Wartatrans.com, JAKARTA – Industri kuliner di Jakarta terus berkembang dengan hadirnya berbagai restoran dan tempat hiburan yang menawarkan konsep unik. Di tengah persaingan tersebut, pengusaha muda Rangga Titiswara hadir dengan pendekatan berbeda melalui restoran Babylon Garden Affair yang dipimpinnya sebagai Komisaris Utama.
Bagi Rangga, bisnis Food and Beverage (F&B) bukan hanya soal menjual makanan atau menghadirkan tempat yang menarik untuk bersantai. Ia melihat industri ini sebagai ruang pelayanan yang menempatkan kenyamanan pelanggan sebagai prioritas utama.

Menurut Rangga, dunia F&B memiliki karakter sebagai bisnis jasa yang menuntut pelaku usaha mampu memberikan pengalaman terbaik kepada konsumen. Karena itu, ia memilih terjun ke bidang restoran dengan harapan dapat melayani lebih banyak orang melalui kualitas pelayanan yang maksimal.
Babylon Garden Affair sendiri mengusung konsep yang memadukan nuansa kemegahan klasik dengan sentuhan modern. Restoran tersebut dirancang tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga ruang berkumpul yang nyaman bagi berbagai kalangan.
Dalam operasional sehari-hari, Rangga dikenal terlibat langsung mengawasi berbagai aspek restoran, mulai dari pelayanan hingga kenyamanan pengunjung. Restoran yang beroperasi dari siang hingga dini hari itu menawarkan konsep lengkap, mulai dari makan siang, tempat bersantai, hingga hiburan musik malam.
Tak hanya fokus pada bisnis, Rangga juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia. Saat ini, Babylon Garden Affair mempekerjakan sekitar 75 karyawan dari berbagai divisi, termasuk koki, barista, dan tim keamanan.
Ia menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan bagi tenaga kerja lokal. Kehadiran chef dari luar negeri, menurutnya, harus disertai proses transfer pengetahuan kepada anak muda Indonesia agar mereka memiliki keterampilan yang dapat bersaing di industri kuliner.
Selain itu, Rangga berencana menggunakan lembaga independen untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pelayanan restoran.
Dalam menghadapi persaingan bisnis kuliner yang dinamis, inovasi menjadi salah satu strategi utama yang diterapkan. Evaluasi menu dilakukan secara berkala setiap dua bulan untuk melihat respons pelanggan sekaligus menghadirkan variasi baru agar pengunjung tidak merasa bosan.
Masukan dari pelanggan juga menjadi perhatian penting bagi Rangga. Ia membuka ruang evaluasi terhadap berbagai hal, mulai dari cita rasa makanan hingga suasana hiburan yang ditampilkan di restoran.
Ke depan, Rangga memiliki visi besar untuk membawa Babylon Garden Affair berkembang lebih luas, termasuk kemungkinan melantai di bursa saham atau go public. Menurutnya, langkah tersebut membutuhkan pengelolaan bisnis yang profesional, mulai dari laporan keuangan yang tertata hingga pelayanan yang konsisten.
Di tengah tantangan ekonomi, Rangga tetap optimistis terhadap peluang dunia usaha di Indonesia. Ia menilai pertumbuhan ekonomi akan semakin kuat apabila lebih banyak anak muda berani menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.*** (Byl)




























