggu dibuang. Dan untuk pertama kalinya aku sadar: bukan kopi yang pahit hari itu—melainkan manusia yang memilih menjadi ampas.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Festival Sastra Jakarta 2026, Perkuat Komunitas dan Regenerasi Sastrawan

2 November 2026 - 13:18 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara

2 November 2026 - 05:27 WIB

Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang

2 November 2026 - 03:41 WIB

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Pelajar se-Sumatera Barat Pentas Bersama dalam Penutupan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi

30 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Momen Sumpah Pemuda, Itab Purnama “Si Drumer Formula Langit” Rilis ‘Tersimpan Rapi’, Tembus Puluhan Ribu Views di YouTube

30 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Trending di SENI BUDAYA