Menu ✖

Mode Gelap
Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

SUMBER DAYA

API Banyuwangi Siapkan SDM Penerbangan Berkompeten

badge-check


 API Banyuwangi Perbesar

API Banyuwangi

Wartatrans.com, BANYUWANGI – Industri penerbangan Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM), yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, berinovasi, serta menjunjung tinggi integritas dan budaya keselamatan.

Kesiapan talenta tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam membangun daya saing industri penerbangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk, Letjen TNI (Purn.) Glenny Kairupan, dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Yudisium V dan Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, Selasa (11/8/2026).

Orasi ilmiah yang mengangkat tema “Membangun Aviasi Talent Ecosystem: Hari Ini Menyiapkan Indonesia Menjadi Kekuatan Penerbangan Dunia pada Tahun 2045” menyoroti kebutuhan membangun ekosistem talenta penerbangan, yang mampu menjawab perubahan industri secara berkelanjutan.

Mengusung tema “Building The Gap, Elevating The Sky” Sinergi Industri dan Vokasi Aviasi dalam Mencetak SDM Berdaya Saing Global dan Berbudaya Keselamatan, kegiatan ini menekankan sinergi industri dan vokasi aviasi dalam mencetak SDM yang berdaya saing global sekaligus menjunjung tinggi budaya keselamatan.

Glenny mengatakan, dunia penerbangan sedang memasuki fase transformasi yang berlangsung semakin cepat.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), komputasi awan, analisis data, otomatisasi, predictive maintenance, smart airport, hingga pengembangan Green Aviation akan mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di industri penerbangan.

Perkembangan teknologi juga mencakup pesawat listrik, teknologi hidrogen, Advanced Air Mobility, drone, dan kendaraan udara nirawak.

Menurutnya, perubahan tersebut harus diantisipasi sejak proses pendidikan agar lulusan yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan industri.

“Kompetensi yang dibutuhkan sepuluh tahun lalu tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan di tahun-tahun ke depan,” ujar Glenny.

Dia menilai, industri penerbangan menghadapi tantangan talent gap, yaitu kesenjangan antara kebutuhan kompetensi industri yang berkembang cepat dengan kemampuan lembaga pendidikan dalam menghasilkan SDM yang sesuai.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada produktivitas dan daya saing industri bila tidak diantisipasi melalui kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pendidikan dan dunia kerja.

Karena itu, perguruan tinggi vokasi perlu memiliki kurikulum yang dinamis dan responsif terhadap perkembangan industri.

Proses pembelajaran juga perlu diperkuat melalui pengalaman nyata di lingkungan industri, sehingga lulusan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.

“Operator penerbangan tidak dapat lagi hanya menjadi pengguna lulusan, melainkan harus menjadi mitra strategis dalam membangun kompetensi sejak proses pendidikan berlangsung,” kata Glenny.

Menurutnya, kebutuhan tersebut dapat dijawab melalui pembangunan Aviasi Talent Ecosystem, yaitu ekosistem kolaborasi yang menghubungkan perguruan tinggi, operator penerbangan, regulator, industri pendukung, lembaga sertifikasi, pusat riset, dan dunia usaha dalam suatu sistem yang terintegrasi.

Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi vokasi tidak hanya berfungsi sebagai penghasil lulusan, tetapi juga sebagai pusat inovasi, pengembangan kompetensi, laboratorium industri, dan pembelajaran sepanjang hayat.

Industri juga perlu terlibat dalam penyusunan kurikulum, program magang, sertifikasi profesi, penelitian bersama, serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik.

Glenny menyampaikan, enam pilar yang perlu diperkuat dalam membangun ekosistem tersebut, yaitu kurikulum berbasis kompetensi masa depan, digital learning dengan pemanfaatan simulasi, virtual reality, dan AI, praktik kerja industri yang terstruktur dan berkelanjutan, riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan industri, kolaborasi internasional, serta pembelajaran sepanjang hayat.

Indonesia dinilai memiliki modal untuk menjadi aviation talent hub di kawasan Asia Pasifik melalui bonus demografi, jaringan pendidikan vokasi, perkembangan industri penerbangan, dan posisi geografis yang strategis.

