Ketika Imajinasi Populer Bertemu Kisah Syahid Sepanjang Zaman
_______

Wartatrans.com, KOLOM — Drama pendek What If—serial komedi singkat produksi Dai Bang Studio—mendadak viral di berbagai platform streaming. Salah satu daya tarik utamanya adalah sosok bayi yang mampu berbicara layaknya orang dewasa. Di balik balutan humor dan absurditas, What If diam-diam memantik ingatan pada kisah klasik yang hidup dalam khazanah Islam: kisah Masyitoh, perempuan salehah di istana Fir’aun.
Masyitoh bukan tokoh sembarangan. Ia adalah perempuan biasa yang bekerja di istana megah Fir’aun sebagai penyisir rambut putri raja. Di balik pekerjaannya yang sederhana, ia menyimpan iman yang agung. Di tengah rezim kekuasaan yang memaksa manusia menyembah Fir’aun sebagai “tuhan”, Masyitoh memilih jalan sunyi: menyembah Allah Yang Maha Tinggi, sebagaimana ajaran Nabi Musa AS.
Keimanan itu lama tersembunyi, namun seperti pepatah lama: menyimpan durian, harumnya akan tetap tercium. Keteguhan iman Masyitoh akhirnya diketahui Fir’aun. Sang penguasa yang mengaku tuhan murka besar. Ia tak sekadar marah, tetapi ingin menjadikan Masyitoh contoh betapa mahalnya harga sebuah keyakinan.
Ancaman pun datang: kuali besar berisi air mendidih telah disiapkan. Pada saat genting itulah, Masyitoh menghadapi ujian yang tak terbayangkan—karena ia bukan hanya seorang hamba beriman, tetapi juga seorang ibu. Ia memiliki seorang bayi dalam gendongannya.
Di titik inilah kisah Masyitoh mencapai puncak spiritualnya. Bayi yang digendongnya—atas kehendak Allah—berbicara. Ia meneguhkan hati sang ibu agar tidak gentar menghadapi ancaman Fir’aun, sebab apa yang menantinya bukanlah kebinasaan, melainkan kemuliaan di sisi Tuhan. Suara bayi itu menjadi saksi bahwa iman sejati kerap hadir dalam bentuk yang tak masuk akal bagi logika kekuasaan.
Masyitoh pun tak bergeming. Tanpa rasa takut, ia dan anak-anaknya dicemplungkan ke dalam kuali air mendidih. Mereka wafat sebagai syuhada—bukan hanya korban kekejaman rezim, tetapi pemenang dalam pertarungan iman melawan tirani.
Dalam riwayat yang masyhur, Nabi Muhammad SAW kelak mencium keharuman luar biasa saat peristiwa Isra Mi’raj. Wangi itu berasal dari kuburan Masyitoh dan keluarganya—aroma spiritual dari pengorbanan yang tak lekang oleh waktu.
Di titik inilah What If terasa seperti cermin kultural. Mungkinkah serial tersebut terinspirasi, secara sadar atau tidak, dari kisah Masyitoh? Kita mungkin tak pernah mendapatkan jawaban pasti. Namun sejarah iman kerap menemukan jalannya sendiri untuk hadir kembali, bahkan melalui medium populer yang ringan dan jenaka.
What If boleh jadi hanya sebuah drama pendek. Tetapi kisah Masyitoh adalah “what if” yang telah menjadi nyata:
Bagaimana jika iman tak tunduk pada kekuasaan? Bagaimana jika suara kebenaran justru keluar dari mulut yang paling lemah—seorang bayi?
Jawaban atas pertanyaan itu telah lama diberikan oleh Masyitoh, jauh sebelum kamera, layar, dan platform streaming ada.***
– Duren Sawit, 2025
























