JAKARTA, Produser sekaligus aktor Fadli Fuad kembali menggarap film layar lebar bersama rumah produksi Black White Pictures. Kali ini, film berjudul Banyak Anak Banyak Rejeki tengah memasuki tahap produksi, meski film sebelumnya, Sumur Jiwo 1977, belum mendapatkan jadwal tayang di bioskop Indonesia.
Fadli mengungkapkan, Sumur Jiwo 1977 yang diproduksi pada 2024 masih menunggu kesempatan untuk ditayangkan di jaringan bioskop XXI.
“Sudah satu tahun film Sumur Jiwo 1977 belum mendapatkan jadwal tayang di Bioskop XXI. Kita diminta terus menunggu untuk mendapatkan slot penayangan,” ujar Fadli dalam acara tasyakuran produksi Banyak Anak Banyak Rejeki di kawasan Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Meski demikian, Fadli mengaku tetap optimistis mengembangkan proyek film berikutnya. Bahkan, Black White Pictures tengah mempersiapkan Sumur Jiwo 1977 Part 2.
Menurut Fadli, film pertamanya telah mendapat respons positif dari sejumlah produser dan distributor untuk pasar internasional. Citrus Sinema selaku distributor internasional disebut berencana membawa film tersebut ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, dan Vietnam.
Namun, Fadli memilih menunda rencana penayangan internasional karena ingin film tersebut lebih dahulu dinikmati penonton Indonesia.
“Saya ingin memutar film ini lebih dulu di Bioskop Indonesia. Harapannya masyarakat Indonesia dapat lebih dulu menyaksikan film ini sebelum film ini beredar di skala internasional,” katanya.
Angkat Budaya Betawi dan Persoalan Keluarga
Berbeda dari film horor Sumur Jiwo 1977, Banyak Anak Banyak Rejeki mengusung genre drama komedi romantis. Film ini memadukan humor, kisah keluarga, dan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Fadli menjelaskan, film tersebut mengangkat budaya Betawi yang dipadukan dengan keberagaman karakter masyarakat Indonesia. Selain tokoh Betawi, cerita ini juga menghadirkan karakter dari suku Madura, Jawa Banyumasan atau Ngapak, serta etnis lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, Black White Pictures ingin memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.
“Dengan menggali budaya dan karakter suku Betawi, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang suku ini dan budaya Indonesia secara keseluruhan,” ujar Fadli.
Proses pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.
Dibintangi Opie Kumis hingga Elvy Sukaesih
Salah satu daya tarik Banyak Anak Banyak Rejeki adalah keterlibatan puluhan pemain, mulai dari aktor senior, komedian, hingga pendatang baru.
Fadli Fuad berperan sebagai Hendrik, sementara Elina Joerg memerankan Ningsih Beethoven. Film ini juga dibintangi Opie Kumis sebagai Babeh Rojali, penyanyi dangdut senior Elvy Sukaesih sebagai Umi Siti Juleha, Revaldo sebagai Ari Rojali, serta Mandy Edenia sebagai Laila Rojali.
Sejumlah nama lain yang terlibat antara lain Yatti Surachman, Dhawiya Zaida, Harry De Fretes, Nugie, Daus Separo, Bopak Castello, Qubil AJ, dan Ageng Kiwi.
Fadli mengatakan, keterlibatan banyak aktor senior merupakan bagian dari misinya membangun rumah produksi yang memberikan ruang bagi para pemain berpengalaman untuk terus berkarya.
“Inginnya menjadikan Black White Pictures sebagai PH yang bisa menjadi rumah khusus untuk para aktor legend,” tuturnya.
Ia berharap para aktor senior tetap memperoleh kesempatan berakting, tanpa menjadikan usia sebagai penghalang untuk berkarya di industri perfilman.
Di film ini, ide cerita dan skenario dipercayakan kepada Kaka Endi, dengan Tyas Asko sebagai sutradara. Budi Utomo bertugas sebagai penata sinematografi, sedangkan penyuntingan dikerjakan Benjamin Aussie.
Kisah Penggali Kubur yang Mendadak Kaya
Banyak Anak Banyak Rejeki bercerita tentang Babeh Rojali, yang akrab disapa Bang Jali, seorang penggali kubur yang hidup dalam keterbatasan ekonomi di pinggiran Jakarta.
Bang Jali menjalani profesinya sejak muda hingga tua. Bersama istrinya, Siti Juleha, ia membesarkan tiga anak mereka, Hendrik, Ari, dan Laila, di tengah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Meski kehidupan mereka serba kekurangan, Bang Jali dan istrinya berpegang pada pepatah “banyak anak banyak rejeki”.
Suatu malam, ketika sedang menggali kuburan di tengah hujan deras, cangkul Bang Jali membentur benda keras. Ia terkejut saat mengetahui benda tersebut ternyata bongkahan emas berukuran besar.
Penemuan itu mengubah kehidupan Bang Jali dan keluarganya. Dua puluh lima tahun kemudian, mereka hidup berkecukupan. Namun, kekayaan yang datang tidak serta-merta menjamin kebahagiaan.
Film ini mempertanyakan apakah harta dan kekayaan benar-benar mampu menghadirkan kebahagiaan hakiki, sekaligus mengingatkan bahwa keluarga, usaha, dan rasa syukur memiliki makna lebih dalam daripada sekadar materi.
Melalui kisah sederhana yang dibalut komedi romantis, Fadli berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga membawa pulang pesan moral tentang kehidupan dan keluarga.
Sebelumnya, Black White Pictures telah memproduksi sejumlah film, di antaranya Hantu Biang Kerok (2009), Persembahan Terakhir The Movie (2015), dan Sumur Jiwo 1977 (2024).*** (Buyil)


























