Menu

Mode Gelap
Mulai 14 Agustus, KAI Buka Promo Tiket Kereta Diskon 17 Persen untuk HUT RI API Banyuwangi Siapkan SDM Penerbangan Berkompeten Seniman Gayo dan PFN Bahas Rencana Film Radio Rimba Raya, Menghidupkan Kembali Suara Perjuangan dari Tanah Gayo Haji Fikri Soroti Promosi Miras Berkedok Tantangan Hafalan Al-Qur’an Libur Panjang HUT ke-81 RI, KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 76 Perjalanan KA Jarak Jauh per Hari Kebakaran KMP Putri Yasmin di Perairan Bali, Kemenhub Gerak Cepat Penanganan Bersama Tim SAR

SUMBER DAYA

API Banyuwangi Siapkan SDM Penerbangan Berkompeten

badge-check


 API Banyuwangi Perbesar

API Banyuwangi

Wartatrans.com, BANYUWANGI – Industri penerbangan Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM), yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, berinovasi, serta menjunjung tinggi integritas dan budaya keselamatan.

Kesiapan talenta tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam membangun daya saing industri penerbangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk, Letjen TNI (Purn.) Glenny Kairupan, dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Yudisium V dan Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, Selasa (11/8/2026).

Orasi ilmiah yang mengangkat tema “Membangun Aviasi Talent Ecosystem: Hari Ini Menyiapkan Indonesia Menjadi Kekuatan Penerbangan Dunia pada Tahun 2045” menyoroti kebutuhan membangun ekosistem talenta penerbangan, yang mampu menjawab perubahan industri secara berkelanjutan.

Mengusung tema “Building The Gap, Elevating The Sky” Sinergi Industri dan Vokasi Aviasi dalam Mencetak SDM Berdaya Saing Global dan Berbudaya Keselamatan, kegiatan ini menekankan sinergi industri dan vokasi aviasi dalam mencetak SDM yang berdaya saing global sekaligus menjunjung tinggi budaya keselamatan.

Glenny mengatakan, dunia penerbangan sedang memasuki fase transformasi yang berlangsung semakin cepat.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), komputasi awan, analisis data, otomatisasi, predictive maintenance, smart airport, hingga pengembangan Green Aviation akan mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di industri penerbangan.

Perkembangan teknologi juga mencakup pesawat listrik, teknologi hidrogen, Advanced Air Mobility, drone, dan kendaraan udara nirawak.

Menurutnya, perubahan tersebut harus diantisipasi sejak proses pendidikan agar lulusan yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan industri.

“Kompetensi yang dibutuhkan sepuluh tahun lalu tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan di tahun-tahun ke depan,” ujar Glenny.

Dia menilai, industri penerbangan menghadapi tantangan talent gap, yaitu kesenjangan antara kebutuhan kompetensi industri yang berkembang cepat dengan kemampuan lembaga pendidikan dalam menghasilkan SDM yang sesuai.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada produktivitas dan daya saing industri bila tidak diantisipasi melalui kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pendidikan dan dunia kerja.

Karena itu, perguruan tinggi vokasi perlu memiliki kurikulum yang dinamis dan responsif terhadap perkembangan industri.

Proses pembelajaran juga perlu diperkuat melalui pengalaman nyata di lingkungan industri, sehingga lulusan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.

“Operator penerbangan tidak dapat lagi hanya menjadi pengguna lulusan, melainkan harus menjadi mitra strategis dalam membangun kompetensi sejak proses pendidikan berlangsung,” kata Glenny.

Menurutnya, kebutuhan tersebut dapat dijawab melalui pembangunan Aviasi Talent Ecosystem, yaitu ekosistem kolaborasi yang menghubungkan perguruan tinggi, operator penerbangan, regulator, industri pendukung, lembaga sertifikasi, pusat riset, dan dunia usaha dalam suatu sistem yang terintegrasi.

Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi vokasi tidak hanya berfungsi sebagai penghasil lulusan, tetapi juga sebagai pusat inovasi, pengembangan kompetensi, laboratorium industri, dan pembelajaran sepanjang hayat.

Industri juga perlu terlibat dalam penyusunan kurikulum, program magang, sertifikasi profesi, penelitian bersama, serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik.

Glenny menyampaikan, enam pilar yang perlu diperkuat dalam membangun ekosistem tersebut, yaitu kurikulum berbasis kompetensi masa depan, digital learning dengan pemanfaatan simulasi, virtual reality, dan AI, praktik kerja industri yang terstruktur dan berkelanjutan, riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan industri, kolaborasi internasional, serta pembelajaran sepanjang hayat.

Indonesia dinilai memiliki modal untuk menjadi aviation talent hub di kawasan Asia Pasifik melalui bonus demografi, jaringan pendidikan vokasi, perkembangan industri penerbangan, dan posisi geografis yang strategis.

“Namun, potensi tersebut perlu didukung sinergi antarpemangku kepentingan agar pembangunan SDM berjalan seiring dengan perkembangan industri,” kata dia.

Glenny menegaskan, kemajuan industri penerbangan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan infrastruktur.

Manusia tetap menjadi faktor utama yang menentukan bagaimana teknologi dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab.

