Wartatrans.com, PADANG PANJANG — Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, bersiap menjadi pusat pertemuan seni dan budaya internasional. Ratusan seniman dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi seni Indonesia, bersama peserta dari lima negara, akan berkumpul dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII yang berlangsung pada 20–24 Oktober 2026.
Mengusung tema “Art, Folklore and Ecology”, festival yang dipusatkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang dialog antara tradisi, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Rektor ISI Padangpanjang, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., mengatakan sebanyak 332 peserta dari sembilan perguruan tinggi seni Indonesia akan ambil bagian dalam festival tersebut.
Selain peserta dalam negeri, FKI XIII juga melibatkan kontingen internasional dari Malaysia, Singapura, Korea, Amerika Serikat, dan Australia.
“Selama lima hari, ISI Padangpanjang akan menjadi ruang pertemuan seniman, akademisi, dan pencinta seni dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara,” ujar Febri Yulika.
Seni Tradisi Bertemu Isu Ekologi
Direktur FKI XIII, Dr. Yusril, S.S., M.Sn., menjelaskan bahwa festival ini merupakan agenda Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) yang diselenggarakan secara bergilir.
Menurutnya, FKI menjadi momentum penting untuk memperlihatkan perkembangan kreativitas perguruan tinggi seni sekaligus memperkuat keberadaan seni tradisi di tengah perubahan zaman.
Berbagai kegiatan telah disiapkan, mulai dari pameran, pertunjukan karya unggulan, seminar, lokakarya, temu maestro, hingga sejumlah perlombaan seni.
Salah satu agenda utama adalah pertunjukan karya unggulan dari berbagai kampus seni di Indonesia yang akan digelar setiap malam.
Menariknya, seluruh rangkaian pertunjukan dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
“FKI terbuka untuk masyarakat umum. Kami ingin seni tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga hadir dan dinikmati masyarakat luas,” kata Yusril.
FKI XIII sejatinya dijadwalkan berlangsung pada 2025. Namun, penyelenggaraannya ditunda hingga 2026 menyusul kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat.
Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Seni
Wakil Rektor III ISI Padangpanjang sekaligus Mitra FKI, Dr. Susas Rita Loravianti, S.Sn., M.Sn., mengungkapkan bahwa penyelenggaraan festival mendapat dukungan pendanaan dari kementerian yang membidangi pendidikan tinggi serta Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana.
Dukungan tersebut melibatkan Sanggar Sikambang Manih sebagai mitra penyelenggara.
Festival ini juga menggandeng sejumlah perbankan, antara lain Bank Mandiri, BSI, BRI, Bank Nagari, dan BSN.
Selain itu, Pemerintah Kota Padang Panjang, Pemerintah Kota Bukittinggi, dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar turut memberikan dukungan.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan seni dan kebudayaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya lembaga pendidikan seni.
Kabut Asap Jadi Tantangan
Di tengah persiapan festival, panitia menghadapi tantangan berupa kabut asap yang melanda wilayah Padang Panjang dan sekitarnya.
Susas Rita Loravianti mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta maupun pengunjung.
Panitia mengimbau seluruh peserta dan masyarakat mengenakan masker selama mengikuti kegiatan.
Sejumlah ruangan juga telah dipersiapkan sebagai lokasi alternatif apabila kondisi kabut asap semakin tebal.
Bahkan, agenda arak-arakan yang semula direncanakan menjadi bagian dari kemeriahan festival terpaksa dibatalkan demi mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Meski demikian, penyelenggara memastikan rangkaian kegiatan utama tetap dipersiapkan sesuai agenda dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan.
Dari Padang Panjang untuk Dunia
Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan lima negara menjadikan FKI XIII sebagai momentum memperluas jejaring kesenian Indonesia di tingkat internasional.
Festival ini sekaligus membuka peluang bagi seni tradisi Nusantara untuk berdialog dengan perkembangan seni kontemporer dunia.
Melalui tema seni, folklor, dan ekologi, FKI XIII diharapkan tidak berhenti sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga melahirkan gagasan tentang bagaimana kebudayaan dapat terus hidup, berkembang, dan berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
Sebab, seni bukan sekadar sesuatu yang dipertontonkan, melainkan juga cara manusia merawat ingatan, menjaga identitas, dan membangun peradaban.*** (Aji/Kay/Nofal)


























