Oleh Tubagus ‘Andre’ Sukmana
________________

Menciptakan karya seni dengan bentuk lingkaran, bundar dan bulat menawarkan fleksibilitas tinggi, kesan dinamis dan memberikan pengalaman visual yang unik, yakni pada ‘kelembutan visual’ yang membuat mata penikmat bergerak secara kontinu tanpa terhenti oleh batas sudut. Karya seni yang menggunakan bentuk-bentuk ini seringkali menantang seniman untuk menciptakan perspektif dan harmoni ruang yang efesien dengan komposisi yang padat dan melingkar. Sedangkan dari sisi estetikanya bersifat ‘sentripetal’ (menarik pandangan ke dalam), sehingga objek di dalam lingkaran akan memiliki nilai artistik yang sangat menonjol dan terasa eksklusif. Memilih bentuk lingkaran, bundar dan bulat juga tidak sekadar pilihan estetika, tetapi memiliki keutamaan filosofis dan teknis yang kuat. Dalam seni kontemporer, lingkaran sering dianggap sebagai bentuk yang paling “sempurna”, harmonis dan kosmik, tanpa awal dan akhir_mewakili konsep siklus hidup, keabadian, dan kontinuitas yang tidak terputus.
Sesungguhnya dalam budaya tradisional dan secara spiritual karya seni yang berbentuk melingkar sudah ada sejak masa lampau, yang berakar dari tradisi Hindu dan Buddha, di kenal dengan ‘mandala’ atau ‘seni mandala’, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “lingkaran”, yaitu pola geometris melingkar yang rumit. Seni ini menggabungkan keseimbangan simetris untuk meditasi, relaksasi, dan ekspresi spiritual atau artistik. Melambangkan alam semesta, keutuhan, dan pusat diri atau merepresentasikan kosmos dan perjalanan spiritual dari luar ke dalam. Demikian juga dikenal ‘Enso’ (lingkaran Zen) yang berkembang di Jepang, simbol suci dalam Buddhisme Zen yang mewakili pencerahan absolut, kekuatan, keanggunan, dan alam semesta, yang sering digambar dengan satu sapuan kuas. Ini melambangkan momen ketika pikiran bebas untuk membiarkan tubuh berkreasi, mewujudkan ketenangan pikiran, kesadaran penuh (mindfulness), dan “kekosongan” (mu). Membuat ‘Enso’ adalah bentuk meditasi aktif. Pelukis harus hadir sepenuhnya dalam momen tersebut, sering kali melukis dalam satu tarikan napas tanpa kemungkinan modifikasi, menunjukkan keadaan pikiran tanpa beban (mushin / no-mind).
Format karya seni dalam bentuk lingkaran (circles), bundar (rounds) dan bulat (spheres) juga sudah popular sejak masa Renaissance Italia (abad ke-15-16) yang dikenal dengan istilah ‘Tondo’ berasal dari Bahasa Italia ‘rotondo’ (“bulat”), merujuk pada karya seni rupa_lukisan, relief atau patung yang berbentuk lingkaran/bundar. Format ini biasanya digunakan untuk karya religius atau potret dan lanskap. Ada beberapa jenis ‘seni tondo’ berdasarkan media dan tekniknya, yakni lukisan yang dibuat di atas kayu berbentuk lingkaran (Panel Panting); lukisan di atas kanvas bundar, lukisan dinding yang melingkar (Fresco) dan relief atau patung yang berbentuk bulat (Roundel). Contoh lukisan bundar yang terkenal antara lain ‘Doni Tondo’ karya Michelangelo (1506) dan ‘Madonna della Seggiola’ karya Raphael (1514). Meskipun berakar dari sejarah seni klasik format ‘tondo’ masih digunakan oleh seniman kontemporer dan mulai popular sejak tahun 1960-an, ketika seniman Amerika seperti Frank Stella, So LeWitt dan Jackson Pollock mulai ‘bermain’ dengan kanvas berbentuk bundar. Saat ini tampaknya ‘seni tondo’ kembali popular, diadopsi oleh para seniman, seperti Manuel Merida (Venezuela) dan Pamela Jorden (Amerika), bahkan Damien Hirst (Inggris) secara ekstensif menggunakan format tondo dalam berbagai seri karya pentingnya, untuk mengeksplorasi tema harmoni, kehidupan, kematian, dan spiritualitas/meditasi. Di Indonesia sendiri banyak seniman Indonesia yang berkarya dan terinspirasi ‘seni tondo’, semisal Ichwan Noor (Yogyakarta) yang popular dengan patung ‘VW Bulat’-nya, Pematung Arsono membuat patung ‘Melingkar’ (1995) yang kini menjadi koleksi Galeri Nasioal Indonesia, kemudian ada Pelukis Taat Joedawinata (Bandung) yang kerap melukis di atas kanvas bundar. Perupa Eddy Susanto menciptakan karya ‘Kuasa dalam Setara’ dalam format bundar yang meraih pemenang utama 15th OUB Painting of the Year. Di kalangan seniman muda dikenal nama Ardiandra Achmadi Semesta alias Andra Semesta (Jakarta) yang mengekspresikan nada dan lirik musik lewat lukisan di atas kanvas budar.
