Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

Uncategorized

Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman

badge-check


 Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Kebudayaan Gayo bukan sekadar warisan masa lalu yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat dataran tinggi Aceh. Ia hidup dalam bahasa, seni, adat, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan. Melalui buku Bunga Rampai Kebudayaan Gayo: Dari Identitas, Falsafah, Estetika Hingga Emvirisme Tradisi, sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat berupaya merangkum kekayaan intelektual serta nilai-nilai budaya Gayo dalam satu karya bersama.

Buku ini hadir sebagai ikhtiar mendokumentasikan sekaligus merawat kebudayaan Gayo di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial. Berbagai tulisan di dalamnya membahas identitas masyarakat Gayo, falsafah hidup, estetika seni tradisi, hingga praktik-praktik budaya yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Corak visual pada sampul buku yang menampilkan motif warna-warni khas Gayo mempertegas semangat keberagaman dan kekayaan artistik budaya tersebut. Ornamen-ornamen tradisional itu menjadi simbol hubungan erat antara manusia, alam, dan spiritualitas yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Gayo.

Buku ini melibatkan banyak penulis dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman, mulai dari akademisi, praktisi budaya, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran banyak perspektif menjadikan buku ini tidak hanya sebagai kumpulan tulisan ilmiah, tetapi juga ruang dialog tentang bagaimana kebudayaan Gayo dipahami, diwariskan, dan dipertahankan.

Di tengah tantangan globalisasi, dokumentasi seperti ini menjadi penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Kebudayaan bukan hanya nostalgia masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk identitas dan arah masa depan suatu masyarakat.

Melalui buku ini, The Gayo Institute bersama para penulis berharap kebudayaan Gayo tidak hanya dikenal sebagai tradisi lokal, tetapi juga dipahami sebagai kekayaan intelektual dan peradaban yang memiliki nilai universal.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Di Upacara Peringatan HUT ke 81 Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilan

20 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Kibarkan Merah Putih di Perairan Teluk Banten

19 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

TNI dan Polisi Lepas Tembakan, Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman jadi Ricuh

15 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Dari Lilitan Utang, Ibu Rini Kini Tekuni Bisnis Gitar dan Perjuangkan Masa Depan Anak

14 Agustus 2026 - 18:04 WIB

Bandara Husein Mulai Layani Pesawat Jet dengan 12 Rute Domestik

14 Agustus 2026 - 16:54 WIB

“Duta” Radio Rimba Raya Hadiri Transformasi Kreator Indonesia di RRI Pusat

13 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Raup Suara Mayoritas Tantan Sulthon Nakhodai PWI Jabar Periode 2026-2031

13 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Sri Mulyati Buat Kreasi Mozaik Bunga dari Plastik Bekas, Bukti Sampah Bisa Menjadi Karya Seni Bernilai

7 Agustus 2026 - 10:58 WIB

MK: Transparansi Penyebab Delay Pesawat Perlu Diperkuat

6 Agustus 2026 - 04:48 WIB

Trending di Uncategorized