“Namun, potensi tersebut perlu didukung sinergi antarpemangku kepentingan agar pembangunan SDM berjalan seiring dengan perkembangan industri,” kata dia.

Glenny menegaskan, kemajuan industri penerbangan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan infrastruktur.

Manusia tetap menjadi faktor utama yang menentukan bagaimana teknologi dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab.

“Investasi terbesar adalah membangun SDM atau sumber daya manusia, talenta yang memiliki kompetensi global, karakter yang kuat, budaya keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan semangat inovasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mendorong generasi muda penerbangan untuk mampu mengantisipasi perkembangan teknologi yang berpotensi memunculkan kebutuhan baru di industri.

Salah satunya adalah perkembangan penggunaan drone yang membutuhkan kesiapan regulasi agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara aman dan tertib.

Selain kompetensi teknis, Glenny menekankan pentingnya karakter dan kepemimpinan.

Dia memperkenalkan akronim PILOT sebagai gambaran nilai yang perlu dimiliki seorang profesional sekaligus calon pemimpin, yaitu Professional, Intellectual, Loyal, Objective, dan Trust.

Professional mencerminkan kompetensi dan integritas. Intellectual mencakup rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inisiatif.

Loyal berkaitan dengan kesetiaan dan komitmen. Objective berarti mampu melihat fakta berdasarkan data secara akurat, terbuka, analitis, dan tidak bias.

Sementara Trust mencakup kejujuran, integritas, kompetensi, komunikasi efektif, empati, konsistensi, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

“Ini semua dari pengertian PILOT bisa Saudara rangkum untuk menjadi seorang pemimpin yang baik,” ujarnya.

Pesan tersebut disampaikan kepada 53 yudisiawan yang mengikuti Yudisium V dari tiga kelompok pendidikan.

Mereka adalah 11 yudisiawan Program Studi Diploma III Penerbang Sayap Tetap Angkatan V, 18 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Alpha, dan 24 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Bravo.

Seluruh yudisiawan memperoleh gelar akademik Ahli Madya Transportasi (A.Md.Tra) setelah menyelesaikan pendidikan dan memenuhi ketentuan kelulusan.

Sementara itu, penutupan pendidikan dan pelatihan diikuti 22 peserta, terdiri atas tujuh peserta Program Non-Diploma Penerbang Sayap Tetap Angkatan XXV dan 15 peserta Executive Pilot Program.

Para peserta memeroleh lisensi penerbang yang mencakup Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), Instrument Rating (IR), dan Multi Engine Rating (MER) sesuai dengan program yang ditempuh.

Direktur API Banyuwangi menempatkan proses pendidikan vokasi penerbangan sebagai bagian dari upaya menyiapkan SDM, yang mampu menjawab kebutuhan industri saat ini sekaligus menghadapi perkembangan industri pada masa mendatang.

Bagi para lulusan, penyelesaian pendidikan menjadi awal dari tanggung jawab profesional yang lebih besar.

Kompetensi yang diperoleh selama pendidikan perlu diterapkan melalui praktik kerja yang mengutamakan keselamatan, profesionalisme, integritas, kemampuan beradaptasi, dan pembelajaran berkelanjutan.

Glenny menutup orasinya dengan menekankan bahwa pembangunan talenta penerbangan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan teknis dan penguasaan teknologi, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Menurutnya, kemampuan memahami dan merasakan kondisi orang lain merupakan bagian penting dari kualitas seorang manusia dan pemimpin.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi penerbangan Indonesia yang tidak hanya kompeten menghadapi transformasi teknologi, tetapi juga memiliki karakter, budaya keselamatan, integritas, dan tanggung jawab untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (omy)

 

Baca Lainnya

Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah

1 Oktober 2026 - 08:58 WIB

Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global

1 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

53 PPNS Ditjen Perhubungan Laut Dilantik

30 September 2026 - 07:41 WIB

AirNav-Airbus Teken MoU Efisiensi dan Keberlanjutan Ruang Udara Indonesia

30 September 2026 - 07:31 WIB

Pelindo Solusi Digital dan Surveyor Indonesia Perkuat Kolaborasi Digital untuk Ekosistem Maritim

29 September 2026 - 23:07 WIB

Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

29 September 2026 - 23:00 WIB

Trending di ANJUNGAN