Menu

Mode Gelap
Kirab Budaya Saparan: Kecamatan Borobudur, Wadah Kebudayaan yang Merajut Keutuhan dalam Kebersamaan BUMD Dituntut Ubah Model Bisnis saat Modernisasi 16 Ribu Pasar Rakyat Penerbangan Pelita Air Hadirkan Produk UMKM Binaan Pertamina Betawi Academia Diharapkan Dukung Penerbitan Edisi Kedua Kembang Goyang Partisipasi Warga Capai 90 Persen, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih Pimpin RW 18 Duta Mekar Asri Pemegang Rekor MURI Muda Balia Tampil di Sophie’s Sunset Library 2.0

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Anthony Robbins Datang, Korupsi Tetap Mengalir. Sampai Kapan, Tuan?

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Anthony Robbins Datang, Korupsi Tetap Mengalir. Sampai Kapan, Tuan? Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Saya berharap kehadiran Anthony Robbins di Jakarta membawa energi positif bagi bangsa ini. Bukan sekadar seminar motivasi atau panggung inspirasi, melainkan semacam pengingat bahwa manusia dan bangsa selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Indonesia membutuhkan itu.

Kita membutuhkan optimisme di tengah berita-berita yang terlalu sering dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan kasus korupsi yang tak kunjung berhenti. Kita membutuhkan aura yang sehat untuk mengaliri ruang publik, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

Namun setiap kali harapan itu muncul, kenyataan sering kali menarik saya kembali pada pertanyaan lama yang belum terjawab.

Saya masih ingat ketika bertahun-tahun lalu berkomunikasi melalui Skype dengan Nazaruddin dan mengikuti berbagai perkembangan kasus yang menyeret Anas Urbaningrum. Saat itu saya berpikir, mungkin Indonesia sedang memasuki fase baru. Mungkin setelah berbagai kasus besar terbongkar, korupsi akan berkurang karena para pelaku mulai takut dan sistem mulai membaik.

Ternyata saya keliru.

Hari-hari yang panjang terus berjalan. Tahun berganti tahun. Pemerintahan berganti pemerintahan. Pejabat datang dan pergi. Namun korupsi tetap mengalir seperti sungai yang tidak pernah benar-benar kering.

Kini publik kembali disuguhi berbagai kasus yang menyita perhatian nasional. Nama-nama baru muncul. Dugaan penyimpangan baru muncul. Mekanisme baru ditemukan. Modus baru terungkap.

Bagi saya, yang paling menyedihkan bukanlah besarnya angka kerugian negara. Yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa korupsi telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari bangsa ini. Ia tidak lagi mengejutkan. Ia seolah menjadi berita rutin.

Ketika masyarakat membaca ada pejabat ditangkap karena gratifikasi, suap, atau penyalahgunaan wewenang, reaksinya sering bukan lagi keterkejutan, melainkan kalimat pendek: “Lagi?”

Di situlah letak bahayanya.

Korupsi bukan hanya merugikan keuangan negara. Korupsi merusak psikologi bangsa. Ia membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Ia membuat generasi muda melihat bahwa integritas sering kali kalah oleh transaksi. Ia membuat orang baik menjadi apatis karena merasa sistem selalu memenangkan mereka yang menyimpang.

Padahal bangsa besar tidak dibangun hanya oleh jalan tol, pelabuhan, bendungan, atau gedung pencakar langit. Bangsa besar dibangun oleh kepercayaan.

Tanpa kepercayaan, semua kemajuan fisik hanya menjadi bangunan tanpa jiwa.

Karena itu saya memandang kehadiran Anthony Robbins secara simbolik. Ia berbicara tentang perubahan pola pikir, disiplin diri, dan kemampuan manusia untuk mengalahkan keterbatasannya. Tetapi untuk Indonesia, tantangannya bukan sekadar perubahan individu. Tantangannya adalah perubahan karakter kolektif.

Kita harus berhenti menganggap korupsi sebagai sesuatu yang biasa. Kita harus berhenti menjadikan koruptor sebagai bagian normal dari kehidupan politik dan birokrasi.

Saya ingin aura bangsa ini diisi oleh prestasi, kreativitas, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi. Bukan oleh daftar panjang tersangka yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Karena itu saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada siapa pun yang memiliki kewenangan, kekuasaan, dan tanggung jawab atas negeri ini:

Sampai kapan, Tuan?

Sampai kapan korupsi terus mengaliri bangsa yang sesungguhnya memiliki begitu banyak potensi untuk menjadi besar?***

Jakarta – 2026

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kirab Budaya Saparan: Kecamatan Borobudur, Wadah Kebudayaan yang Merajut Keutuhan dalam Kebersamaan

27 Juli 2026 - 11:09 WIB

Partisipasi Warga Capai 90 Persen, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih Pimpin RW 18 Duta Mekar Asri

27 Juli 2026 - 05:46 WIB

ASDP Kembali Gelar Journalism Award 2026

26 Juli 2026 - 12:59 WIB

Unjuk Rasa, Unjuk Karya: Seniman Perjuangkan TIM sebagai Ruang Sejarah dan Peradaban

26 Juli 2026 - 10:09 WIB

YPAI dan SKN Gelar Deklarasi Perdamaian Pemuda Lintas Agama di Lenteng Agung

25 Juli 2026 - 23:54 WIB

Puluhan Rumah di Kampung Adat Cipta Mulya Sukabumi Ludes Terbakar, 70 KK Terdampak

25 Juli 2026 - 22:31 WIB

Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Hadapi Bencana

25 Juli 2026 - 22:23 WIB

MK Larang Kuota Data Selular Hangus

25 Juli 2026 - 18:40 WIB

Ketika Dua Tokoh Pembangun Jembatan Gayo Bertemu

25 Juli 2026 - 17:26 WIB

Santuni 20 Anak Yatim dan Sedekah Al-Quran, Program Jumat Berkah Wartawan Kunjungi Yayasan Rumah Ceria di Kota Serang Banten

25 Juli 2026 - 16:53 WIB

Trending di RAGAM