“Investasi terbesar adalah membangun SDM atau sumber daya manusia, talenta yang memiliki kompetensi global, karakter yang kuat, budaya keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan semangat inovasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mendorong generasi muda penerbangan untuk mampu mengantisipasi perkembangan teknologi yang berpotensi memunculkan kebutuhan baru di industri.

Salah satunya adalah perkembangan penggunaan drone yang membutuhkan kesiapan regulasi agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara aman dan tertib.

Selain kompetensi teknis, Glenny menekankan pentingnya karakter dan kepemimpinan.

Dia memperkenalkan akronim PILOT sebagai gambaran nilai yang perlu dimiliki seorang profesional sekaligus calon pemimpin, yaitu Professional, Intellectual, Loyal, Objective, dan Trust.

Professional mencerminkan kompetensi dan integritas. Intellectual mencakup rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inisiatif.

Loyal berkaitan dengan kesetiaan dan komitmen. Objective berarti mampu melihat fakta berdasarkan data secara akurat, terbuka, analitis, dan tidak bias.

Sementara Trust mencakup kejujuran, integritas, kompetensi, komunikasi efektif, empati, konsistensi, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

“Ini semua dari pengertian PILOT bisa Saudara rangkum untuk menjadi seorang pemimpin yang baik,” ujarnya.

Pesan tersebut disampaikan kepada 53 yudisiawan yang mengikuti Yudisium V dari tiga kelompok pendidikan.

Mereka adalah 11 yudisiawan Program Studi Diploma III Penerbang Sayap Tetap Angkatan V, 18 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Alpha, dan 24 yudisiawan Program Studi Diploma III Operasi Pesawat Udara Angkatan IV Bravo.

Seluruh yudisiawan memperoleh gelar akademik Ahli Madya Transportasi (A.Md.Tra) setelah menyelesaikan pendidikan dan memenuhi ketentuan kelulusan.

Sementara itu, penutupan pendidikan dan pelatihan diikuti 22 peserta, terdiri atas tujuh peserta Program Non-Diploma Penerbang Sayap Tetap Angkatan XXV dan 15 peserta Executive Pilot Program.

Para peserta memeroleh lisensi penerbang yang mencakup Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), Instrument Rating (IR), dan Multi Engine Rating (MER) sesuai dengan program yang ditempuh.

Direktur API Banyuwangi menempatkan proses pendidikan vokasi penerbangan sebagai bagian dari upaya menyiapkan SDM, yang mampu menjawab kebutuhan industri saat ini sekaligus menghadapi perkembangan industri pada masa mendatang.

Bagi para lulusan, penyelesaian pendidikan menjadi awal dari tanggung jawab profesional yang lebih besar.

Kompetensi yang diperoleh selama pendidikan perlu diterapkan melalui praktik kerja yang mengutamakan keselamatan, profesionalisme, integritas, kemampuan beradaptasi, dan pembelajaran berkelanjutan.

Glenny menutup orasinya dengan menekankan bahwa pembangunan talenta penerbangan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan teknis dan penguasaan teknologi, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Menurutnya, kemampuan memahami dan merasakan kondisi orang lain merupakan bagian penting dari kualitas seorang manusia dan pemimpin.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi penerbangan Indonesia yang tidak hanya kompeten menghadapi transformasi teknologi, tetapi juga memiliki karakter, budaya keselamatan, integritas, dan tanggung jawab untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (omy)

 

Baca Lainnya

PELNI Dukung Akses Pendidikan Ratusan Anak Papua Menuju Jakarta dengan KM Ciremai

12 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Sambut HUT Ke-81 RI, Pelindo Beri Layanan Kesehatan Gratis bagi 200 Warga Kecamatan Wajo

12 Agustus 2026 - 08:17 WIB

Dukung Tata Kelola dan Keberlangsungan Operasional, TPK Koja Bersama IPC TPK dan JAI Perpanjang MoU dengan Kejari Jakut

12 Agustus 2026 - 07:04 WIB

Kembali Berprestasi, TPK Koja Raih Dua Penghargaan Gold TJSL & CSR Award 2026

12 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Pertamina Patra Niaga Jalin Kerja Sama dengan Dukcapil, Perkuat Ketepatan Penyaluran Subsidi Energi

12 Agustus 2026 - 06:38 WIB

Kepala Pangkalan PLP Tanjung Priok: Sertifikasi Bukan Akhir, Kepatuhan Harus Diwujudkan dalam Operasional

12 Agustus 2026 - 06:25 WIB

Garuda Indonesia Sediakan 170.845 Kursi Penerbangan Domestik Gratis bagi Wisman, InJourney Respon Positif

11 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Penantian Panjang Keadilan, PN Merauke Putuskan Dakwaan Vidi Batal Demi Hukum

10 Agustus 2026 - 17:44 WIB

946 Calon Taruna BPSDMP Jalani Madatukar

10 Agustus 2026 - 07:28 WIB

KSR PMI Unit 08 UIN Sultanah Nahrasiyah dan BFLF Lhokseumawe Tunjukkan Peran Kemanusiaan di Lilawangsa Run 2026

9 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Trending di RAGAM