Berlatar dan berangkat dari itu, Perkumpulan Seniman Muda Indonesia (SMUI) mengajak dan memberi tantangan kepada perupa lintas generasi dari berbagai daerah/ kota untuk berkarya dan terlibat dalam pameran yang spesifik dalam format dan tema ‘Circles, Rounds, Spheres’. Hasilnya sebanyak 75 Perupa terpilih untuk mempresentasikan kepada publik. Tampak mereka tampil dengan gaya, media-teknik, objek dan subject matter beragam visual dalam format ‘tondo’, mulai dari visual bentuk ornamentik, realistik, figuratif, surealistik, dan seterusnya. Keseluruhan karya secara alami menciptakan fokus visual, mengarahkan mata ke pusat karya (objek) selaras dengan ritme dan aliran lingkaran. Hal ini dapat dimaknai dalam beragam tema dan gagasan yang sering dikaitkan secara simbolik tentang kesempurnaan, keutuhan, kesatuan, harmoni, dan spiritualitas.
Secara garis besarnya memang karya-karya yang ditampilkan dalam mengolah objek secara teknis tidak sepenuhnya memakai format ‘mandala’ atau ‘tondo’, misalnya dalam mempertimbangkan komposisi, kesan dinamis dan fokus visualnya. Beberapa seniman yang patuh mengunakan konsep dan karakteristik dari ‘seni mandala’ dan ‘seni tondo’ sesuai dengan objek, karakter dan gayanya masing-masing, antara terlihat karya: Syakieb Sungkar, Nengah Kisid, Carsilah Waes, Nuryanah, Agus Wicak Sono, Aryo Bimo, Budi Gallery, R.Asri HW, Pustanto, Abdul Rahman, Cecilia D. Kristiari. Termasuk ada beberapa karya yang menampilkan wujud visual abstrak melalui permainan gradasi warna, sapuan cat yang bebas, seperti terlihat pada karya Afif Zuprianto, Firmina Mikael, Yudha Heksa Putra, Budi Utama, dan D. Koestrita. Hal ini selaras dengan pemikiran pelukis pelopor abstrak, Wassily Kandinsky (1866–1944), bahwa “lingkaran adalah sintesis dari pertentangan terbesar. Ia menggabungkan konsentris dan eksosentris dalam satu bentuk, dan dalam keseimbangan”. Dalam pameran ini juga tampil beberapa karya yang relevan konsep lukisan tondo, yakni mengambil aspek spiritualitas sebagai karya seni yang tidak hanya menampilkan sosok visual, tetapi juga memuat makna batin, simbol, dan nilai transendental, seperti dihadirkan pada karya Rokhmat Rizal, Natasya Laksmana dan Queen Kuan In.
Selebihnya beberapa seniman tetap melukis dan mengolah objeknya seperti biasanya, hanya yang membedakannya pada bentuknya yang bundar, namun tetap mampu menyiasati dengan mengambil ‘anggle’ untuk menjadi fokus visualnya, seperti terlihat pada karya Poppy Almatsier, Susy Zackia, Subandi Giyanto dan Biagtwanti Dewi Priyani. Pada pameran ini, juga dihadirkan beberapa karya yang mencoba menggunakan mix-media dengan menerapkan teknik kolase atau fresco sehingga menghasilkan dimensi, tekstur dan karakter yg berbeda, misalnya yang ditampilkan lewat karya dari Iswanto, Citra RSD, Fetty Fatimah, dan Syaffa Inayanti. Bahkan pada karya Vincent Kallu Witak yg terbuat dari kardus berlapis resin, menghasilkan layaknya lukisan ‘3D’, bila dipandang dari tiga sisi menampilkan 3 gambar yg berbeda.
Pada sisi lain terdapat perupa yang mengolah bentuk lingkaran dan bundar dalam bentuk karya patung mix-media seperti ditampilkan oleh M. Sholeh yang sarat dgn makna, kemudian pelukis Tato Kastareja kali ini menghadirkan karya instalasi, dimana persepsi lukisan bundar dipadukan dgn figur-figur futuristik yg dapat dipandang secara melingkar atau tiga dimensi. Selain itu ada yang melukis di atas meja bundar (Tuti Wardani, Suryo Sitepo), di atas tampah bundar (Nadia Iskandar), di atas punggung katel penggorengan/ wajan (Rochmad Taufik), dan kreasi lainnya dalam berbagai dimensi, semisal karya Annie Sofyan yang memanfaatkan media bekas piringan hitam.
Dalam penulisan ini tentu tidak semua karya bisa ‘dikupas’ satu persatu, namun keseluruhan karya2 yang dipamerkan dalam format dan tajuk ‘ Circles, Rounds, Spheres’, telah menjadi tantangan berkarya dan pengalaman visual tersendiri. Selain itu sekaligus menjadi sarana untuk memperluas wacana dan produk pengetahuan tentang keberagaman bentuk dan media seni rupa, yang dikenal dengan istilah mandala, enso dan tondo dalam penciptaan karya seni rupa.***
Bekasi, 9 Mei 2026.

Penulis adalah kurator pameran.





























