Wartatrans.com, BENER MERIAH — Sebuah tandon air berkapasitas 1.500 liter mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga Kampung Simpang Renggali, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, tandon tersebut memiliki arti lebih besar: harapan agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi sekaligus menjadi simbol kuatnya gotong royong masyarakat pedalaman.
Harapan itu diwujudkan bersama Komunitas Gayo Peduli (KGP) melalui aksi gotong royong, Rabu (2/9/2026).

Tandon bantuan KGP tidak begitu saja sampai ke lokasi. Warga harus menggotongnya menempuh jalur menanjak dan terjal sekitar satu kilometer. Dengan tenaga bersama, warga dan tim KGP bahu-membahu membawa water tank tersebut menuju lokasi penampungan.

Di lokasi, pekerjaan berlanjut. Warga bersama KGP memperbaiki jaringan pipa, menambal sejumlah titik kebocoran, sekaligus membuat bangunan sederhana dari kayu sebagai dudukan tandon.
Bagi warga, pekerjaan tersebut bukan sekadar memperbaiki fasilitas air. Mereka sedang membangun kembali sistem yang diharapkan mampu memberikan akses air bersih secara lebih layak dan berkelanjutan.
Bantuan itu disalurkan langsung oleh Ketua KGP, Ardhiansyah Putra bin Alfian KZ, bersama tim KGP yang terdiri dari Win Rahu, Ipak Lia, dan Ana Kobat.
Namun kegiatan di Simpang Renggali tidak berhenti pada persoalan air.
Setelah pekerjaan gotong royong selesai, warga menjamu tim KGP dengan hidangan khas kampung berupa depik pengat, ikan asin, dan jantar lumu. Suasana kebersamaan kemudian berlanjut dalam agenda sosial dan pembinaan spiritual anak-anak.
KGP menyerahkan sepatu, seragam sekolah, serta uang saku kepada Yimpitar—Yatim Piatu dan Ananda Terlantar. Mereka juga mendapat pendampingan melalui program pembinaan spiritual sebagai bagian dari Gerakan Pejuang Shubuh 100 Hari Nonstop.
Simpang Renggali menjadi titik ke-12 dalam program tersebut. Sebelumnya, 11 Yimpitar telah berada di wilayah Takengon, Aceh Tengah, masing-masing delapan anak di Kecamatan Kebayakan, dua di Kecamatan Pegasing, dan satu di Kecamatan Lut Tawar.

Prosesi pembacaan ikrar berlangsung khidmat. Imem Kampung Simpang Renggali, Petue Kampung, Sekretaris Kampung, perwakilan masyarakat, serta tim KGP turut menyaksikan pembacaan ikrar tersebut.
Program ini tidak hanya diarahkan pada pembiasaan ibadah, tetapi juga pembentukan karakter dan pendampingan anak secara berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan infrastruktur, kisah Simpang Renggali menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan masyarakat tidak selalu harus menunggu proyek besar. Terkadang, sebuah perubahan dimulai dari tandon yang digotong bersama, pipa yang diperbaiki dengan tangan sendiri, hidangan sederhana yang disantap bersama, dan kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian.
KGP dan warga Simpang Renggali memperlihatkan satu pesan sederhana: ketika masyarakat bergerak bersama, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat.
Air bersih mengalir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara dari gerakan pembinaan anak, diharapkan tumbuh generasi yang memiliki disiplin, kepedulian, dan karakter positif untuk masa depan kampung.*** (Jasa)


























