Menu

Mode Gelap
Kirab Budaya Saparan: Kecamatan Borobudur, Wadah Kebudayaan yang Merajut Keutuhan dalam Kebersamaan BUMD Dituntut Ubah Model Bisnis saat Modernisasi 16 Ribu Pasar Rakyat Penerbangan Pelita Air Hadirkan Produk UMKM Binaan Pertamina Betawi Academia Diharapkan Dukung Penerbitan Edisi Kedua Kembang Goyang Partisipasi Warga Capai 90 Persen, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih Pimpin RW 18 Duta Mekar Asri Pemegang Rekor MURI Muda Balia Tampil di Sophie’s Sunset Library 2.0

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Silaturahim, Kolaborasi, dan Mimpi Besar di Era Digital

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Silaturahim, Kolaborasi, dan Mimpi Besar di Era Digital Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Kemarin petang saya berkesempatan bersilaturahim bersama Pak Mistam, Direktur Program RRI, Kak Agung—kakak kelas saya di SMA 3 Jakarta—serta Bung Arif, alumni Inggris dan Australia. Kami bertemu dengan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Bapak Joseph Daud, sosok muda enerjik yang akrab disapa Joss.

Waktu satu setengah jam yang kami miliki terasa begitu singkat. Banyak gagasan, pengalaman, dan peluang kolaborasi yang mengalir dalam suasana hangat dan penuh semangat. Fokus utama pembicaraan kami adalah program besar yang sedang dipersiapkan, yakni Program 1 Juta Content Creator Bersertifikat yang rencananya akan diluncurkan pada minggu keempat Juni melalui RRI.

Bagi saya, program ini bukan sekadar pelatihan atau sertifikasi. Ini adalah langkah strategis untuk mempersiapkan generasi Indonesia agar mampu menjadi pelaku utama dalam ekosistem digital yang terus berkembang. Di era ketika informasi bergerak begitu cepat, kehadiran para kreator konten yang berkualitas, beretika, dan memiliki kompetensi yang terukur menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Di sela pembahasan tersebut, saya juga menyampaikan sebuah gagasan yang telah lama terlintas dalam pikiran, yakni digitalisasi seluruh perangko Indonesia. Menurut saya, perangko bukan sekadar alat pengiriman surat, melainkan bagian penting dari sejarah, budaya, dan perjalanan bangsa. Akan sangat menarik jika seluruh koleksi perangko Indonesia dapat didigitalisasi dan dikemas dalam sebuah aplikasi modern yang dapat diakses generasi muda.

Bahkan, saya mengusulkan pengembangan aplikasi permainan filateli yang edukatif dan menyenangkan. Melalui pendekatan digital, dunia filateli dapat diperkenalkan kembali kepada generasi baru dengan cara yang lebih relevan dan menarik. Menanggapi ide tersebut, Pak Joss langsung berpesan kepada sekretarisnya, Bu Melany, agar saya dilibatkan apabila ada pertemuan dengan komunitas filateli Indonesia di masa mendatang.

Percakapan kami ternyata tidak berhenti pada dunia digital dan filateli. Saya juga menemukan bahwa Pak Joss memiliki pemahaman yang cukup mendalam mengenai industri kelapa sawit dan CPO, terutama pada aspek logistik. Diskusi pun berkembang ke berbagai kemungkinan inovasi yang dapat mendukung sektor tersebut.

Pada kesempatan itu saya menyampaikan bahwa Indonesia memiliki para inventor yang luar biasa. Salah satunya adalah penemu teknologi yang mampu mengoptimalkan kadar asam pada CPO sehingga berpotensi memberikan nilai tambah bagi industri sawit nasional. Saya pun berjanji untuk mempertemukan beliau dengan inventor tersebut agar gagasan besar tidak berhenti sebagai wacana, melainkan dapat diwujudkan menjadi solusi nyata.

Dari pertemuan ini saya kembali belajar bahwa silaturahim selalu membuka pintu-pintu baru. Sering kali kita datang dengan satu agenda, tetapi pulang membawa banyak inspirasi, pengetahuan, dan peluang kerja sama yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Pada akhirnya, kemajuan tidak mungkin dibangun sendirian. Kolaborasi adalah kata kunci. Ketika berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda bersedia duduk bersama, berbagi gagasan, dan saling mendukung, maka harapan untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik menjadi semakin nyata.

Terima kasih atas waktu dan sambutannya, Pak Joss. Semoga silaturahim ini menjadi awal dari berbagai kerja sama yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Salam kolaborasi untuk Indonesia yang lebih maju.Artikel ini sudah disusun dalam format catatan/opini personal yang lebih mengalir dan layak dimuat di media atau dijadikan bagian dari buku kumpulan catatan.***

Jakarta 2026.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kirab Budaya Saparan: Kecamatan Borobudur, Wadah Kebudayaan yang Merajut Keutuhan dalam Kebersamaan

27 Juli 2026 - 11:09 WIB

Partisipasi Warga Capai 90 Persen, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih Pimpin RW 18 Duta Mekar Asri

27 Juli 2026 - 05:46 WIB

ASDP Kembali Gelar Journalism Award 2026

26 Juli 2026 - 12:59 WIB

Unjuk Rasa, Unjuk Karya: Seniman Perjuangkan TIM sebagai Ruang Sejarah dan Peradaban

26 Juli 2026 - 10:09 WIB

YPAI dan SKN Gelar Deklarasi Perdamaian Pemuda Lintas Agama di Lenteng Agung

25 Juli 2026 - 23:54 WIB

Puluhan Rumah di Kampung Adat Cipta Mulya Sukabumi Ludes Terbakar, 70 KK Terdampak

25 Juli 2026 - 22:31 WIB

Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Hadapi Bencana

25 Juli 2026 - 22:23 WIB

MK Larang Kuota Data Selular Hangus

25 Juli 2026 - 18:40 WIB

Ketika Dua Tokoh Pembangun Jembatan Gayo Bertemu

25 Juli 2026 - 17:26 WIB

Santuni 20 Anak Yatim dan Sedekah Al-Quran, Program Jumat Berkah Wartawan Kunjungi Yayasan Rumah Ceria di Kota Serang Banten

25 Juli 2026 - 16:53 WIB

Trending di RAGAM