Menu ✖

Mode Gelap
KAI Daop 1 Jakarta Imbau Penumpang KA Tiba di Stasiun 1 Jam Sebelum Berangkat KPK Mengonfirmasi Clue Pejabat Jateng yang Kena OTT di Klaten adalah Ahmad Luthfi. Menebar Kebaikan di Tanjung Barat Jaksel, PJBW & GPIB Berbagi Ratusan Paket Nasi Siap Saji ke Para Penerima Manfaat Masyarakat ALA Desak Presiden Prabowo Sahkan Provinsi Baru, Bendera Alam Pedang Jadi Simbol Marwah Gayo Catatan Iwan Piliang: Indonesia Bisa Membuat Pesawat, tetapi Mengapa Sulit Menerbangkan Mimpi? Mantap, 2 Lintasan Utama ASDP Layani 33 Juta Penumpang Sepanjang 2025

Uncategorized

Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman

badge-check


 Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Kebudayaan Gayo bukan sekadar warisan masa lalu yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat dataran tinggi Aceh. Ia hidup dalam bahasa, seni, adat, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan. Melalui buku Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Dari Identitas, Falsafah, Estetika Hingga Emvirisme Tradisi, sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat berupaya merangkum kekayaan intelektual serta nilai-nilai budaya Gayo dalam satu karya bersama.

Buku ini hadir sebagai ikhtiar mendokumentasikan sekaligus merawat kebudayaan Gayo di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial. Berbagai tulisan di dalamnya membahas identitas masyarakat Gayo, falsafah hidup, estetika seni tradisi, hingga praktik-praktik budaya yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Corak visual pada sampul buku yang menampilkan motif warna-warni khas Gayo mempertegas semangat keberagaman dan kekayaan artistik budaya tersebut. Ornamen-ornamen tradisional itu menjadi simbol hubungan erat antara manusia, alam, dan spiritualitas yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Gayo.

Buku ini melibatkan banyak penulis dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman, mulai dari akademisi, praktisi budaya, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran banyak perspektif menjadikan buku ini tidak hanya sebagai kumpulan tulisan ilmiah, tetapi juga ruang dialog tentang bagaimana kebudayaan Gayo dipahami, diwariskan, dan dipertahankan.

Di tengah tantangan globalisasi, dokumentasi seperti ini menjadi penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kebudayaan bukan hanya nostalgia masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk identitas dan arah masa depan suatu masyarakat.

Melalui buku ini, The Gayo Institute bersama para penulis berharap kebudayaan Gayo tidak hanya dikenal sebagai tradisi lokal, tetapi juga dipahami sebagai kekayaan intelektual dan peradaban yang memiliki nilai universal.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KKP Segel Tambak Udang 7,71 Hektare di Karimunjawa, Ada Apa?

14 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Indonesia Raih Kenaikan Kuota Tuna Sirip Biru Selatan 25 Persen, Jadi 1.670 Ton per Tahun

12 Oktober 2026 - 14:21 WIB

KKP Siapkan Produk Lele dan Nila Siap Masak untuk SPPG

10 Oktober 2026 - 06:21 WIB

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Kabupaten Blora Uji Coba Pelaksanaan MBG Secara Prasmanan

6 Oktober 2026 - 14:02 WIB

Alutsista Indonesia Makin Modern: Rafale, A400M, Scorpene hingga Kapal Induk Pertama Perkuat Pertahanan Nasional

5 Oktober 2026 - 20:21 WIB

760 Ribu WNA Gunakan Layanan KAI Group hingga Agustus 2026, Perjalanan Wisata Antarkota Terus Tumbuh

4 Oktober 2026 - 14:05 WIB

DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Ucapkan Selamat atas Pelantikan Plt. Kepala Dinas Pertanian

1 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Dinas Sosial Kabupaten Fakfak Prioritaskan Pembenahan Data demi Bantuan Tepat Sasaran

28 September 2026 - 16:04 WIB

Penumpang Melahirkan di Kereta KRL Rute Serpong

24 September 2026 - 18:46 WIB

Trending di Uncategorized