Menu

Mode Gelap
Sambut HUT ke-81, KAI Siapkan Nusantara Explorer untuk Perjalanan Wisata Indonesia Setelah Sukses Menggelar MTQ Nasional XXXI, Pemprov Jateng Lanjut Adakan Borobudur Maraton 2026 SMPN 259 Jakarta Angkat Isu Bullying Lewat Film Pendek Suara di Kepala Bimo Peringatan Maulid Malam ke-39 di Masjid An-Nur: “Belum Jatuh Cinta pada Rasulullah? Maulid Kita Belum Berefek!” KAI Gagalkan Dugaan Pencurian Kabel Bonding di Stasiun Kampung Bandan PELNI Gelar Fleet Safety Excellence Award 2026

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Menjadi Pengusaha Kudu Punya Produk

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Menjadi Pengusaha Kudu Punya Produk Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada satu nalar yang sejak lama mengusik pikiran saya. Banyak orang bercita-cita menjadi ASN, birokrat, masuk BUMN, bahkan menjadi anggota DPR atau DPD. Tentu tidak semuanya demikian, tetapi dalam praktiknya sering muncul persepsi bahwa jalur-jalur tersebut dianggap sebagai pintu menuju kekuasaan, akses, dan peluang yang berdekatan dengan kolusi maupun korupsi.

Di sisi lain, dalam berbagai organisasi pengusaha seperti HIPMI maupun KADIN, tidak sedikit pelaku usaha yang menggantungkan bisnisnya pada proyek pemerintah dan tender-tender negara. Seolah menjadi pengusaha bukan lagi tentang menciptakan nilai, melainkan tentang mendapatkan akses.

Saya teringat tahun 1991 ketika mendapat motivasi untuk bergabung dengan HIPMI dari Bambang Yogasoegama bersama Anton Riyanto dari Ritra Cargo. Saat itu saya memiliki pandangan yang mungkin dianggap berbeda.

Saya berteriak lantang:

“Kalau mau jadi pengusaha, kudu punya produk. Masuk pasar!”

Bagi saya, inti kewirausahaan adalah menciptakan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat. Produk itulah yang harus diperjuangkan agar diterima pasar. Keuntungan datang dari nilai yang diciptakan, bukan dari kedekatan dengan kekuasaan.

Namun pandangan itu rupanya dianggap terlalu idealis oleh sebagian kawan. Salah seorang teman seangkatan yang kini memiliki kekayaan hingga triliunan rupiah pernah berkomentar kepada saya:

“Narlis, lo terlalu idealis.”

Mungkin benar. Tetapi hingga hari ini saya tetap meyakini bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang menghasilkan produk, inovasi, dan karya yang mampu bersaing di pasar.

Saat itu saya banyak memperhatikan bagaimana pemerintah Tiongkok mendorong rakyatnya untuk memproduksi barang dan membangun industri. Kekayaan didorong lahir dari proses produksi dan perdagangan. Masyarakat dimotivasi untuk menciptakan nilai tambah, bukan sekadar menjadi perantara atau pemburu rente.

Saya sering bercanda, lebih baik kaya karena berhasil menjual produk ke pasar dunia daripada membeli mobil mewah hanya karena sukses menjadi makelar proyek.

Semalam saya kembali bertemu dengan Bambang Yogasoegama. Sebagai pebisnis, beliau juga mengalami pasang surut usaha. Ada masa jatuh, ada masa bangkit. Namun satu hal yang saya amati tidak pernah berubah: konsistensinya dalam membangun dan memasarkan produk.

Dari pertemuan itu saya kembali diingatkan bahwa esensi kewirausahaan bukanlah berburu kedekatan dengan kekuasaan, melainkan keberanian menciptakan sesuatu yang bernilai dan memperjuangkannya hingga diterima pasar.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan menjadi besar hanya karena banyaknya proyek yang dibagikan. Bangsa menjadi besar ketika semakin banyak warganya mampu menghasilkan produk, membuka pasar, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian ekonomi.

Dan bagi saya, prinsip itu masih sama sejak 1991 hingga hari ini: Pengusaha sejati kudu punya produk, lalu masuk pasar.***

Jakarta 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Sukses Menggelar MTQ Nasional XXXI, Pemprov Jateng Lanjut Adakan Borobudur Maraton 2026

21 September 2026 - 05:11 WIB

Peringatan Maulid Malam ke-39 di Masjid An-Nur: “Belum Jatuh Cinta pada Rasulullah? Maulid Kita Belum Berefek!”

20 September 2026 - 22:02 WIB

Pegayon Angkat Motif Pepir Gayo, Forum Budaya Disiapkan untuk Hidupkan Seni di Kem Seni Antara

20 September 2026 - 15:47 WIB

7Dunia Showcase di Panggung Diskusi FF Horor Edisi IX: Ada Peristiwa Bocah Difabel Rebut Microfon lalu Azan, Bisa Viral Nih!

20 September 2026 - 12:22 WIB

MTQ XXXI Nasional di Semarang Ditutup Secara Meriah, Tahun Depan Diselenggarakan di Jakarta

20 September 2026 - 09:51 WIB

Polres dan Kodim 0102/Pidie Pasang Spanduk Larangan Tambang Ilegal di Geumpang

20 September 2026 - 08:54 WIB

Menjaga Mereka yang Setiap Hari Menjaga Perjalanan: DAMRI Hadirkan Unit Kesehatan Kerja

19 September 2026 - 21:46 WIB

Hari Perhubungan Nasional 2026, DAMRI Raih Penghargaan atas Pengabdian, Inovasi, dan Keselamatan Transportasi

19 September 2026 - 21:24 WIB

Komisi V DPR Tinjau Layanan Pelabuhan Makassar

19 September 2026 - 19:25 WIB

IDSurvey Resmikan Arunika Lounge, Perluas Akses Pasar dan Perkuat Daya Saing UMKM Binaan

19 September 2026 - 19:07 WIB

Trending di EKOBIS