Menu

Mode Gelap
INKOPPAS Dorong Modernisasi Koperasi Pasar, Siapkan Tujuh Program Strategis Nasional Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Serahkan Bantuan Program Pelindo Berbagi Hewan Qurban Seni Rupa Masuk Mal, Pameran Nasional 2026 Digelar di Semanggi Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman Pelindo Gelar Soft Launching Layanan Kepelabuhanan di Perairan Nipa PT Terminal Teluk Lamong Tebar Manfaat Idul Adha, 12 Sapi dan 21 Kambing Disalurkan untuk Warga Sekitar

Uncategorized

Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman

badge-check


 Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Kebudayaan Gayo bukan sekadar warisan masa lalu yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat dataran tinggi Aceh. Ia hidup dalam bahasa, seni, adat, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan. Melalui buku Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Dari Identitas, Falsafah, Estetika Hingga Emvirisme Tradisi, sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat berupaya merangkum kekayaan intelektual serta nilai-nilai budaya Gayo dalam satu karya bersama.

Buku ini hadir sebagai ikhtiar mendokumentasikan sekaligus merawat kebudayaan Gayo di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial. Berbagai tulisan di dalamnya membahas identitas masyarakat Gayo, falsafah hidup, estetika seni tradisi, hingga praktik-praktik budaya yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Corak visual pada sampul buku yang menampilkan motif warna-warni khas Gayo mempertegas semangat keberagaman dan kekayaan artistik budaya tersebut. Ornamen-ornamen tradisional itu menjadi simbol hubungan erat antara manusia, alam, dan spiritualitas yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Gayo.

Buku ini melibatkan banyak penulis dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman, mulai dari akademisi, praktisi budaya, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran banyak perspektif menjadikan buku ini tidak hanya sebagai kumpulan tulisan ilmiah, tetapi juga ruang dialog tentang bagaimana kebudayaan Gayo dipahami, diwariskan, dan dipertahankan.

Di tengah tantangan globalisasi, dokumentasi seperti ini menjadi penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kebudayaan bukan hanya nostalgia masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk identitas dan arah masa depan suatu masyarakat.

Melalui buku ini, The Gayo Institute bersama para penulis berharap kebudayaan Gayo tidak hanya dikenal sebagai tradisi lokal, tetapi juga dipahami sebagai kekayaan intelektual dan peradaban yang memiliki nilai universal.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

INKOPPAS Dorong Modernisasi Koperasi Pasar, Siapkan Tujuh Program Strategis Nasional

26 Mei 2026 - 21:52 WIB

Seni Rupa Masuk Mal, Pameran Nasional 2026 Digelar di Semanggi

26 Mei 2026 - 21:35 WIB

Lima Perupa Hadirkan “Ritmis Hayati” di T-Space Bintaro

26 Mei 2026 - 18:37 WIB

Kemiskinan Desa Dinilai Menjalar ke Kota, Pemerataan Pembangunan Jadi Kunci Kebangkitan Ekonomi

26 Mei 2026 - 18:09 WIB

Catatan Iwan Piliang: Pertanahan dan Syaraf Negara

26 Mei 2026 - 09:45 WIB

Pameran Seni Rupa : “Circles, Rounds, Spheres” – Mengolah Fokus Visual dan Kesan Dinamis

26 Mei 2026 - 04:07 WIB

Wakil Wali Kota Jakarta Utara Resmikan Pengembangan Klinik Pratama RIAL NU

26 Mei 2026 - 03:56 WIB

Nobar “Pesta Babi” di Tengah Gerimis, Ruang Refleksi Kemanusiaan di Temas River Park

24 Mei 2026 - 00:17 WIB

KCIC Imbau Penumpang Whoosh Antisipasi Kemacetan Bandung Akhir Pekan Ini

23 Mei 2026 - 16:56 WIB

“Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema

23 Mei 2026 - 11:52 WIB

Trending di SENI BUDAYA