Oleh: Chryshnanda Dwilaksana
Wartatrans.com, JAKARTA — Kepergian Anwar Rosyid pada 7 Mei 2026 meninggalkan duka bagi kawan-kawan kartunis, pegiat budaya, dan para penikmat humor cerdas. Sosok sederhana yang dikenal sebagai kartunis dan staf redaksi harian Sinar Harapan hingga Suara Pembaruan itu bukan hanya meninggalkan gambar-gambar satir, tetapi juga warisan cara berpikir: bagaimana humor tidak selalu harus meledak seketika, melainkan dapat datang terlambat, pelan-pelan menyusup ke kepala, lalu membuat orang tergelak setelah merenung cukup lama. Itulah yang kemudian disebut oleh kawan-kawannya sebagai “telat ngguyu”.

Istilah itu lahir dari obrolan santai antara penulis dengan Sudi Puwono, sahabat dekat Rosyid. Saat membahas karya-karya Rosyid, Pak Non O mengatakan bahwa kartun-kartun Rosyid “tidak begitu lucu atau lucunya belakangan.” Kelucuannya tidak hadir secara vulgar, tetapi tersembunyi dalam simbol, metafora, dan jebakan makna. Mendengar itu, spontan terlontar kalimat: “telat ngguyu.” Pak Non O tertawa terbahak-bahak. Dari situlah istilah itu menemukan bentuknya.
Humor ala Rosyid memang bukan humor instan. Ia tidak mengandalkan slapstick atau kelucuan langsung jadi. Karyanya justru mengajak penonton berpikir terlebih dahulu. Ketika makna itu akhirnya tertangkap, barulah tawa datang—kadang lirih, kadang ngakak kepingkel-pingkel. Humor semacam ini membutuhkan imajinasi dan keberanian menafsir.
Di masa tuanya, Rosyid terus berkarya dengan ciri khas figur perempuan berambut keriting menyerupai Medusa. Sosok perempuan menjadi pusat hampir seluruh komposisi gambarnya. Namun perempuan dalam karya Rosyid bukan sekadar objek visual. Ia hadir sebagai simbol sosial, metafora hasrat, sindiran budaya, bahkan permainan bawah sadar. Karena itu, banyak karya Rosyid yang tampak tenang di permukaan tetapi menyimpan “libidoremifasol” di dalamnya—istilah jenaka yang kemudian dipakai kawan-kawannya untuk menyebut lapisan nakal dan sublim dalam karya-karya tersebut.
Salah satu kartunnya menggambarkan seekor bangau berdiri dengan satu kaki sambil menjaga sarang berisi telur, di tengah lingkungan yang hutannya telah habis ditebang. Sekilas sederhana, tetapi setelah dipikir-pikir menghadirkan sindiran tentang kerusakan alam dan ancaman kehidupan. Ada pula gambar perempuan menggendong tenggok berisi pisang sambil memakan pisang, diikuti banyak munyuk di belakangnya. Tafsir liar pun muncul: “makan pisang supaya tidak pikun, lihat saja munyuk tidak ada yang pikun.” Dari absurditas itulah tawa muncul.
Humor Rosyid bekerja melalui asosiasi. Ia memberi ruang bagi penonton untuk “mbalelo” dalam menafsir. Karena itu karya-karyanya menjadi hidup ketika dibicarakan bersama. Dalam sebuah forum kecil bersama para kartunis seperti Gatot, Gerdi WK, Joko Kisworo, Pak Itok, dan Pak Non O, karya-karya Rosyid dibedah dengan tafsir yang makin lama makin liar.
Sebuah gambar perempuan membawa baki bunga dengan latar Tugu Jogja, misalnya, langsung diasosiasikan dengan “Sarkem”—Pasar Kembang di Yogyakarta yang terkenal sebagai kawasan lokalisasi pada zamannya. Sontak ruangan pecah oleh tawa. Tafsir lain bahkan lebih “sarumologis”: perempuan merangkul harimau dimaknai sebagai “mandi kucing”, perempuan membawa sangkar burung di balik rok dimaknai sebagai simbol tersembunyi tentang libido, sementara gambar burung tidur di dekat perempuan dianggap sebagai seruan, “Burungku, ayo bangun!”
Rosyid tidak marah mendengar tafsir-tafsir itu. Ia justru ikut tertawa slemengeren. Kadang hanya klecam-klecem sambil melempar komentar pendek yang jleb. Ketika melihat Pak Itok terlalu bersemangat menguliti simbol-simbol dalam kartunnya, Rosyid hanya berkata, “Itok di rumah sangat tertekan.” Kalimat sederhana itu langsung membuat semua orang kembali tergelak.
Di situlah letak keistimewaan Rosyid. Ia membebaskan penontonnya bermain-main dengan tafsir. Kartunnya menjadi ruang katarsis bersama. Humor tidak lagi berdiri sebagai lelucon tunggal, tetapi sebagai percakapan sosial yang cair, kadang nyrempet, kadang nakal, tetapi tetap manusiawi.
Dalam kebudayaan Jawa sendiri, tertawa memang memiliki dimensi sosial yang rumit. Ada ungkapan “ojo ngguyu seru-seru”, jangan tertawa terlalu keras. Sebab tawa yang terlalu keras bisa dianggap “saru”, tidak pantas, bahkan menghina pihak tertentu. Humor selalu punya risiko. Ia bisa menjadi alat kritik, tetapi juga bisa dianggap ancaman oleh mereka yang antikritik. Karena itu humor ala Rosyid terasa unik: ia menyindir tanpa berteriak, menggoda tanpa vulgar, dan menertawakan hidup tanpa kehilangan welas asih.
Kartun-kartunnya adalah pengingat bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang masih bisa tertawa. Bukan tertawa kosong tanpa sebab, melainkan tawa yang lahir dari perenungan atas realitas sosial, politik, budaya, bahkan absurditas kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang penuh ketegangan, Rosyid menawarkan jeda: ruang untuk berpikir, lalu tertawa bersama.
Kini Anwar Rosyid telah berpulang. Namun karya-karyanya tetap hidup sebagai jejak humor intelektual yang khas. Humor yang tidak buru-buru. Humor yang baru terasa setelah dipikir lama. Humor “telat ngguyu”.
Dan mungkin benar, seperti candaan para sahabatnya, Rosyid memang seorang PhD: Pakar Humor Dleweran.
Selamat jalan, Pak Rosyid. Swargo langgeng. Tawa panjenengan masih menggema di kepala kami.***
(Penulis adalah pelukis dan kartunis)

























