Menu

Mode Gelap
Sambut HUT ke-81, KAI Siapkan Nusantara Explorer untuk Perjalanan Wisata Indonesia Setelah Sukses Menggelar MTQ Nasional XXXI, Pemprov Jateng Lanjut Adakan Borobudur Maraton 2026 SMPN 259 Jakarta Angkat Isu Bullying Lewat Film Pendek Suara di Kepala Bimo Peringatan Maulid Malam ke-39 di Masjid An-Nur: “Belum Jatuh Cinta pada Rasulullah? Maulid Kita Belum Berefek!” KAI Gagalkan Dugaan Pencurian Kabel Bonding di Stasiun Kampung Bandan PELNI Gelar Fleet Safety Excellence Award 2026

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Anthony Robbins Datang, Korupsi Tetap Mengalir. Sampai Kapan, Tuan?

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Anthony Robbins Datang, Korupsi Tetap Mengalir. Sampai Kapan, Tuan? Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Saya berharap kehadiran Anthony Robbins di Jakarta membawa energi positif bagi bangsa ini. Bukan sekadar seminar motivasi atau panggung inspirasi, melainkan semacam pengingat bahwa manusia dan bangsa selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Indonesia membutuhkan itu.

Kita membutuhkan optimisme di tengah berita-berita yang terlalu sering dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan kasus korupsi yang tak kunjung berhenti. Kita membutuhkan aura yang sehat untuk mengaliri ruang publik, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

Namun setiap kali harapan itu muncul, kenyataan sering kali menarik saya kembali pada pertanyaan lama yang belum terjawab.

Saya masih ingat ketika bertahun-tahun lalu berkomunikasi melalui Skype dengan Nazaruddin dan mengikuti berbagai perkembangan kasus yang menyeret Anas Urbaningrum. Saat itu saya berpikir, mungkin Indonesia sedang memasuki fase baru. Mungkin setelah berbagai kasus besar terbongkar, korupsi akan berkurang karena para pelaku mulai takut dan sistem mulai membaik.

Ternyata saya keliru.

Hari-hari yang panjang terus berjalan. Tahun berganti tahun. Pemerintahan berganti pemerintahan. Pejabat datang dan pergi. Namun korupsi tetap mengalir seperti sungai yang tidak pernah benar-benar kering.

Kini publik kembali disuguhi berbagai kasus yang menyita perhatian nasional. Nama-nama baru muncul. Dugaan penyimpangan baru muncul. Mekanisme baru ditemukan. Modus baru terungkap.

Bagi saya, yang paling menyedihkan bukanlah besarnya angka kerugian negara. Yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa korupsi telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari bangsa ini. Ia tidak lagi mengejutkan. Ia seolah menjadi berita rutin.

Ketika masyarakat membaca ada pejabat ditangkap karena gratifikasi, suap, atau penyalahgunaan wewenang, reaksinya sering bukan lagi keterkejutan, melainkan kalimat pendek: “Lagi?”

Di situlah letak bahayanya.

Korupsi bukan hanya merugikan keuangan negara. Korupsi merusak psikologi bangsa. Ia membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Ia membuat generasi muda melihat bahwa integritas sering kali kalah oleh transaksi. Ia membuat orang baik menjadi apatis karena merasa sistem selalu memenangkan mereka yang menyimpang.

Padahal bangsa besar tidak dibangun hanya oleh jalan tol, pelabuhan, bendungan, atau gedung pencakar langit. Bangsa besar dibangun oleh kepercayaan.

Tanpa kepercayaan, semua kemajuan fisik hanya menjadi bangunan tanpa jiwa.

Karena itu saya memandang kehadiran Anthony Robbins secara simbolik. Ia berbicara tentang perubahan pola pikir, disiplin diri, dan kemampuan manusia untuk mengalahkan keterbatasannya. Tetapi untuk Indonesia, tantangannya bukan sekadar perubahan individu. Tantangannya adalah perubahan karakter kolektif.

Kita harus berhenti menganggap korupsi sebagai sesuatu yang biasa. Kita harus berhenti menjadikan koruptor sebagai bagian normal dari kehidupan politik dan birokrasi.

Saya ingin aura bangsa ini diisi oleh prestasi, kreativitas, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi. Bukan oleh daftar panjang tersangka yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Karena itu saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada siapa pun yang memiliki kewenangan, kekuasaan, dan tanggung jawab atas negeri ini:

Sampai kapan, Tuan?

Sampai kapan korupsi terus mengaliri bangsa yang sesungguhnya memiliki begitu banyak potensi untuk menjadi besar?***

Jakarta – 2026

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Sukses Menggelar MTQ Nasional XXXI, Pemprov Jateng Lanjut Adakan Borobudur Maraton 2026

21 September 2026 - 05:11 WIB

Peringatan Maulid Malam ke-39 di Masjid An-Nur: “Belum Jatuh Cinta pada Rasulullah? Maulid Kita Belum Berefek!”

20 September 2026 - 22:02 WIB

Pegayon Angkat Motif Pepir Gayo, Forum Budaya Disiapkan untuk Hidupkan Seni di Kem Seni Antara

20 September 2026 - 15:47 WIB

7Dunia Showcase di Panggung Diskusi FF Horor Edisi IX: Ada Peristiwa Bocah Difabel Rebut Microfon lalu Azan, Bisa Viral Nih!

20 September 2026 - 12:22 WIB

MTQ XXXI Nasional di Semarang Ditutup Secara Meriah, Tahun Depan Diselenggarakan di Jakarta

20 September 2026 - 09:51 WIB

Polres dan Kodim 0102/Pidie Pasang Spanduk Larangan Tambang Ilegal di Geumpang

20 September 2026 - 08:54 WIB

Menjaga Mereka yang Setiap Hari Menjaga Perjalanan: DAMRI Hadirkan Unit Kesehatan Kerja

19 September 2026 - 21:46 WIB

Hari Perhubungan Nasional 2026, DAMRI Raih Penghargaan atas Pengabdian, Inovasi, dan Keselamatan Transportasi

19 September 2026 - 21:24 WIB

Komisi V DPR Tinjau Layanan Pelabuhan Makassar

19 September 2026 - 19:25 WIB

IDSurvey Resmikan Arunika Lounge, Perluas Akses Pasar dan Perkuat Daya Saing UMKM Binaan

19 September 2026 - 19:07 WIB

Trending di EKOBIS