Menu

Mode Gelap
Nobar “Pesta Babi” di Tengah Gerimis, Ruang Refleksi Kemanusiaan di Temas River Park PELITA Gelar Diskusi Publik :Melampaui Sekat Ibadah Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Patroli Cipta Kondisi KRYD Antisipasi Cegah Gangguan Kamtibmas Pelindo Regional 2 Raih Digital Innovation Award 2026 untuk Inovasi Layanan Publik Pererat Solidaritas, DPP HMTI Konsolidasikan Organisasi Masyarakat Tabagsel di Jabodetabek Penumpang KA Serayu Tembus 446 Ribu pada Awal 2026

Uncategorized

Nobar “Pesta Babi” di Tengah Gerimis, Ruang Refleksi Kemanusiaan di Temas River Park

badge-check


 Nobar “Pesta Babi” di Tengah Gerimis, Ruang Refleksi Kemanusiaan di Temas River Park Perbesar

TAKENGON — Rintik hujan yang mengguyur kawasan Temas River Park, Sabtu (23/5/2026), tidak menyurutkan antusiasme puluhan warga untuk mengikuti pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Suasana malam itu justru terasa khidmat ketika para penonton larut dalam kisah penderitaan masyarakat Papua akibat kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang hidup mereka.

Film yang diputar di ruang terbuka tersebut menjadi lebih dari sekadar tontonan. Sejumlah penonton tampak terharu menyaksikan berbagai potret perjuangan rakyat Papua menghadapi dampak deforestasi dan eksploitasi alam yang terus terjadi.

Salah seorang penonton menilai film tersebut menghadirkan pesan kemanusiaan yang kuat di tengah keberagaman Indonesia.

“Kita memang berbeda suku, bahasa, agama, dan budaya. Namun sebagai manusia kita wajib prihatin atas derita rakyat Papua,” ujarnya.

Meski gerimis, tetap serius nonton “Pesta Babi”.

Kegiatan nonton bareng itu dihadiri berbagai kalangan, mulai dari relawan sosial, pegiat lingkungan, hingga masyarakat umum di Aceh Tengah. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi bertema Dampak Sosio-Lingkungan Deforestasi dan Pertambangan Hulu terhadap Ekosistem Hilir.

Diskusi dipandu Ketua Gayo Rimba Bersatu, Abrar Syarif, dan menghadirkan sejumlah penanggap, yakni Ketua Koperasi Alam Gayo Khalisuddin, pegiat lingkungan Aceh Tengah M. Ibnu Akbar, Ketua Lembaga Perhutanan Sosial Negeri Linge M. Saleh, Pembina Forum Lingkar Pena Aceh Tengah Sayid Fadil Asqar, serta Legal Officer Yayasan HAkA Musrafiyan.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat dataran tinggi Gayo. Kerusakan kawasan hulu dinilai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah hilir.

Kegiatan yang digagas Koperasi Wisata Alam Gayo bersama Yayasan HAkA itu berlangsung hangat meski diguyur hujan. Nobar film dokumenter tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi budaya dan kemanusiaan, yang mengajak masyarakat membangun kepedulian terhadap lingkungan dan sesama anak bangsa.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KCIC Imbau Penumpang Whoosh Antisipasi Kemacetan Bandung Akhir Pekan Ini

23 Mei 2026 - 16:56 WIB

Peluncuran “Mikrofon yang Murka”, Ruang Sastra dan Refleksi Reformasi

23 Mei 2026 - 14:59 WIB

BPDAS Krueng Aceh Salurkan 2.500 Bibit untuk Pemulihan Ekonomi Korban Banjir Bandang Aceh Utara

23 Mei 2026 - 12:29 WIB

“Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema

23 Mei 2026 - 11:52 WIB

Indra Adhari dan Strategi Bertahan Musisi Independen Lewat “One Month One Song”

23 Mei 2026 - 09:21 WIB

Keris, Budaya dan Spiritualitas: Velline Ratu Ayu Siapkan Pameran Bernuansa Edukasi dan Hiburan

22 Mei 2026 - 12:45 WIB

Siswa SMK Plus Pelita Nusantara Kunjungi @america, Dapat Wawasan Baru Tentang Studi di Amerika

22 Mei 2026 - 10:04 WIB

Erick Dharma, Entertainer Multitalenta yang Konsisten Berkarya dan Gemar Berolahraga

22 Mei 2026 - 09:21 WIB

Pengeboran Gas Terbakar di Blang Rubek Buket Seuntang, Warga Aceh Utara Heboh

22 Mei 2026 - 09:15 WIB

Niluh Swati dan Seni Rupa Indonesia di Panggung Dunia

21 Mei 2026 - 22:38 WIB

Trending di RAGAM