Wartatrans.com, TANGSEL — Lima perupa menggelar pameran bersama bertajuk Ritmis Hayati di T-Space Bintaro, Tangerang Selatan, pada 30 Mei hingga 29 Juni 2026. Pameran ini menampilkan 31 karya dari Agoes Noor, Gogor Purwoko, Ireng Halimun, Nurdin Yusup, dan Yogi Wistyo.
Koordinator pameran, Ireng Halimun, mengatakan kegiatan ini lahir di tengah bangkitnya kembali seni rupa Indonesia setelah pandemi Covid-19. Menurut dia, para perupa tetap berupaya menjaga keberlangsungan praktik berkesenian di tengah berbagai tantangan.

“Ada yang bergerak dari kecintaan pada proses berkarya, ada juga yang melihat seni sebagai profesi. Tapi semuanya tetap memiliki orientasi positif terhadap perkembangan seni budaya,” kata Ireng dalam keterangan pameran.
Ia menilai para seniman hari ini menghadapi situasi yang tidak mudah. Selain menjaga idealisme, mereka juga harus berhadapan dengan tuntutan komersialisasi dalam dunia seni rupa. Karena itu, pameran menjadi ruang penting untuk mempertahankan eksistensi sekaligus memperlihatkan perkembangan artistik masing-masing seniman.
Kurator pameran, Frigidanto Agung, melihat karya-karya dalam Ritmis Hayati sebagai upaya membaca pengalaman hidup manusia melalui bentuk visual. Menurut dia, garis, warna, dan bentuk yang dihadirkan para perupa tidak sekadar menghadirkan estetika, melainkan juga memuat jejak pengalaman, pengetahuan, dan cara manusia memahami kehidupannya.

Karya perupa yang dipamerkan.
“Jejak hidup itu kemudian menjadi tanda yang direpresentasikan melalui karya,” ujar Frigidanto.
Ia menyebut kelima perupa menghadirkan pendekatan visual yang berbeda-beda. Perbedaan itu tampak dari cara mereka membangun ruang, menyusun bentuk, hingga merespons pengalaman personal maupun sosial ke dalam karya.
Pembukaan pameran turut dihadiri Tony Saut Situmorang. Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi itu mengatakan seni memiliki peran untuk mengingatkan manusia pada rasa dan kesadaran kemanusiaan di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi angka dan laporan statistik.
Menurut Tony, melalui karya seni, masyarakat diajak melihat kembali pentingnya menjaga harmoni kehidupan. “Kehidupan tidak hanya dihitung, tetapi juga harus dirasakan,” katanya.
Business Development T-Space Bintaro, Jessica Qezvyin, mengatakan ruang tersebut memang dirancang sebagai tempat terbuka bagi berbagai aktivitas, termasuk pameran seni. Ia menyebut respons para seniman terhadap ruang pamer itu cukup positif sejak T-Space diresmikan pada akhir 2023.
Kelima perupa yang terlibat memiliki latar belakang berbeda. Agoes Noor aktif mengikuti pameran sejak awal 2000-an. Gogor Purwoko, yang semula berlatar pendidikan teknik sipil, memilih menekuni dunia seni rupa dan pernah menjadi finalis UOB Painting of the Year 2016. Ireng Halimun dikenal aktif berpameran sejak dekade 1980-an dan pernah menggelar sejumlah pameran tunggal di Jakarta.
Sementara itu, Nurdin Yusup aktif mengikuti pameran bersama sejak 2019. Adapun Yogi Wistyo, selain berkarya sebagai perupa, juga dikenal sebagai jurnalis yang banyak mengangkat tema refleksi kehidupan dan persoalan sosial dalam lukisannya.
Melalui Ritmis Hayati, para perupa mencoba menghadirkan pembacaan atas kehidupan manusia melalui bahasa visual yang personal sekaligus reflektif.*** (Dulloh)































