Wartatrans.com, JAKARTA — Peluncuran dan diskusi buku puisi Mikrofon yang Murka berlangsung hangat dan penuh refleksi di Jakarta, Kamis (21/5/2026). Acara itu digelar bertepatan dengan peringatan dimulainya era Reformasi, momentum ketika Presiden Soeharto menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh B.J. Habibie.
Penulis buku menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya acara tersebut. Diskusi sastra yang berlangsung sejak siang hingga sore itu menghadirkan sejumlah tokoh sastra, budayawan, akademisi, hingga kalangan media.

Kritikus sastra Melani Budianta menjadi salah satu pembicara utama dalam diskusi. Ia mengulas isi buku secara mendalam dengan pendekatan yang dinilai mudah dipahami publik. Menurut penulis, banyak peserta merasa memperoleh “kuliah sastra” yang mencerahkan dari pemaparan tersebut.
Dalam forum itu, Melani bahkan mendorong agar Mikrofon yang Murka dijadikan bahan kajian di kampus-kampus karena dianggap mampu merekam dinamika politik kontemporer tanpa kehilangan nilai estetika puisi.
Diskusi juga menghadirkan kritikus sastra Sunu Wasono yang dikenal luas lewat gaya penyampaiannya yang cair dan komunikatif. Kehadirannya membuat suasana diskusi terasa hidup dan akrab.
Pelaksanaan acara turut didukung berbagai kalangan. Ariany Isnamurti, mantan Kepala Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, disebut berperan penting dalam membantu administrasi dan koordinasi kegiatan. Sementara penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia melalui direkturnya, Kartini, menjadi pihak yang menerima dan menerbitkan naskah buku tersebut.

Dukungan juga datang dari Asosiasi Tradisi Lisan yang dipimpin Pudentia MPSS. Organisasi kebudayaan itu membantu proses kelembagaan acara sehingga dapat terselenggara di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta.
Sisi artistik buku dipercayakan kepada perupa Tatang Ramadhan Bouqie yang merancang sampul dan ilustrasi buku. Visual yang dihadirkan dinilai memperkuat suasana ruang diskusi dan pameran buku.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dari berbagai angkatan turut hadir memeriahkan acara. Kelompok seni Sasina bahkan mempersembahkan musikalisasi puisi, termasuk membawakan puisi berjudul Mikrofon yang Murka.

Kelompok seni Sasina mempersembahkan musikalisasi puisi.
Acara juga dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai profesi, mulai dari akademisi, wartawan, pengacara, auditor, hingga kalangan legislatif. Salah satunya Dr. Abdul Kholik dari DPD RI yang disebut menyempatkan hadir di tengah agenda rapat di Senayan.
Beberapa tokoh nasional seperti Fadli Zon, Pramono Anung, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, serta Andy F. Noya disebut belum dapat hadir karena agenda lain yang bersamaan.
Bagi penulis, peluncuran buku ini bukan sekadar peristiwa sastra, melainkan juga ruang untuk menjaga ingatan publik terhadap nilai-nilai Reformasi melalui puisi dan kebudayaan.*** (PG)






























1 Komentar
Keren😎 menjadi pembuka jalan terus sastra yang memotivasi perjuangan