Menu

Mode Gelap
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gelar Patroli Cipta Kondisi KRYD Antisipasi Cegah Gangguan Kamtibmas Pelindo Regional 2 Raih Digital Innovation Award 2026 untuk Inovasi Layanan Publik Pererat Solidaritas, DPP HMTI Konsolidasikan Organisasi Masyarakat Tabagsel di Jabodetabek Penumpang KA Serayu Tembus 446 Ribu pada Awal 2026 KCIC Imbau Penumpang Whoosh Antisipasi Kemacetan Bandung Akhir Pekan Ini Prabowo Panen Raya Udang Vaname di BUBK Kebumen

SENI BUDAYA

“Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema

badge-check


 “Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema Perbesar

Oleh: Riri Satria

_________

Wartatrans.com, JAKARTA — Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale belakangan menjadi perbincangan luas di berbagai ruang publik. Diskusi tentang film ini hadir di media sosial, forum budaya, hingga pemberitaan media massa. Bahkan, pembubaran sejumlah acara pemutaran bersama justru membuat rasa ingin tahu masyarakat semakin besar.

Saya sendiri akhirnya berkesempatan menonton film tersebut beberapa hari lalu. Tulisan ini bukan ulasan akademik atau kritik sinema yang mendalam. Saya bukan kritikus film. Catatan ini lebih merupakan refleksi pribadi tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan setelah menyaksikan film tersebut.

Sejak awal hingga akhir, Pesta Babi menghadirkan suasana yang gelisah dan menekan. Papua dalam film ini tidak tampil sebagai sekadar data pembangunan atau wilayah konflik keamanan, melainkan sebagai ruang hidup manusia dengan tradisi, kecemasan, dan luka yang nyata.

Hutan yang dibuka, alat-alat berat yang bergerak, perubahan bentang alam, hingga wajah-wajah masyarakat adat yang menyimpan kecemasan menghadirkan pengalaman emosional yang kuat. Film ini seperti ingin memperlihatkan bahwa di balik narasi besar bernama pembangunan, selalu ada manusia-manusia kecil yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Judul Pesta Babi sendiri terasa simbolik sekaligus ironis. Dalam sejumlah tradisi masyarakat Papua, pesta babi bukan hanya perayaan biasa, melainkan bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual. Simbol budaya itu kemudian dipertemukan dengan arus modernisasi dan proyek pembangunan yang bergerak begitu cepat.

Di titik itulah film ini menghadirkan pertanyaan yang terus menggantung di benak penonton: apakah semua bentuk pembangunan benar-benar menghadirkan kemajuan bagi seluruh masyarakat, atau justru menyisakan kelompok tertentu yang harus menanggung kehilangan paling besar?

Film ini tidak hadir dengan ceramah panjang atau slogan-slogan keras. Ia bekerja melalui gambar, suasana, dan rasa empati. Penonton dibiarkan menyaksikan sendiri bagaimana benturan antara tanah, budaya, kekuasaan, dan modernitas berlangsung di depan mata.

Kontroversi yang mengiringi film ini juga memperlihatkan bahwa persoalan Papua masih menjadi isu sensitif di Indonesia. Pembubaran acara pemutaran di sejumlah daerah membuat Pesta Babi berubah menjadi lebih dari sekadar karya sinema. Banyak orang akhirnya menonton bukan hanya karena tertarik pada isi filmnya, tetapi juga karena ingin memahami mengapa sebuah film dapat memunculkan reaksi sedemikian besar.

Sebagian pihak mungkin menilai film ini terlalu politis atau terlalu tajam dalam mengkritik negara dan pembangunan. Namun sebagian lainnya melihatnya sebagai ruang untuk mendengar suara masyarakat adat yang selama ini jarang benar-benar didengarkan.

Bagi saya pribadi, kekuatan terbesar film ini justru terletak pada kemampuannya menghadirkan rasa tidak nyaman. Ia memaksa penonton berpikir ulang tentang arti kemajuan, tentang siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan siapa yang harus membayar harga paling mahal dari semua itu.

Setelah menonton dan membaca berbagai tanggapan serta resensi, saya menemukan kegelisahan yang hampir serupa dari banyak penonton. Pada akhirnya, Pesta Babi terasa bukan hanya berbicara tentang Papua, tetapi juga tentang moral sebuah bangsa ketika berhadapan dengan tanah, budaya, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Film ini mungkin akan terus diperdebatkan. Namun justru dari perdebatan itulah kita diingatkan bahwa karya seni dan film dokumenter masih memiliki daya untuk mengguncang kesadaran publik—bukan sekadar menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi bersama.***

(Jakarta, Mei 2026)

Riri Satria: Penulis adalah dosen, pelaku sastra dan penikmat film.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KCIC Imbau Penumpang Whoosh Antisipasi Kemacetan Bandung Akhir Pekan Ini

23 Mei 2026 - 16:56 WIB

Peluncuran “Mikrofon yang Murka”, Ruang Sastra dan Refleksi Reformasi

23 Mei 2026 - 14:59 WIB

Indra Adhari dan Strategi Bertahan Musisi Independen Lewat “One Month One Song”

23 Mei 2026 - 09:21 WIB

Keris, Budaya dan Spiritualitas: Velline Ratu Ayu Siapkan Pameran Bernuansa Edukasi dan Hiburan

22 Mei 2026 - 12:45 WIB

Siswa SMK Plus Pelita Nusantara Kunjungi @america, Dapat Wawasan Baru Tentang Studi di Amerika

22 Mei 2026 - 10:04 WIB

Erick Dharma, Entertainer Multitalenta yang Konsisten Berkarya dan Gemar Berolahraga

22 Mei 2026 - 09:21 WIB

Niluh Swati dan Seni Rupa Indonesia di Panggung Dunia

21 Mei 2026 - 22:38 WIB

Telat Ngguyu Libidoremifasol: Humor, Simbol, dan Sarumologi ala Anwar Rosyid

21 Mei 2026 - 18:45 WIB

“Pesta Babi” Diputar di Cilangkap, Diskusi Mengalir dari Papua hingga Kolonialisme Modern

21 Mei 2026 - 12:37 WIB

Kartun Maritim dan Humor Sosial Bertemu di JAKARTUN

20 Mei 2026 - 22:52 WIB

Trending di RAGAM