Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SENI BUDAYA

“Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema

badge-check


 “Pesta Babi”: Ketika Pembangunan dan Luka Papua Bertemu di Layar Sinema Perbesar

Oleh: Riri Satria

_________

Wartatrans.com, JAKARTA — Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale belakangan menjadi perbincangan luas di berbagai ruang publik. Diskusi tentang film ini hadir di media sosial, forum budaya, hingga pemberitaan media massa. Bahkan, pembubaran sejumlah acara pemutaran bersama justru membuat rasa ingin tahu masyarakat semakin besar.

Saya sendiri akhirnya berkesempatan menonton film tersebut beberapa hari lalu. Tulisan ini bukan ulasan akademik atau kritik sinema yang mendalam. Saya bukan kritikus film. Catatan ini lebih merupakan refleksi pribadi tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan setelah menyaksikan film tersebut.

Sejak awal hingga akhir, Pesta Babi menghadirkan suasana yang gelisah dan menekan. Papua dalam film ini tidak tampil sebagai sekadar data pembangunan atau wilayah konflik keamanan, melainkan sebagai ruang hidup manusia dengan tradisi, kecemasan, dan luka yang nyata.

Hutan yang dibuka, alat-alat berat yang bergerak, perubahan bentang alam, hingga wajah-wajah masyarakat adat yang menyimpan kecemasan menghadirkan pengalaman emosional yang kuat. Film ini seperti ingin memperlihatkan bahwa di balik narasi besar bernama pembangunan, selalu ada manusia-manusia kecil yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Judul Pesta Babi sendiri terasa simbolik sekaligus ironis. Dalam sejumlah tradisi masyarakat Papua, pesta babi bukan hanya perayaan biasa, melainkan bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual. Simbol budaya itu kemudian dipertemukan dengan arus modernisasi dan proyek pembangunan yang bergerak begitu cepat.

Di titik itulah film ini menghadirkan pertanyaan yang terus menggantung di benak penonton: apakah semua bentuk pembangunan benar-benar menghadirkan kemajuan bagi seluruh masyarakat, atau justru menyisakan kelompok tertentu yang harus menanggung kehilangan paling besar?

Film ini tidak hadir dengan ceramah panjang atau slogan-slogan keras. Ia bekerja melalui gambar, suasana, dan rasa empati. Penonton dibiarkan menyaksikan sendiri bagaimana benturan antara tanah, budaya, kekuasaan, dan modernitas berlangsung di depan mata.

Kontroversi yang mengiringi film ini juga memperlihatkan bahwa persoalan Papua masih menjadi isu sensitif di Indonesia. Pembubaran acara pemutaran di sejumlah daerah membuat Pesta Babi berubah menjadi lebih dari sekadar karya sinema. Banyak orang akhirnya menonton bukan hanya karena tertarik pada isi filmnya, tetapi juga karena ingin memahami mengapa sebuah film dapat memunculkan reaksi sedemikian besar.

Sebagian pihak mungkin menilai film ini terlalu politis atau terlalu tajam dalam mengkritik negara dan pembangunan. Namun sebagian lainnya melihatnya sebagai ruang untuk mendengar suara masyarakat adat yang selama ini jarang benar-benar didengarkan.

Bagi saya pribadi, kekuatan terbesar film ini justru terletak pada kemampuannya menghadirkan rasa tidak nyaman. Ia memaksa penonton berpikir ulang tentang arti kemajuan, tentang siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan siapa yang harus membayar harga paling mahal dari semua itu.

Setelah menonton dan membaca berbagai tanggapan serta resensi, saya menemukan kegelisahan yang hampir serupa dari banyak penonton. Pada akhirnya, Pesta Babi terasa bukan hanya berbicara tentang Papua, tetapi juga tentang moral sebuah bangsa ketika berhadapan dengan tanah, budaya, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Film ini mungkin akan terus diperdebatkan. Namun justru dari perdebatan itulah kita diingatkan bahwa karya seni dan film dokumenter masih memiliki daya untuk mengguncang kesadaran publik—bukan sekadar menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi bersama.***

(Jakarta, Mei 2026)

Riri Satria: Penulis adalah dosen, pelaku sastra dan penikmat film.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

Di Upacara Peringatan HUT ke 81 Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilan

20 Agustus 2026 - 15:03 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Trending di RAGAM