Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Warga Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, menggelar salat tolak bala di tengah situasi darurat pascabencana. Salat berjamaah itu dipimpin imam desa dan diikuti anak-anak serta tim relawan Posko Rakyat, sebagai ikhtiar spiritual sekaligus penguat mental warga yang masih hidup dalam ketidakpastian.
Salat tolak bala dilakukan sebagai bentuk doa agar tidak terjadi bencana susulan di wilayah mereka. Warga juga berharap kegiatan ini menjadi pengingat akan kuasa Allah SWT, di tengah keterbatasan bantuan dan belum adanya kejelasan penanganan lanjutan dari pemerintah.

Kekhawatiran utama warga tertuju pada Bur (Gunung) Ni Kera, yang hingga kini masih dianggap berpotensi menimbulkan bencana susulan. Warga Desa Atu Payung dan Desa Serule mengaku terus hidup dalam kewaspadaan. Mereka mendesak agar pemerintah segera menurunkan tim ahli untuk memeriksa kondisi gunung tersebut.

Bercengkrama dengan gelap.
“Warga sangat cemas. Kami butuh kepastian, bukan hanya bantuan logistik,” kata salah seorang relawan yang masih berada di lokasi, Jumat.
Keluhan serupa disampaikan Awan Raman Ali, warga Desa Atu Payung. Ia mengaku sudah berulang kali menyampaikan kekhawatiran masyarakat kepada pihak berwenang. Namun, menurutnya, kunjungan sejumlah pejabat—mulai dari Bupati Aceh Tengah, perwakilan BNPB, Kapolres Aceh Tengah, hingga Ketua DPRK—belum menyentuh akar persoalan.
“Mereka datang, menyalurkan bantuan, lalu pergi. Tapi tidak ada solusi untuk ketakutan kami soal Bur Ni Kera,” ujar Awan.

Shalat tolak bala warga Atu Payung.
Hingga kini, kondisi Desa Atu Payung masih serba terbatas. Aliran listrik belum menyala, sementara akses komunikasi hanya mengandalkan jaringan Starlink milik relawan. Jika relawan meninggalkan lokasi, warga terancam kembali terisolasi.
Akses jalan juga belum sepenuhnya pulih. Saat ini, jalur darat baru bisa dilalui hingga Kampung Jamur Konyel, Kecamatan Bintang. Selebihnya, medan masih sulit dilalui.
“Semoga doa kami sampai ke pejabat terkait. Kami di sini masih gelap, secara harfiah dan juga soal kepastian,” kata seorang warga.*** (Jasa)
























