Wartatrans.com, YOGYARTA – Seminar Kemitraan Bincang Buku Hasrat Kekuasaan dan Erosi Demokrasi karya Abidin Fikri dan kawan-kawan digelar di Ruang Badan Anggaran (Banggar) Lantai II, Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jalan Malioboro Nomor 54, Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 12.30 hingga 15.30 WIB ini diikuti 71 peserta dari kalangan seniman, budayawan, penulis, sastrawan, wartawan, dan pegiat literasi, serta 20 orang dari Komunitas Buku Sastra.
Seminar menghadirkan Prof. Dr. PM. Laksono, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Indro Suprobo selaku editor sekaligus penerjemah. Diskusi dipandu VL. Sinta Herindrasti, MA, pengajar Hubungan Internasional FISIP Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.
Perbincangan buku tersebut mengangkat persoalan mendasar mengenai hubungan antara kekuasaan, kepentingan politik, dan keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Forum ini juga diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran gagasan untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dinilai menghambat kehidupan demokrasi.
Dalam rangkuman pemikiran buku tersebut, kekuatan politik dipandang memiliki peran besar dalam menentukan arah bangsa, termasuk siapa yang memperoleh kewenangan mengambil keputusan dan siapa yang menikmati hasil dari kebijakan yang dihasilkan.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah kekuasaan benar-benar dijalankan untuk kepentingan rakyat atau justru lebih banyak menguntungkan kelompok tertentu.
Secara ideal, demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Namun, praktik politik uang, politik dinasti, dan patronase menjadi sejumlah persoalan yang kerap diperdebatkan karena dinilai dapat menggeser prinsip kesetaraan dan partisipasi publik dalam proses politik.
Fenomena perpindahan pengaruh politik di antara anggota keluarga dalam kontestasi pemilihan kepala daerah maupun lembaga legislatif turut menjadi bagian dari refleksi mengenai kualitas demokrasi dan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi secara setara.
Melalui diskusi ini, para peserta diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai tantangan demokrasi sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat terhadap penggunaan kekuasaan dan pengambilan kebijakan publik.
Seminar Kemitraan sebagai Ruang Edukasi
Seminar kemitraan tersebut juga dimaksudkan sebagai sarana edukasi, pelatihan, dan peningkatan pemahaman mengenai aspek hukum, strategi, serta pengelolaan kerja sama yang berkelanjutan. Prinsip saling menguntungkan atau win-win solution menjadi salah satu landasan dalam membangun kemitraan yang produktif.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, pendekatan kemitraan diharapkan dapat membuka ruang dialog yang konstruktif di antara berbagai unsur masyarakat, termasuk pemerintah, komunitas seni dan budaya, kalangan intelektual, serta pegiat literasi.

Buku Hasrat Kekuasaan dan Erosi Demokrasi sendiri memuat tulisan dari sejumlah penulis dengan latar belakang dan perspektif yang beragam. Mereka adalah Abidin Fikri, Ahmad Taufan Damanik, Antie Solaiman, Bambang Kusumo Prihandono, Bambang Sigap Sumantri, Bob Trisunuwarso M., Dikdik Sadikin, Edy Sukrisno, Gunoto Saparie, Indro Suprobo, Ons Untoro, Pril Huseno, VL. Sinta Herindrasti, dan Sutirman Eka Ardhana.
Kehadiran para penulis tersebut memperkaya perspektif mengenai dinamika kekuasaan dan tantangan demokrasi, sekaligus mengajak pembaca melihat persoalan politik tidak semata-mata dari sisi perebutan jabatan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Indonesia yang telah merdeka selama lebih dari delapan dekade masih menghadapi berbagai pekerjaan rumah dalam memperkuat praktik demokrasi. Karena itu, refleksi kritis melalui buku dan forum diskusi dinilai penting untuk mendorong kehidupan politik yang lebih terbuka, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan publik.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang untuk siapa kekuasaan dijalankan menjadi inti perbincangan. Kekuasaan dalam sistem demokrasi semestinya digunakan untuk melayani rakyat, mendengarkan suara masyarakat, melindungi hak-hak warga negara, dan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok tertentu.
Tanpa komitmen terhadap prinsip-prinsip tersebut, demokrasi berisiko berhenti pada prosedur formal dan menjadi sekadar label, sementara manfaat kekuasaan hanya dinikmati oleh pihak-pihak yang telah memiliki kendali.
Melalui Seminar Kemitraan Bincang Buku Hasrat Kekuasaan dan Erosi Demokrasi, diharapkan muncul gagasan dan langkah nyata untuk memperkuat partisipasi publik, memperluas ruang dialog, serta menjaga demokrasi agar tetap berorientasi pada kepentingan rakyat.*** (RM. Sudharmono)


























